Darah terus keluar menciptakan sensasi hangat di bagian kulit. Jejak merah sudah mengotori ranjang dan lantai yang menjadi bekas pijakan Elio berjalan. Semua orang menatap ngeri wajah yang penuh luka dan lebam. Pun masih ditambah bekas tembakan. Namun, Elio justru masih memasang wajah datar seakan sakit di sekujur tubuhnya tidak terasa. "Elio!" Suara Henry terdengar dari arah pintu kamar. Elio menoleh, lalu tersenyum sekilas. "Hmm." Henry lantas berdiri di sebelah dokter paruh baya yang sudah sering menjadi dokter panggilan di rumah ini. Wajahnya panik, dasi sudah terlepas dari kemeja yang sudah tidak rapi, serta tangan kanan yang masih menenteng jas yang baru dia lepas. Dokter sedang melakukan anestesi pada kaki kanan Elio. Letak peluru cukup dalam. Kali ini, tindakan pembedahan juga

