Jantung Elio terasa seperti berhenti. Wajah yang selama ini sangat dia rindukan, aroma tubuh yang selalu dia cari tiap malam, sentuhan lembut yang tidak pernah bisa dia lupakan, dan mata abu-abu yang menatap dengan sorot sayang. Sascha. Istri yang beberapa hari ini dia cari. Kini ada di hadapannya. "Sha," lirih Elio. Mereka saling tatap selama sekian detik. Walau masih tidak mengatakan apa-apa, kedua mata Sascha sudah berbicara banyak. Ada manik yang berkaca seperti sedang menggambarkan kekhawatiran ketika meneliti tiap inchi luka dan lebam di wajah Elio. Ada juga sorot rindu yang sama besar seperti kerinduan yang Elio miliki. Pun dengan tatapan sayang yang untungnya masih belum berubah hingga sekarang. Telapak tangan Sascha perlahan mendarat di pelipis Elio. Dia mengusap pelan bekas b

