KH Abdullah Syafi'i, Singa Podium Jakarta
Ulama yang satu ini terbilang unik, selain kemampuan dialektikanya sehingga dijuluki Sang Singa Podium, ia juga seorang organisatoris nan ulung dan manajerial yang mumpuni. Ia memiliki kemampuan berorganisasi, mengelola kegiatan, hingga membangun komunikasi dengan kawan hingga lawan, hingga diakui dan disegani, terutama oleh lawan-lawannya yang berbeda pemahaman dengannya. Hingga klop-lah antara kemampuan behavioristik dan kinestetik, yang jarang dimiliki orang dalam pandangan ilmu Psikologi.
K.H. Abdullah Syafi’i lahir di Kampung Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan, pada 16 Sya'ban 1329 H, bertepatan dengan 10 Agustus 1910. Nama kecilnya, Abdullah, adalah nama yang dipilih kedua orangtua Haji Syafi’i bin Sairan dan Nona binti Sa'ari.
Ayahandanya memiliki usaha sebagai pedagang buah-buahan yang memiliki pangkalan di Pasar Manggarai Jakarta Selatan. Sebagai Pengusaha buah-buahan, ayahnya di antaranya memperoleh pasokan buah mangga dari Indramayu lalu disalurkan secara grosiran di sejumlah pasar Jakarta. Sedangkan ibunya, selain memiliki usaha dagang juga memiliki keterampilan membuat kecap untuk dipasarkan dari rumah ke rumah. Dari pasangan suami istri itulah lahir K.H. Abdullah Syafi’i dan dua orang saudara perempuannya, yaitu Ruqoyah dan Aminah.
Sebagai anak laki-laki pertama dan satu-satunya dalam keluarga, Abdullah muda mendapatkan perhatian penuh dari ayahandanya, terutama terkait cita-citanya menjadi pendakwah. Pada usia 13 tahun, Abdullah kecil melaksanakan ibadah haji ke Makkah bersama orang tuanya. Selanjutnya pada tahun 1928, saat berusia 18 tahun ia menikah dengan Siti Rogayah binti K.H. Achmad Mukhtar, seorang wanita terpelajar dan pernah menjadi pembaca Al-Qur’an di Istana Negara di hadapan Presiden Soekarno pada tahun 1949. Dari pernikahannya ini, K.H. Abdullah Syafi’i memiliki lima orang anak yang bernama Muhibbah, Tuty Alawiyah, Abdur Rasyid, Abdul Hakim dan Ida Farida.
Pada tahun 1951, Siti Rogayah, isteri K.H. Abdullah Syafi’i meninggal dunia. Kemudian pada tahun 1958, putrinya yang tertua, Muhibbah juga dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Terdorong oleh kebutuhan teman pendamping dalam rangka memperjuangkan cita-citanya untuk memajukan masyarakat, maka atas restu dari keluarganya, ia menikah lagi dengan seorang gadis yang bernama Salamah. Dari perkawinan yang kedua ini, ia dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu Mohammad Surur, Syarif Abdullah, Mohammad Zaki, Elok Khumaira, Ainul Yaqin, Syafi’i Abdullah, Nufzatul Tsaniyah, Muhammad, Thuhfah, dan Laila Sakinah.
Nama ayahnya, Syafi’i, yang kemudian melekat dalam deret namanya itulah yang kemudian dikenal masyarakat luas. Dan dengan cinta serta bakti kepada ayahandanya, dinamakanlah pula nama institusi perguruannya dengan menisbahkan kepada nama ayahnya yang juga langkah tabarruk kepada Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Perguruan As-Syafi’iyah yang ternama itu.
Silsilah Dzahabiyah Ilmu
K.H. Abdullah Syafi’i di masa belianya bercita-cita ingin menjadi ahli pidato dan juru da’wah. Pendidikan formalnya hanya ditempuh hingga kelas 2 SR (Sekolah Rakyat) di SR Laan Meni Jatinegara Jakarta Timur. Karena dianggapnya lamban untuk menyalurkan bakat dan kecintaannya pada ilmu agama, ia memutuskan untuk berhenti sekolah formal setelah berunding dengan ayah dan ibunya. Untuk mewujudkan cita-citanya ditambah dorongan dan dukungan ayahandanya yang hanya berprofesi sebagai pedagang buah-buahan, Abdullah muda mulazamah belajar kepada ulama-ulama besar baik di Jakarta maupun Jawa Barat. Ayahnya yang begitu perhatian terhadap perkembangan fisik dan mental anaknya, menyokongnya dengan memberi fasilitas sepeda onthel yang tergolong mahal di masa itu. Begitu juga dengan pakaian yang terbaik agar rapi serta selalu memberi penghargaan bagi para guru Abdullah Syafi’i dengan bayaran berkali lipat sebagai bentuk cinta dan hormat bagi para gurunya tersebut.
Di antara guru-guru Abdullah muda ialah Kyai Jauhari bin Sulaiman Tebet, Mu’allim Mushanif Menteng Atas, Guru Marzuqi Cipinang Muara, Guru Majid Gondangdia, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Mahmud Romli, Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang, Habib Ali bin Husein Alatas Bungur, Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan, dan Habib Alwi bin Thahir al-Haddad Empang Bogor.
Di masa awal, seperti tradisi mengaji anak-anak Betawi, Abdullah Syafi’i muda mengaji kepada Mu’alim Mushanif. Abdullah muda mendaras ilmu Nahwu kepada gurunya ini. Selain mendalami ilmu alat bahasa Arab itu, Abdullah Syafi’i juga belajar ilmu al-Qur’an seperti Tajwid dan makharijul huruf.
Kepada Guru Majid, Abdullah Syafi’i muda mendalami fiqih. Ulama besar Betawi ini lahir tahun 1887 di Pekojan, Jakarta Barat dan wafat pada 27 Juni 1947 dalam usia 60 tahun. Ia dimakamkan di sekitar Masjid Al-Musari’in, kampung Basmol, Kembangan Utara, Jakarta Barat.
Kiai Haji Abdul Majid adalah ulama Betawi yang terkenal dengan panggilan Guru Majid. Ia termasuk dari “enam pendekar” ulama Betawi yang terdiri atas ulama-ulama terkemuka yang berhasil melebarkan pengaruh mereka ke seantero tanah Batavia. Jaringan keulamaan yang dikembangkan “enam pendekar” itu kelak merupakan salah satu pilar kekuatan mereka sebagai kelompok elite yang diakui masyarakat. Selain Guru Majid, kelima “pendekar” ulama Betawi itu adalah K.H. Mohammad Mansur (Guru Mansur) dari Jembatan Lima, K.H. Ahmad Kholid dari Gondangdia, K.H. Mahmud Romli (Guru Mahmud) dari Menteng Dalam, K.H. Ahmad Marzuqi (Guru Marzuqi) dari Klender, dan K.H. Abdul Mughni (Guru Mughni) dari Kuningan, Jakarta Selatan.
Abdullah Syafi’i muda juga memiliki kesempatan emas yang digunakan sebaik-baiknya dengan berguru dengan salah satu ulama besar Betawi lainnya, Guru Marzuqi. Kepada Guru Marzuqi, ia menekankan konsentrasinya di bidang fiqh dan secara tekun mengaji hingga wafatnya sang guru. Guru Marzuqi bin Mirshod lahir pada malam Ahad waktu Isya tanggal 16 Ramadhan 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Adapun wafatnya pada pagi hari Jum’at, 25 Rajab 1352 H, jam 06.15 WIB. Jenazah beliau dishalatkan dan diimami Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang.
Kepada Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir al-Haddad, Abdullah Syafi’i mendalami bidang tasawuf, tafsir, dan ilmu pidato. Sang guru dilahirkan di kota Geidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H. Sanad keturunan beliau sambung-menyambung dari ayah yang seorang waliyullah sampai kepada kakek yang juga wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebagaimana kebanyakan para Saadah Bani Alawi, beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya sendiri Al-Habib Muhammad bin Thohir bin Umar Alhaddad.
Kakek beliau Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Sedangkan ayah beliau adalah seorang Wali min Auliya-illah dan ulama besar yang hijrah dari kota Geidun, Hadramaut ke Indonesia dan menetap di kota Tegal. Beliau Al-Habib Thohir banyak membaca buku dibawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli Hadits dan ahli tafsir.
Di Indonesia, beliau memilih untuk menetap di kota Bogor. Di sana beliau berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli Hadits. Di kota Bogor beliau banyak mengadakan majlis-majlis taklim, berdakwah dan mengajarkan ilmu-ilmu keislaman. Sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Allah menuju ke haribaan-Nya. Beliau wafat di kota Bogor tahun 1373 H dan dimakamkan di Empang, Bogor.
Begitu juga kepada Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan di Jatinegara, Abdullah Syafi’i mengaji dalam bidang ilmu Hadits. Al-Habib Salim, merupakan ulama besar kalangan habaib kelahiran Surabaya 18 Rajab 1324 H atau 7 September 1906 M. Ulama yang dijuluki “Gudang Ilmu” pada zamannya ini merupakan murid Syaikhuna Kholil bin Abdul Mutolib yang masyhur dengan sebutan Mbah Kholil Bangkalan. Al-Habib Salim juga berguru dan mengambil sanad ilmu kepada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Makkah, Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad Empang Bogor, al-Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad Tegal dan al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik. Kedua habib terakhir ini adalah guru yang paling berkesan di hati beliau. Salah satu guru beliau yang lain adalah al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi Surabaya yang di hadapannya lebih dari 200 kitab beliau baca dan kaji. Masih banyak lagu guru beliau, lebih dari 400 ulama dunia dan 200 ulama Nusantara diambil ilmu dan sanadnya oleh beliau.
Kesungguhan dan kecintaan Habib Salim dan Jindan terhadap ilmu dibuktikan juga dengan koleksi kitabnya dalam perpustakaan pribadi yang berjumlah sekitar 15.000 kitab, terdiri dari kitab mu’tabarah (Pedoman/pegangan) maupun kitab-kitab langka. Beliau juga mengarang sekitar 100 kitab dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang sejarah dengan judul Kitab I’laam Ahli Ar Rusukh Bi Anbaa’I A’laam Asy Syuyukh sejumlah 4 jilid; Kitab Ithaaf An Nabiil Bi Akhbaar Man Bi Jazair Al Arakhbiil 2 Jilid, I’laam Al Baraaya Bi A’laam Indunusia 3 jilid; Muluk Al Alawiyyin Fi Asy Syarqil Aqsha 2 jilid; Tarikh Dukhul Islam Ila Jazair Indunusia membahas tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara dan tentang kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, serta tentang sejarah dan biografi tokoh-tokoh Nusantara. Siapa pun yang membaca kitab-kitab beliau akan tumbuh rasa nasionalis dan cinta Tanah Air yang luar biasa.
Beliau juga menulis kitab dalam bidang Hadits. Terdapat lebih dari 50 judul kitab besar, salah satunya adalah Kitab Raudhah al-Wildan terdiri dari 8 jilid besar yang berisi Hadits-Hadits Nabi Muhammad SAW. Beliau juga terkenal sebagai ulama ahli nasab. Beliau menulis puluhan kitab tentang nasab. Antara lain Kitab Mu’jam Al Awadim 16 jilid, yang mana jilid 1 saja sudah 1200 halaman; dan Kitab Ad Durr wa Al Yaquut 7 Jilid. Kealiman beliau tidak hanya masyhur di Indonesia, tapi juga terkenal di seluruh dunia. Bahkan ulama dunia yang juga guru beliau Muhaddits al-Hijaaz Al 'Allamah Asy Syaikh Umar bin Hamdan al-Mahrasi al-Jazairi. Dalam naskah ijazah beliau kepada Al Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Syaikh Umar menulis, "Sesungguhnya aku telah memberikan ijazahku untuk As Sayyid yang sempurna Salim bin Ahmad bin Jindan."
Salah seorang guru utama bagi Kiai Abdullah Syafi’i lainnya ialah Guru Mansur Jembatan Lima dalam bidang ilmu Falak. Nama lengkap Guru Mansur adalah Muhammad Mansur bin Abdul Hamid bin Damiri bin Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya (Mataram, Jawa). Ia dilahirkan di Kampung Sawah Jembatan Lima, Jakarta pada tahun 1878 H dan wafat pada hari Jumat sore, 2 Shafar tahun 1387 H bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967. Ia dimakamkan di halaman depan Masjid Al-Mansur.
Guru pertama yang mengajar Guru Mansur dalam menuntut ilmu adalah bapaknya sendiri, KH Abdul Hamid. Setelah bapaknya meninggal, ia mengaji kepada kakak kandungnya, KH Mahbub bin Abdul Hamid, kakak misannya yang bernama KH Thabrani bin Abdul Mughni, dan juga kepada Syekh Mujtaba Mesteer (Guru Taba).
Di masa mudanya, guru Mansur sudah sangat tertarik sekali dengan ilmu falak. Setelah menginjak usia remaja, pada usia 16 tahun, tepatnya pada tahun 1894 M, ia bersama ibunya pergi ke Makkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji. Ia bermukim di Makkah selama empat tahun. Selama bermukim di Makkah, ia berguru kepada sejumlah ulama, antara lain Syaikh Mukhtar Atharid Al-Buguri, Syaikh Umar Bajunaid Al-Hadrami, Syakh Ali Al-Maliki, Syaikh Said Al-Yamani, dan Syaikh Mujtaba Mesteer yang saat itu sedang mukim di Makkah. Untuk ilmu falak, beliau belajar kepada Syaikh Abdurrahman Al-Mishri (kakek Habib Usman Mufti Betawi dari pihak ibu).
Dari guru-gurunya itu, Guru Mansur mempelajari ilmu qira’atul Quran, tajwid, nahwu, sharaf, tauhid, fiqih, ushul fiqih, tafsir, Hadits, faraid, mantiq, bayan, falak, dan lain-lain. Di Makkah, selain belajar, Guru Mansur juga diangkat menjadi katib atau sekretaris pribadi gurunya, Syaikh Umar Sumbawa, karena ia dianggap cukup cakap, cerdas, dan memiliki tulisan yang indah dan rapi.
Salah satu guru yang juga tak dapat dilupakan Kiai Abdullah Syafi’i ialah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang, yang mengajarkannya bidang Fiqh, tashawuf, dan pidato. Saat belajar kepada Habib Ali Kwitang, ia bersama K.H. Fathullah Harun dan K.H. Tohir Rohili dipersaudarakan oleh Habib Ali dengan putranya, Habib Muhammad Al-Habsyi. Berkah dari persaudaraan ini juga, membawa ketiga pemuda Betawi ini menjadi ulama ternama. Dari K.H. Abdullah Syafi’i dan K.H. Tohir Rohili berdiri dan berkembang pesat majelis taklim As-Syafi’iyah dan Ath-Thohiriyah. Sedangkan K.H. Fathullah Harun menjadi Ulama Betawi terkenal di Malaysia dan menjadi Imam Besar di Masjid Negara Kuala Lumpur.
Melihat akan nama-nama gurunya dalam silsilah keilmuan, maka inilah yang disebut dengan silsilah dzahabiyah ‘ilmiyah (mata rantai keemasan pada keilmuan) yang bersambung dalam sosok K.H. Abdullah Syafi’i, yang termasuk jarang diperoleh kebanyakan pelajar ilmu agama di masa itu, apalagi di masa kini. Berkah dari silsilah keilmuan ini pula-lah yang membuatnya menyibukkan masa mudanya dengan ilmu; belajar dan mengajar. Dan tanda keberkahan ilmu itu tampak pada usaha-usahanya yang gigih menghadirkan kemaslahatan yang luas bagi umat Islam di Tanah Betawi kala itu.
K.H. Abdullah Syafi’i yang sehari-harinya dipanggil dengan nama Haji Dulloh, sebenarnya juga memiliki bakat berdagang sebagaimana orang tuanya. Ketika menuntut ilmu agama di berbagai daerah, Duloh muda sembari berdagang barang-barang keperluan masyarakat, seperti kain batik dan songkok. Ia dikenal sebagai pelajar sekaligus guru muda yang energik. Berbagai kegiatan tak ia lalaikan, mulai dari memberikan ceramah pengajian di beberapa majlis ta’lim, mendirikan dan mengelola pendidikan agama yang kemudian berkembang secara luas, tanpa meninggalkan keahliannya dalam bidang perdagangan.
K.H. Abdullah Syafi’i terbilang istimewa. Di masa awal karir dakwahnya, setiap kali bertabligh dia selalu membawa dagangan, mulai dari songkok sampai baju koko. Prinsipnya, dakwah harus jalan terus tapi keluarga perlu dinafkahi antara lain dengan berdagang.
K.H. Abdullah Syafi’i tidak sekedar memikirkan aktivitas agama, karena ia sadar saat itu menggantungkan penghidupan sebagai seorang guru agama saja tidak mencukupi. K.H. Abdullah Syafi’i pun membuka usaha konveksi, di mana pegawainya adalah anak-anaknya sendiri dan masyarakat di lingkungan kampung Bali Matraman Jakarta Selatan.
Berdakwah sambil mencari nafkah dengan berdagang seperti yang dilakukan K.H. Abdullah Syafi’i ternyata punya hikmah tersendiri. Misalnya, menumbuhkan simpati dari jama’ah. Akibatnya, pertama, dagangannya laris sebab boleh jadi para pembelinya punya asumsi bahwa muamalat mereka pasti halal dan berkah. Kedua, donatur berdatangan. Mereka percaya dengan sikap amanah Kiai Abdullah Syafi’i yang tengah merintis amanah Baginda Nabi SAW dalam pendidikan dan pengajaran umat.
Namun betapapun usaha dagang yang dijalaninya terbilang sukses, tak sedikitpun menggoyahkan niat dan langkahnya untuk menjadi seorang guru, pendidik, dan ulama yang dikenal kealimannya.
K.H. Abdullah Syafi’i, sang Singa Podium panutan umat yang penuh kharisma, berpulang ke rahmatullah saat menuju RS Islam Cempaka Putih dari kediamannya, pada hari Selasa, jam 00.40 WIB, tanggal 3 September 1985/18 Dzulhijjah 1405 H dalam usia 75 tahun. Kabar wafatnya disiarkan lewat Radio Islam As-Syafi’iyah. Ayat suci Al-Qur’an, bacaan tahlil diselingi berita duka cita kemangkatan beliau menggema di setiap rumah yang tengah menyetel siaran radio tersebut. Ribuan mata melelehkan air matanya, baik yang hadir untuk bertakziah maupun yang hanya mampu mendengar radio dari rumah.
Dari rumah duka di Kampung Bali Matraman, jenazah almarhum dishalatkan ribuan muslimin di masjid al-Barkah Bali Matraman lalu dihantarkan ke peristirahatan terakhir di Pesantren As-Syafi’iyah, Jatiwaringin. Mesin mobil pembawa jenazah dimatikan karena ribuan pelayat yang berdesakan saling berebutan mendorong mobil jenazah sejauh 17 Km.
Ucapan belasungkawa disampaikan oleh sejumlah kalangan baik ulama maupun umara, bahkan Presiden Soeharto serta para menteri dan pejabat setingkat menteri. MUI Pusat pun mengajak seluruh kaum muslimin untuk melakukan Shalat Ghaib sebagai penghormatan terakhir untuknya.
Lebih kurang ada lima surat kabar Nasional dan Kantor Berita Antara yang mengungkapkan berita kemangkatannya dan mengulas sejarah hidupnya. Harian Sinar Harapan memuat judul: “Ulama Besar K.H. Abdullah Syafi’i Meninggal Dunia Selasa Dini Hari”. Harian Pos Kota memuat judul headline-nya: “Kita Kehilangan Ulama Besar K.H. Abdullah Syafi’i Tutup Usia”. Harian Suara Karya mengambil judul: “Ulama Besar K.H. Abdullah Syafi’i Telah Tiada”. Harian Pikiran Rakyat memberi judul: “K.H. AbdullahSyafi’i Tutup Usia”. Harian terbesar di Tanah Air, Kompas, memberi judul: “Ulama Besar K.H. Abdullah Syafi’i Telah Tiada”. Harian Pelita mengambil judul: “K.H. Abdullah Syafi’i Berpulang ke Rahmatullah”. Dan Harian Widuarta Berita Nusantara memilih judul “Ulama Besar K.H. Abdullah Syafi’i”.
Popularitas dan kharisma K.H. Abdullah Syafi’i tidak diragukan lagi, berkat peran dan jasanya bagi umat Islam, khususnya di Jakarta. Namanya lekat dalam siaran dakwah di berbagai tempat, termasuk di Majelis Taklim As-Syafi’iyah yang berlangsung setiap hari Ahad dan mengudara di Stasiun Radio kebanggaan umat.
Dialah satu-satunya kiyai yang mampu menggugah hati masyarakat untuk larut dalam wejangannya. Banyak masyarakat awam hingga ulama, yang mengucurkan air mata ketika ia berceramah tentang alam kubur.
Di antara tokoh ulama yang telah menempatkannya sebagai ulama Betawi yang terkemuka dan sangat layak untuk selalu dikenang ialah para muridnya yang juga menjadi ulama Betawi terkemuka di kemudian hari, yakni di antaranya K.H. Abdul Rosyid Ramli (Pendiri dan Pengasuh Yayasan Ar-Rasyidiyyah, Tugu Selatan, Jakarta Utara), K.H. Fachruddin Masturo (Pendiri dan Pengasuh pondook pesantren Al-Masturiyah, Tipar Sukabumi), K.H. Ma’ruf (Imam Besar Masjid Istiqlal), Abuya K.H. Drs. Saifuddin Amsir MA (ulama besar Jakarta, Dosen UIN Jakarta, dan Pendiri sekaligus Pengasuh Zawiyah Jakarta dan Yayasan Shibghatullah Jakarta), K.H. Rahmat Abdullah (Pendiri PKS), K.H. Abdurrahman Nawi Tebet, (Pendiri Perguruan Al-Awwabin), K.H. A. Syanwani (Tanah Sereal, Bogor), dan tentunya Putra dan putrinya; K.H. Abdul Rasyid dan Dr. Hj. Tuti Alawiyah yang melanjutkan estafet perjuangan dan dakwahnya.
Atas jasa-jasanya bagi umat Islam dan dunia pendidikan, Pemerintah di masa kepemimpinan Presiden Megawati menganugerahkan K.H. Abdullah Syafi’i Bintang Maha Putera Utama. Di samping itu, namanya juga diabadikan bagi jalan yang membentang wilayah Tebet Jakarta Selatan hingga kini.
Sejumlah tokoh diminta pandangannya tentang sosok K.H. Abdullah Syafi’i dalam peringatan satu abad mengenang beliau. Salah satunya ialah Drs. H.M. Jusuf Kalla, yang kala itu menjabat Wakil Presiden RI. Jusuf Kalla bercerita bahwa K.H. Abdullah Syafi’i merupakan seorang ulama yang merakyat, keras, tetapi tidak radikal. beliau merupakan sosok yang sangat bersahabat, menerima orang kapan saja, dan tidak membeda-bedakan, dan juga sangat memperjuangkan masalah pendidikan dan dakwah Islam di Jakarta.
Hal senada juga disampaikan oleh Jend. (Purn) Tri Sutrisno, juga mantan Wakil Presiden RI era Pak Harto, bahwa menurutnya almarhum K.H. Abdullah Syafi’i sejak usia muda telah mempunyai komitmen yang tinggi terhadap pendidikan, karena beliau sangat menyadari bahwa kemajuan sebuah bangsa akan dapat diraih melalui pendidikan. Melalui pendidikan pula bangsa Indonesia akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Karena itu beliau sepanjang hidupnya senantiasa berupaya agar tenaga dan pikirannya tercurahkan ke dalam dunia pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal.
Pun begitu juga dengan pandangan Prof. DR. Hj. Nabila Lubis, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menyatakan bahwa K.H. Abdullah Syafi’i merupakan sosok yang ulet, hidup di masa penjajahan dan pasca kemerdekaan yang sangat sulit. Sangat intens tentang pentingnya pendidikan bagi anak bangsa yang bangkit selepas penjajahan dan baru memperoleh kemerdekaan. Maka ia mendirikan sekolah, madrasah yang kemudian berkembang untuk semua jenjang pendidikan, bahkan di akhir hayatnya sempat mendirikan Universitas As-Syafi’iyah yang berdiri megah di kawasan Jatiwaringin. Beliau juga memikirkan nasib anak duafa dan yatim agar jangan sampai terlantar, karena tidak bisa masuk sekolah. Rumah yatim yang dirintisnya menjadi bukti atas kepedulian, dan sekarang dapat dilihat hasil didikan anak yatim yang menjadi berguna setelah diasuh dan dididik dengan kasih sayang dan penuh perhatian dan dapat mengikuti semua jenjang pendidikan, yang pada akhirnya dapat berkiprah di tengah masyarakat sesuai dengan keterampilan dan ilmu yang diperoleh.(***) Aji Setiawan