Pertemuan Singkat yang Mengesankan
“Mama nggak mau tahu! kosongkan jadwalmu malam ini, kita datang ke acara tante Rossa bersama-sama. Oh ya, pakai gaun yang sudah mama pilhkan untukmu. Kamu ngerti, kan Dri?”
Aku hanya memutar bola mata, malas. Lagi dan lagi, mama selalu bersikap semaunya. Baginya, ucapannya adalah perintah. Pantang untuk dibantah, apalagi dilanggar.
“Kamu dengar, kan Dri?” tanyanya lagi, gemas. Mungkin karena belum mendengar satu patahpun kata yang terucap dari bibirku.
“Terserah Mama,” jawabku, santai. Apalagi yang bisa kulakukan? Menyanggahnya? Itu terlalu membuang tenaga dan waktu. Nggak efektif.
Jadi, lebih baik bersikap smart dengan mengikuti saja kemauannya. Toh, aku masih punya seribu satu macam cara agar keinginannya tak semudah itu untuk terkabul. Atau kalau perlu, hancur sekalian. Percayalah, aku ini sudah ahli untuk hal semacam itu.
“Gimana, Ros? Bang Bram udah pasti bakal datang, kan?... Oh, dia udah konfirmasi? Oke, oke, aku akan tampil perfect malam ini. Kamu lihat saja nanti, bagaimana dia hanya akan melihat kepadaku saja … hehehe, Navia, gitu lho. Terus, kamu sudah pastikan jeng Sherly bakal bawa anaknya juga, kan?... Okelah, mantap! … Adrianna? Oh, tenang saja. I can handle my daughter. Dia nggak akan keberatan, kok.”
Potongan pembicaraan mama via telpon dengan tante Rossa, sempat tertangkap gendang telingaku. Dan rasanya, aku tahu apa inti pembicaraan mereka.
Meski cantik, mama itu terlalu primitif untuk bisa menutupi sikap blak-blakannya. Tak ada yang tersembunyi dari semua tindak tanduknya. Mama seperti buku terbuka yang mudah dibaca oleh siapapun. Meski kadang, ada juga yang ‘buta huruf’ hingga tak mampu mengetahuinya.
Huh! Selain mencoba menjodoh-jodohkanku dengan anak temannya, sepertinya mama juga ada kepentingan pribadi dalam hal ini.. Entah pria mana lagi yang kali ini diincar mama. Aku sudah terlalu kebal untuk merasa sedih dengan kelakuannya yang seolah tak ingat umur itu.
Memang, diumurnya yang ke-43, mama masih terlihat begitu cantik. Tak ada satu kerutanpun tampak di wajah yang selalu dimanja dengan berbagai treatment itu. Body, jangan ditanya. Masih terlihat sekal selayaknya gadis. Saat kami jalan berdua, orang-orang yang tak mengenal kami akan mengira mama adalah kakakku. Hal yang sudah pasti akan membuatnya bangga dan melambung hingga langit ke tujuh.
Mama adalah seorang janda. Dia mantap memilih bercerai dengan papa, tak lama setelah usaha beliau mengalami kemunduran. Terbiasa hidup enak dengan segala fasilitas yang melenakan, membuat mama mengalami shock dimasa transisi pergeseran ekonomi keluarga kami.
Perselisihan dan pertengkaran kerap mewarnai hubungan mereka. Aku yang terjepit di tengah-tengah, merasa stress dengan keadaan itu. Akupun juga sama shocknya dengan keadaan ekonomi yang secara pasti mengubah hidup kami.
Tapi, papa adalah papaku, kan? Seorang isteri mungkin bisa memilih untuk bercerai meninggalkannya, tapi aku tak bisa. Dan tak mau. Terlebih, aku memahami betapa semua inipun berat untuk papa. Sosok family man yang menjadi idolaku itu, yang teramat mencintai isterinya, memilih menyerah dan melepaskan wanita yang begitu ingin lepas darinya.
Rasa sakit karena berkurangnya harta, mungkin masih tak seberapa dibanding sakit karena dicampakkan. 20 tahun kebersamaan mereka, harus berakhir begitu saja seakan semudah mengakhiri pembicaraan di telpon.
Rasa sakit itu pula yang mungkin membuat papa depresi hingga berujung sakit-sakitan. Dan, penderitaan panjang beliau pun berakhir 3 tahun lalu. Papa telah berpulang, meninggalkan mantan isteri yang bahkan tak terlalu merasa bersedih. Juga meninggalkanku, bersama bibit dendam yang kian lama kian membesar ….
@@@@@@@@@@@@
Pesta ulang tahu tante Rossa ternyata digelar dengan begitu megah dan wah. Tema out door yang diusung berlatar pesta kebun itu, dikemas sangat apik dan mengesankan. Seolah siapapun akan merasa tengah berada dalam kebun sungguhan yang sangat memanjakan mata.
Para tamu bisa dipastikan hanya berasal dari kalangan atas saja. Dari kaum sosialita, pengusaha, hingga public figure, berkumpul semua memamerkan identitas diri.
Terkadang aku heran, apa sih maksudnya wanita berumur lebih dari 40 tahun masih merasa perlu untuk merayakan ulang tahun? Ingin tetap eksis? Pamer? Atau jangan-jangan, karena masa kecil yang kurang bahagia? apa tidak merasa malu dengan lilin yang menyimbolkan umur mereka?
Maksudku, umur-umur begitu, bukankah akan lebih bijak untuk tak lagi mengumbar urusan duniawi? Tiup-tiup lilin, potong kue, tukar kado, lalu cipika-cipiki itu gunanya untuk apa?
Entahlah, mungkin ini hanya sekedar kejulidanku saja. Tapi aku yakin dari semua yang hadir, bahkan hanya segelintir orang saja yang sudi mengucap doa tulus. Itupun kalau beruntung ada. Semoga panjang umur? Semoga sehat selalu? Tambah kaya? Heleh! Betul-betul basa-basi. Doa yang sesuai adab saja belum tentu terkabul karena satu dan lain sebab, apalagi doa basa-basi yang terucap dari para kaum mabuk dunia macam mereka? Tuh kan, julidnya aku ….
“Dri, sini!” mama menarik tanganku yang sejak tadi berusaha memisahkan diri.
Satu-satunya hal yang paling masuk akal dari acara tak penting ini, hanyalah makanan. Ya. Makanan yang tersaji betul-betul berkualitas premium. Aku yang hobby ngemil, sungguh termanjakan olehnya.
“Kamu tuh, Dri! Jaga imej sedikit, kenapa sih? Makan kok disamain kayak di rumah? Yang berkelas sedikit, dong. Jangan bikin malu mama. Seolah mama nggak pernah memberimu makan enak!” mama menegur gemas lewat bisikan, yang hanya kutanggapi dengan mengunyah makanan dengan cara yang lebih menakjubkan.
Aku memasukkan potongan pie buah berukuran sedang dengan satu kali hap. Tak perlu dipotong, atau digigit perlahan agar terkesan anggun. Cih, pencitraan yang menyesakkan! Kurasakan mama mencubit pinggangku, membuatku meringis karena merasa lumayan sakit.
“Kamu itu! Cepat habiskan, lalu ikut mama. Ada seseorang yang ingin mama perkenalkan padamu. Ingat, jaga sikap! Dia itu anaknya tante Sherly. Tangkapan besar, Dri. Kamu pasti bakal bahagia kalau bisa mendapatkan dia.”
Oh, waktunya perjodohan. Aku hanya mengangkat bahu, tak mau ribet. Mama menggandengku menuju pinggir kolam renang, dimana seorang wanita setengah baya dan seorang pria muda tengah berdiri disana.
“Hallo, jeng Sherly, apa kabar?”
Aku memutar bola mata melihat action teletubbies yag mereka lakonkan. Cipika-cipiki sambil berpelukan. Basa-basi banget! Keduanya larut dalam obrolan tak penting sebagai pembuka. Mungkin biar tak terlalu kentara kalau niat utamanya adalah saling menyodorkan anak masing-masing.
“Ini siapa, Jeng? Adiknya?”
Sepertinya mataku akan berubah juling sebentar lagi, karena terlalu sering kuputar-putar sejak tadi. Mama tampak sumringah. Aku serasa melihat sukmanya yang telah melayang ke langit karena mendengar pujian itu.
“Ah, Jeng bisa saja. Ini Adrianna, lho jeng. Anak saya ….”
Tante Sherly tampak melebarkan matanya. Entah basa-basi atau terkejut sungguhan.
“Anak? Serius, Jeng? Ya ampun, jeng Navia ini awet muda banget berarti. Biasa perawatan dimana, sih, Jeng?”
Mereka pun mulai mengoceh unfaedah. Tentang salon ini, perawatan itu, skincare anu … haddeeeh. Aku tak mau ambil pusing dengan basa-basi mereka. Mataku asyik mengeksplor setiap sudut ruang, seolah ada hal yang lebih menarik untuk dilihat disana.
Tak mau peduli juga, dengan tatapan pria disamping tante Sherly yang sejak tadi tanpa jeda terfokus ke arahku.
“Oh, ya. Adrianna, ini anak tante. Erlangga namanya. Baru saja pulang menyelesaikan masternya di singapur. Kenalan dulu, dong ah,” ujarnya, seraya memberi kode pada sang anak.
Heleh. Perlu banget, gitu dibahas masternya? Dari singapur doangan. Kirain dari Harvard gitu. Tapii … masih mendinglah dari pada aku, wkwkwk. Aku tetap menyunggingkan senyum termanis. Bagaimanapun, aku masih ingat adab bagaimana menghadapi tante tua, eh, perempuan yang lebih tua, maksudnya. Akhirnya tak lama, secara kompak mereka meninggalkan kami berdua saja.
“Erlangga Pahlevi.”
Pria itu menjabat tanganku dengan sangat erat, membuat jemari mungilku terkunci hingga sulit melepaskan diri.
“Adrianna. Maaf, bisa nggak terlalu kencang salamannya? Dilonggarin dikit … nah, kayak gitu.” Aku memprotesnya tanpa segan, dengan cara se-elegan priyayi dadakan. Erlangga malah tersenym simpul dengan mata yang masih terfokus pada retinaku.
“Kamu cantik,” pujinya.
“Biasa saja. Maksudnya, sudah biasa mendengar statement kayak gitu.”
Dia mengajakku ngobrol tentang segala macam hal yang hanya kutanggapi sekenanya. Aku tak butuh kesan baik. Membuatnya merasa aku bukanlah typenya, adalah tujuan utama. Tapi sepertinya, Erlangga tergolong pria yang bebal. Apa iya, dia tidak merasa kalau aku tak terlalu antusias menanggapinya?
“Sorry, Er. Kayaknya aku perlu ke toilet. Aku tinggal, nggak apa-apa kan?”
Jangan salah. Itu bukanlah permintaan izin atau sejenisnya. Karena toh, aku merasa tak perlu menunggu jawabannya.
“Tapi kamu bakal kembali lagi, kan?” kejarnya, memastikan.
“Kemana? Oh, ngobrol lagi? Itu gampang. Yang penting sekarang, aku perlu banget ke toilet. Kayaknya mau be a be. Akibat kebanyakan makan, mungkin ya?”
Aku meninggalkan Erlangga yang tampak terpaku mendengar jawabanku. Sengaja kupercepat langkah, agar visualisasi kebeletnya dapat. Tergesa, kuambil jalan memutar supaya penampakan diri ini hilang dari pandangan Erlangga. Sayangnya, di persimpangan dekat taman, aku terlambat mengurangi kecepatan langkah. Aku bahkan tak melihat ada orang di hadapan, hingga mau tak mau, terjadilah accident itu.
Aku menabrak seorang pria yang tengah memegang gelas minuman. Jas yang dikenakannya, sukses terkena tumpahan air. Sedang aku, nyaris terjerembab bila saja pria itu tak sigap meraih pinggangku.
Persis adegan film. Elah! Ternyata benar, lho, adegan yang di TV itu. Di alam nyata pun, kami seolah ada dalam slow motion dimana ia menatapku lekat-lekat, dan aku … biasa saja.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya, setelah cukup lama terpaku memandangi wajah ini. Meski sudah kebal dengan perlakuan seperti itu, tapi kali ini ada deg-degannya sedikit.
Bukan karena heran melihat wajah tampan, tapi yang ini … beda! Pria yang kutaksir berumur matang itu tampak simpatik dalam pandanganku. Suaranya berat, mengesankan wibawa. Ekspresi wajahnya pun memancarkan kharisma yang tak semua lelaki punya. Sebetulnya, aku mikir apa, sih??
“Nggak apa-apa kok, om, eh, Pak?”
“Terserah yang mana saja,” jawabnya, tersenyum simpul menunjukkan sebelah lesung pipinya yang tercetak jelas.
Nggak bisa panggil abang? Uhuk!!
“Maaf, ya, Om. Jasnya jadi basah. Saya beneran nggak sengaja tadi,” ucapku, tulus meminta maaf.
“Nggak masalah. Bisa dilepas, kok.”
Eh? Gimana, gimana?
“Kamu siapanya Rossa?” tanyanya lagi.
“Saya anak temannya, Om. Entah dimana mama saya tadi ….”
Yang aku heran, kok tidak ada adegan memperkenalkan diri, ya? Apa iya aku yang harus turun tangan memulai? Tak lama, sebuah suara yang tak asing menyapa kami.
“Lho, bang Bram? Lagi disini ternyata? Kamu, Dri, disini juga? Mana Erlangga?”
Pria yang dipanggil Bram itu tampak menggaruk singkat kepalanya. Tapi tunggu! Bram? Sepertinya aku familier gitu mendengar namanya. Ingatanku yang cukup tajam langsung mendapat titik terang. Jadi … inikah bang Bram yang dimaksud mama dalam telponnya bersama tante Rossa?
“Aku … habis dari toilet, Nav,” ujarnya.
“Ooh, gitu. Kebetulan deh kita ketemu lagi disini.” Wajah mama tampak ceria.
“Kamu … kenal gadis ini, Nav?”
Om Bram malah menanyakanku pada mama. Mambuatku seketika merancang sebuah ide. Kuulurkan tangan pada pria dewasa itu, diiringi senyum termanis yang pernah aku ukir.
“Perkenalkan, Om. Saya Adrianna, anaknya mama Navia.”