Bab 39. Sengit

1572 Kata

Bum! Tidak ada yang tidak kaget jika mendengar dentuman barusan. Mereka bertiga yang tengah duduk di bawah pohon apel langsung melotot. Lihatlah. Radius dua puluh meter dari tempat mereka duduk mengepul abu—hingga Adi dan Artha yang tadi sedang latihan tak terlihat lagi. Debu setinggi sepuluh meter mengepul, bergerilya bersama udara. Bi Narti, Ani, dan Grenta sampai keluar rumah guna memastikan apa yang mereka dengar. Grenta yang pertama kali menghela napas. Itu adalah efek dentuman yang terdengar dari latihan Adi dan Artha. “Sudah, ayo masuk.” “Tapi—” “Itu bukan apa-apa. Adi dan Artha hanya sedang latihan,” jawab Grenta tak acuh. Dia balik badan, masuk ke rumah untuk melanjutkan aktivitas mereka tadi, memasak. Bi Narti dan Ani menyusul. Perlahan kepulan debu mulai menghilang. Sama

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN