Entah pukul berapa saat ini, Ryan tidak tahu. Dia membuka matanya, beranjak duduk. Ryan melirik ke sebelah kanan. Farhan dan Bayu terlihat nyenyak tidur mereka. Dalam posisi telentang, keduanya menderukan napas teratur. Di sebelah kiri, Adi sedang tidur merentangkan kedua tangannya, dijadikan bantal. Pamannya itu juga menderukan napas teratur. Beberapa jam berjalan sepertinya membuat mereka kelelahan. Ryan membunyikan ruas tulang belakangnya. Terdengar renyah bunyi yang dihasilkan. Entah berapa jam dia sudah tidur, tiba-tiba terbangun, perutnya bergetar—kelaparan. Ryan berdiri, menyibak pintu atau lebih tepatnya tirai yang terbuat dari daun talas. Dia menatap sekitar. Ini jelas masih malam. Meskipun dia tidak bisa melihat ke atas, menatap langit yang biasanya dipenuhi bintang-gemintang, t

