Usai makan malam, Ryan memutuskan untuk duduk di bawah pohon apel, tempat Farhan dan Bayu melihat latihannya Artha dan Adi. Sembari bersandar, Ryan menatap langit lamat-lamat. Bintang-gemintang terlihat sangat indah dari bawah. Bulan berbentuk sempurna memanjakan mata siapa saja yang melihatnya ke arahnya. Deru angin malam terasa menyejukkan. Ryan menghela napas. Ucapan Bi Narti tadi memang cukup untuk membuktikan seberapa gigihnya mereka dan yakinnya mereka atas dirinya. Tapi masalah bukan terletak di sana, masalahnya terletak pada diri Ryan sendiri. Jujur. Dia memang semakin lihai dan menemukan jenis kekuatan baru. Tapi, semakin ke sini dia semakin sering ragu dan tidak percaya diri. Ryan menghela napas dua kali. Sekarang dia tidak lagi menatap indahnya langit. Ryan menundukkan kep

