TIGA hari berlalu dengan cepat, sedangkan Emily masih belum bisa menebak siapa pelaku yang mengiriminya SMS misterius. Sungguh, jauh di dalam lubuk hatinya ia sama sekali tak ingin untuk mempercayai, apalagi menuruti perkataan orang ini. Ia juga ingin menceritakan perihal masalah ini pada Jesse, tapi ... batinnya memberontak. Bagaimana jika orang itu memang mengetahui apa penyebab Elizabeth meninggal? Bagaimana jika orang itu tidak akan memberitahu Emily tentang Elizabeth, jika ia menceritakannya pada Jesse? Bagaimana jika orang itu hanyalah penipu yang berniat untuk mempermainkan Emily? Bagaimana, bagaimana dan bagaimana. Beribu-ribu pertanyaan menyelinap masuk ke dalam otaknya setiap hari hingga membuat sakit kepala yang ia alami semakin memburuk. Tidak hanya itu, Emily juga sering

