4

1812 Kata
TYLER menghisap rokoknya kuat-kuat sebelum mengembuskan asapnya ke udara. Benda ini adalah satu-satunya hal yang selalui menemani Tyler dari SMP. Bahkan ketika dia merasa sesak dan tak berdaya, rokok selalu menemaninya. Semula, keadaan hening dan tenang. Tyler menikmati embusan udara malam menerpa kulitnya, dengan pandangannya yang masih tertuju ke arah langit penuh bintang. Indah. Tapi Tyler benci sesuatu yang indah karena mereka tak bertahan lama. Dan seperti katanya, ketenangan yang baru saja dia rasakan menghilang karena Mikael dan Jesse baru saja memasuki apartment Tyler tanpa izin. "T, malem ini ke club gak?" Mikael berjalan santai dan duduk di samping Tyler, seolah tanpa dosa. Lelaki itu sama sekali tidak keberatan dengan asap rokok yang Tyler keluarkan. "Gue bosen nih." Sedangkan Jesse berdiri jauh dari Tyler dengan wajah yang tertutupi. Dia benci asap rokok, karena membuatnya sesak napas. Dan bagi Jesse, Tyler yang sedang merokok adalah wabah. Dia akan berdiri sangat jauh dari sahabatnya itu, seolah Tyler menyebarkan virus yang mematikan. "Club?" Tyler menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Lelaki itu tampak berpikir sejenak, sebelum mengangguk setuju. "Boleh, siapa aja?" "Jesse, elo, gue-lah, siapa lagi?" balas Mikael bingung. Persahabatan mereka bertiga memang sudah berlangsung sejak dulu. Tapi, dibandingkan dengan Tyler, Mikael lebih dekat dengan Jesse. Mungkin karena Tyler sering mengurusi Papanya di rumah sakit, jadi ia lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Intinya Tyler berubah banyak, meski Mikael tidak tahu pasti penyebab kenapa sahabatnya itu berubah. "Gue gak mau ah. Males." celetuk Jesse yang berada di ujung ruangan sambil memakai masker. "Lagi gak mood." "Whoa, tumben!" pekik Mikael tak percaya. Lelaki itu mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menganga. "Btw, mama lo dipanggil gak Jess?" "Hm, Fisika 'kan?" balas Jesse malas. Lelaki itu memutar bola matanya dan menyadarkan kepalanya pada sofa. Pikirannya melayang ke mana-mana, ia masih terus memikirkan cara untuk meningkatkan nilai fisikanya. Karena kalau tidak, orang tuanya akan dipanggil dan pastinya nanti mobil kesayangannya akan di sita bila hal itu terjadi. "Gue sih bukan cuma fisika, tapi matematika, biologi, kimia sama bahasa Inggris juga." Mikael mengusap wajahnya kasar sambil mengumpat beberapa kali. "Ngeselin banget. Nyokap gue bakal ngoceh panjang deh kalau tahu." "Mampus." Tyler mematikan rokoknya dan meletakkan sisa puntung itu di dalam asbak. Lelaki itu tertawa karena kedua sahabatnya memang terlewat bodoh dalam pelajaran. "Lo pada b**o bener sih?" "YA TUHAN, SADAR DIRI DONG T!" hardik Mikael dengan alis bertaut. Lelaki itu menekuk wajahnya sehingga ekspresinya tampak lucu sekarang. "Nilai lo juga pas-pasan. Udah gitu sering bolos lagi, mau jadi apa kamu nak, nak?" tanya Mikael sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mending gue pas-pasan tapi tuntas. Lah lo pada, udah masuk kelas mulu, masih aja remedial." "Sialan." Jesse melemparkan bantalan sofa ke arah Tyler sambil merengut. "Gue gak bodoh, gue cuma rada lemot aja." "Apa bedanya b**o?" Mikael terbahak menatapi Jesse. Lelaki itu sama sekali tidak sadar kalau dirinya bahkan jauh lebih lemot dibandingkan dengan Jesse, tapi ia tertawa kencang tanpa menyadari fakta itu. "Diem deh, b**o elo dibanding gue." "Enak aja, elo lebih b**o!" "Elo!" "Elo!" "Ye t*i nyolot." "Yang mulai duluan siapa heh?" "Ya elo!" "Elo-lah!" "Dasar monyet gak tahu diri!" "Yee s****n ngelunjak!" "Cukup." Tyler melerai kedua sahabatnya yang kadang-kandang adu mulut karena perbedaan pendapat. Kepalanya sudah cukup pening dengan masalah yang menimpanya, dan kedua sahabatnya ada di sini bukannya meringankan, tapi malah memberatkan beban di pundak Tyler. Oh, s**l. "Mau cabut gak, Kel?" tanya Tyler. "Jess, lo beneran gak mau ikut?" "Hm." Jesse menganguk. "Sebenernya gue ngantuk juga sih." "Dasar anak mami, baru jam 9 malem mau tidur, heh!" "s****n!" Jesse menjitak kepala Mikael. "Lo itu dasar anak nakal!" "Enak aja, gue itu--" Tyler berdiri dan memandangi Mikael, memberi isyarat agar lelaki itu segera bangkit dari tempat duduknya sebelum perang mulut kembali terjadi. "Buruan." "Iye iye sabar." Mikael berdiri sambil menggerutu. Lelaki itu masih tak terima dengan ejekkan Jesse dan ingin membalasnya hingga telak. Tapi, Tyler tampaknya sudah tidak tahan lagi mau ke club. "Kami cabut Jess." Tyler berjalan keluar tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia melambai-lambaikan tangannya tanpa berniat untuk menatap Jesse lagi. "Dah b**o!" ejek Mikael sambil menertawakan Jesse, sebelum lelaki itu langsung berlari dan mengejar Tyler. "s****n!"   ***   Emily_heather started following you. Jesse terlonjak saat melihat notifikasi instagramnya sendiri. Lelaki bermata cokelat itu mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa ia tak salah lihat. Matanya menatap benda pipih kesayangannya itu naik turun, seakan memastikan kalau notifikasi itu benar. Well, Jesse tidak tahu kenapa ia merasa terkejut saat mendapati Emily mem-follow akunnya. Padahal, gadis itu mungkin saja 'kan nge-fans dengan Jesse? Secara, ia punya banyak penggemar hampir dari seluruh sekolah. Tangan Jesse menekan profil Emily dengan ragu, dan setelah loading sejenak, profil itu kemudian terbuka. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Jesse memperhatikan satu persatu postingan Emily. "I hope you're happy there, El. I miss you." "I'm sorry El, really sorry." "Aku harap. Aku saja yang mati, bukan El." "Kebahagiaan? Benarkah hal itu masih ada?" Beberapa kalimat tersebut merupakan isi dari caption i********: Emily. Gadis itu tampaknya kehilangan seseorang yang ia sayangi, dan orang ini pastilah bernama 'El', dan sepertinya El itu sudah ... meninggal. Pikiran Jesse melayang ke kejadian tadi siang, saat Emily tampak sangat malas berurusan dengannya, sedangkan wanita lain bahkan memohon untuk itu. Well, tidak, tidak sampai segitunya. Jesse memang tidak mudah dekat dengan wanita, tapi bukan berarti ia alergi atau semacamnya. Lelaki itu hanya geli saja jika ada orang yang membuat pernyataan cinta untuknya. Sebab, apalah arti cinta di dunia ini? Hell, omong kosong. Ponsel Jesse bergetar menandakan kalau ada pesan yang masuk. Kedua alisnya bertaut menjadi satu ketika ia tak sengaja menekan tombol like di i********: Emily. Oh s**t, ia tertangkap basah karena meng-stalk akun gadis itu. Mata Jesse memicing saat tiba-tiba ia menangkap hal yang janggal dari i********: Emily. Lelaki itu membuka satu persatu foto yang ada di i********: Emily dan tertegun karena setiap foto yang Emily upload sudah di-like oleh Tyler. "Masa iya Tyler suka sama Emily? Rasanya gak mungkin deh." Jesse bergumam pada dirinya sendiri sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Ia sudah lama mengenal Tyler dan lelaki itu memang player, meskipun banyak anak sekolah yang tidak tahu tentang fakta ini. Sebab, Tyler memang player hanya dengan wanita yang sudah dewasa. Lelaki itu pencinta kebebasan dan tidak mau terikat pada suatu hubungan, jadi ia tidak pernah berpacaran dengan wanita yang seumuran karena menurutnya wanita remaja itu labil dan merepotkan. Lantas, apa ini? Apa yang baru saja Jesse lihat? Trtt Emily_heather : Boleh minta id line lo, Jess? Gw mau ngmg sesuatu, ga enak lewat DM. Jesse terkejut membaca pesan dari Emily, tapi lelaki itu tetap cool dan tidak ada niatan untuk menunggu lama-lama untuk membalas. Jessearthur Jessegreenarthur, knp emg? Emily membaca chat Jesse dengan cepat. Tapi, setelah menunggu sekitar 20 menitan, ia baru sadar kalau Emily tidak berniat untuk membalas DM Jesse lagi. Wanita itu hanya membacanya. Line! Emily : Jesse, boleh tanya? Jesse green : tny ap? Emily : Coba check tas lo, ada buku catatan fisika gue, gak? Soalnya, gue cari-cari daritadi gak ketemu. Jesse berdiri dan mengambil tas sekolahnya. Lelaki bermata cokelat itu mengernyit saat melihat is tasnya menjadi banyak. Padahal, Jesse hanya membawa 2 buku tulis kosong serta pena ke sekolah. Jesse green : Iy, gw kbw, sry. Emily : Uhm, rumah lo dmn, Jess? Gue ke sana deh, soalnya gue mau belajar buat ujian besok. Jesse membulatkan matanya sempurna dan mengetik balasan pada Emily cepat. Lelaki itu baru tahu kalau besok ada ujian, dan nilai fisikanya sudah berada di ujung tanduk. Jesse green : bsk ujian? fsk? Emily : fsk itu apa? Jesse green : fisika. Emily : Oh, iya, jadi rumah lo di mana? Jesse green : Gk ush, gw aj k rmh lo. Jesse green : Almt? Emily : Hah? Almt? Apaan? Jesse green : Alamat, bege -_- Emily : Oh, jln. cintakupadamu2, no. 87. Jesse hampir saja tersedak minumnya saat membaca alamat Emily yang sangat konyol. Lelaki itu menghela napasnya dan mengambil sweater karena udara kota Jakarta lebih dingin malam ini. Jesse green : ok, otw. "Jesse, mau ke mana?" Keysha mengernyit saat anaknya itu tiba-tiba saja mengambil kunci mobil. "Bukan ke club, 'kan?" Jesse menggeleng, “Aku mau belajar fisika, di rumah temen." Jesse tersenyum. "Dah, Mom." Keysha mematung di tempatnya sejenak saat Jesse mengucapkan kata belajar. "B-belajar?" ulang Keysha. "Jesse! Jesse! kautidak kemasukkan sesuatu, 'kan?" pekik Keysha. Namun terlambat, Jesse sudah melajukan mobilnya, meninggalkan mansion keluarga Green.   ***   Jesse memarkirkan mobilnya di depan rumah Emily. Lelaki itu sempat tertegun karena rumah Emily sangat besar dan jauh dari ekspetasinya. Bahkan, rumah itu jauh lebih besar dibandingkan dengan mansion keluarga Jesse sendiri. Lelaki blasteran itu mendekati post satpam yang berada di samping pagar dan tersenyum saat pak satpam yang menjaga rumah Emily keheranan melihat kehadirannya. "Cari siapa ya, den?" tanyanya bingung. Jesse menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan canggung, “Cari Emily, Pak." "Non Emily?" Pak satpam itu tampak terkejut. "Oh, masuk aja Den." Pagar dibuka dan Jesse kembali menyalakan mobilnya. Ia memasuki perkarangan rumah Emily dan memarkirkan mobilnya di pinggir halaman. Lelaki itu keluar dari mobil dan segera mengabari Emily kalau ia sudah sampai. Jesse green : dpn. Jesse mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai sembari menunggu Emily keluar. Matanya melirik ke arah jam dengan tak sabar, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menelepon wanita itu, lewat line tentunya. Sebab, Jesse tidak punya nomor telepon Emily. Tut ... tut .... "Halo?" jawab Emily dengan suara seraknya, membuat Jesse mengernyit. Jadi dia tadi tertidur? batin Jesse yang tiba-tiba merasa bersalah karena sudah menganggu tidur Emily. "Gue di depan rumah lo," tukas Jesse berusaha untuk cool dan tidak memusingkan masalah tidur Emily. Lelaki itu segera mematikan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban Emily lagi. Sebenarnya, ia sama sekali bukan tipe orang yang mau mengantar buku, hanya karena buku temannya terbawa di dalam tas. Bahkan, Jesse bisa dibilang tidak perduli. Tapi, nilai fisikanya sudah cukup memprihatinkan dan anjlok, jadi ia harus segera mendapat pertolongan sebelum orang tuanya dipanggil dan mobilnya disita. Lagipula, Jesse tidak mengenal banyak orang pintar, sebab rata-rata, anak-anak di kelasnya berasal dari golongan menengah ke bawah, dalam hal otak. Dan tentu saja, dia punya beberapa sahabat yang bisa mewarnai hari-harinya di sekolah. Well, Jesse sebenarnya senang punya banyak teman, meskipun mereka rata-rata lelaki semua. Dan ia datang kesini sekarang bukan karena ia termakan ucapan Mikael tentang karma, hanya saja ... Emily tampaknya bisa membantunya dalam menaikkan nilai fisika. "Jesse?" Jesse terkesiap saat namanya dipanggil oleh seorang wanita dengan balutan piyama pink serta wajah yang baru bangun tidur. Jesse mengenali gadis itu sebagai Emily. Wanita itu tetap sama dengan kacamata tebalnya meskipun sekarang ia tidak mengenakan seragam. "Ini, buku lo." Jesse berjalan mendekati Emily dan menyerahkan buku itu pada pemiliknya. "Makasih," ucap Emily datar. "Sebenernya, lo gak usah repot-repot nganterin, supir gue bisa ambil ke rumah lo." Jesse mengendikan bahunya, “Gue gak masalah, soalnya gue juga mau minta tolong." "Minta tolong?" Emily mengernyit. Jesse mengangguk, “Ajarin gue fisika buat ujian besok, ya?"   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN