Bora juga menghentikan langkahnya, lalu dia melongok ke depan ternyata sudah ada Sano berdiri. Astaga ... pagi-pagi sang sahabat sudah membuatnya iri. "Cie ... Sang Pangeran sudah datang tuh, untuk jemput putrinya. Samperin gih!" ledek Bora, lalu mendorong tubuh Anne mendekati ke arah Sano. Anne menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya dia senang-senang saja bertemu Sano, setiap hari pun tidak apa-apa. Masalahnya, dia tidak pengen kalau ketemu Sano, ada Bora juga di situ. Sebab, sang sahabat akan menggodanya habis-habisan. Apalagi sekarang, pagi-pagi sekali Sano datang untuk apa kalau tidak untuk menjemputnya. "Selamat pagi, Pak Dokter," sapa Bora tersenyum ke arah Sano, sembari memunggukkan badan sedikit. Sopan dong! Dia calon suami sahabatnya loh ... hihihi Sano ikut tersenyum, "Selama

