Sano sekarang sedang duduk melamun di kursi kerjanya. Pikirannya tertuju pada Anne. Dia memijat keningnya sambil menerawang. Padahal belum ada satu hari dia tidak bertemu dengan Anne, tapi rasanya benar-benar terasa seperti kuburan. Gelap, sepi dan tak berwarna. Tak ada yang bisa diajak pergi dinner, atau tak bisa melihat rona di pipi Anne yang tiba-tiba muncul padahal dia tidak sedang merayu. Hanya karena perlakuan kecil saja membuat wajah Anne memerah menggemaskan. Sano mengusap wajah kasar. He misses all of them a alot! Dan dia sudah seperti orang gila saat ini. Jika rindunya kemarin terbagi dua dengan kekhawatiran dan was-was yang membuatnya tak bisa fokus bekerja karena mengkhawatirkan apakah Anne baik-baik saja dan ada dimana. Sebab gadis itu mematikan telpon dan tidak menghubungin

