Bab 8

1185 Kata
“Mas, bukannya Mas sendiri tidak menginginkan ini. Mas sadar apa yang baru Mas tulis?” Karim terdiam mendapatkan jawaban Shifa di ponselnya. Dia bingung. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dia salah ketik. Akan tetapi, tubuhnya terlebih dahulu memberikan respons sebelum nalarnya memproses dengan benar. “Temui aku.” Shifa memberikan balasan yang membuat Karim semakin pusing. Tubuhnya benar-benar bertentangan dengan nalarnya. “Baiklah. Jika itu yang Mas pinta. Saya akan ke sana.” Karim terdiam membaca pesan itu. Dia benar-benar telah hilang akal. Tubuhnya menginginkan Shifa, hingga nalarnya sendiri tidak dapat menghentikannya. Mungkin dia seharusnya menerima tawaran teman kuliahnya dulu untuk ikut ekskul nalar saja. Karim memutuskan untuk tidak menunggu di bawah. Dia mencoba melawan tubuhnya yang menginginkan Shifa. Bayangan otaknya dipenuhi oleh momen pergumulan mereka kemarin lusa. Suara-suara sensual dan merayu gadis itu membuat Karim kesulitan mempertahankan kewarasannya. Karim menyadari, memikirkan Shifa sedikit saja sudah cukup untuk mengobrak-abrik dirinya. Seharusnya, dia tidak membandingkan Shifa dan Cahaya sejak awal. Celah itu yang digunakan oleh tubuhnya yang haus akan Shifa. Dering telepon membuat Karim kembali ke kenyataan. Karim melihat nama Shifa di ponselnya itu. Pada akhirnya, Karim memilih untuk pasrah. Dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. “Mas. Saya menunggu di lantai dasar,” ucap Shifa di seberang. “Oke. Aku turun,” jawab Karim dingin. Kalimat itu keluar tanpa nalarnya memproses terlebih dahulu. Karim sudah melepaskan semuanya. Dia tidak bisa memikirkan lebih jauh lagi. Dia mengenakan pakaian seadanya untuk menemui Shifa. Karim datang ke lantai lobby. Shifa tampak menantinya di sana. Gadis itu melambaikan tangan kanannya dengan posisi tangan kanan sejajar dengan wajahnya. Karim memberi isyarat kepada gadis itu untuk mengikutinya. Mereka pun naik ke lantai unit Karim dengan lift. Tidak ada percakapan apapun kecuali Shifa yang menanyakan Karim sekali. “Kenapa Mas meminta saya datang lagi?” tanya Shifa. Pertanyaan itu tentunya tidak dijawab oleh Karim. Meskipun Shifa bisa menalar apa yang bisa terjadi, gadis itu akhirnya hanya diam dan mengikuti dulu. Saat mereka akhirnya masuk ke dalam unit Karim, pria itu segera mengunci unit apartemennya dan menyudutkan tubuh Shifa ke dinding. Kedua tangan Shifa dikunci oleh kedua tangan Karim dan cadar wanita itu dilepaskan begitu saja oleh Karim. Karim juga melepaskan tas yang Shifa bawa. Shifa yang kalah kuat tidak bisa memberikan perlawanan. “Mas Karim, apa mau Mas?” tanya Shifa dengan intonasi agak tinggi. Shifa berharap setidaknya Karim berpikir apa yang sedang dia lakukan. Pria itu tidak merespons kecuali mendekatkan kepalanya ke telinga kiri Shifa. “Aku menginginkanmu, Shifa,” jawab Karim dengan suara berat. “Bukannya Mas sendiri bilang kita selesai?” tanya Shifa lagi kepada pria itu. Karim mundur dari telinga Shifa. “Lupakan soal itu!” jawabnya dengan nada tinggi. Shifa menyadari bahwa Karim di depannya bukanlah senior dia yang berbicara dengannya kemarin. Karim di depannya adalah seniornya yang bernafsu akan dirinya semata. Sisi gelapnya yang Shifa bangkitkan dengan sentuhan dan rayuan maut di pergumulan mereka waktu itu. “Aku menginginkanmu,” ucap Karim lagi. Shifa mengembuskan napas pasrah. Shifa telah membangkitkan sisi gelap seorang pria. “Baik, Mas Karim,” balas Shifa dengan nada pasrah. Gadis itu menggerakkan kepalanya untuk mencium bibir Karim, membuat pria itu melepaskan cengkraman tangannya ke tangan Shifa. Gadis itu melingkarkan tangan mungilnya ke kepala Karim, membuat ciuman mereka semakin erat. Keduanya melepas ciuman itu pada akhirnya, mengatur napas mereka yang nyaris habis. Shifa menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan pakaian bawah Karim dan menyentuh pusaka pria itu. Karim menggeram. “Sentuhanmu. Aku merindukan ini,” ucap Karim. Shifa kemudian menyejajarkan dirinya dengan pusaka Karim dan memainkan benda itu dengan mulutnya. Karim menggeram menyebutkan nama Shifa. “Shifa! Kamu benar-benar hebat!” Dalam hati Shifa, dia merasa semua ini salah. Hanya saja, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Gadis itu menyadari apapun yang akan terjadi kelak adalah hukumannya memantik sisi gelap asistennya sendiri. Membuat kecewa pria ini pun sepertinya tidak ada gunanya sekarang. Shifa akan melakukannya dengan kehendaknya, atau dia akan dipaksa untuk membuat Karim senang. Jika dia hanya punya dua pilihan itu, dia ingin mengatur permainan. Hanya saja, dia perlu memastikan apa benar kondisinya demikian. “Shifa, aku bisa keluar jika terus begini!” geram Karim. Shifa terus memainkan pusaka itu hingga gadis itu menyadari bahwa Karim nyaris mencapai pelepasannya. Gadis itu mencoba membuat Karim kecewa dengan menghentikan permainannya. “Kamu akan memuaskanku, Shifa,” balas Karim yang langsung mundur. Shifa menyadari bahwa prasangka yang dia pikirkan benar. Karim sudah gelap mata. “Baik Mas,” ucap Shifa pasrah. Karim benar-benar lepas kendali. Shifa khawatir jika Karim akan menghancurkan dirinya saat dia belum siap. “Saya belum meminum-” Shifa yang mencoba mengingatkan Karim langsung dibalas dengan Karim yang langsung merobek seluruh pakaian gadis itu. Kedua tangan Karim langsung menyerang buah d**a yang dimiliki oleh Shifa. “Mas!” desah Shifa di antara permainan Karim. “Aku belum minum pil!” teriak Shifa di antara desahannya. Karim tidak mendengarkan. Shifa panik. Jika hitungannya benar, maka saat ini dia ada di masa subur. “Mas Karim!” teriak Shifa lagi. Karim tidak peduli. Satu jari dari tangan kiri pria itu sekarang memainkan intim Shifa, membuat gadis itu mendesah tak karuan. Shifa hanya bisa pasrah. Dia harus mengambil darurat setelah ini, meskipun dia tidak suka efek samping benda itu. “Mas, sudah Mas! Aku keluar!” teriak Shifa diikuti dengan lenguhan keras. Karim tersenyum m***m melihat Shifa yang terengah-engah dengan pelepasannya. Shifa tidak mempersiapkan dirinya untuk situasi buruk ini. “Sekarang kita lanjutkan langsung ke ranjang!” titah Karim seraya membawa tubuh Shifa ke ranjang. Shifa menyadari ranjang itu baru saja dipakai. Gadis itu semakin merasa bersalah. Karim menghempaskan tubuh Shifa di ranjang itu. Sebelum Shifa sempat bergerak, Karim segera mengunci tubuh Shifa dengan tubuhnya. Gadis itu sekarang tidak bisa bergerak. Karim langsung memainkan buah d**a Shifa. Satu-satunya hal yang bisa Shifa lakukan adalah mendesah. “Ah! Mas! Enak!” Karim semakin bersemangat mendengar desahan Shifa. Pria itu terus bermain dengan buah d**a Shifa. Selain itu, satu tangan pria itu sibuk memainkan intim Shifa yang membuat desahan gadis itu semakin tidak karuan. Shifa pada akhirnya hanya pasrah dengan Karim membuatnya tidak karuan. Pusaka Karim akhirnya menggesek pintu masuk intim Shifa. Shifa menyadari bahaya. “Mas, jangan di dalam!” pinta Shifa. Karim tidak mendengarkan dan mulai masuk ke intim Shifa. Intim Shifa langsung memberikan reaksi yang membuat Karim merasakan nikmat. Pria itu segera bergerak maju mundur dengan cepat. Shifa menyerah. Dia hanya bisa berharap pil darurat bisa menghindari situasi terburuk. “Ah! Milikmu luar biasa, Shif!” “Milik Mas juga! Ah! Lebih dalam! Ah!” Shifa harus mengakui bahwa pusaka Karim memang nikmat dan itu bisa membuatnya kehilangan kewarasan kala mereka bergumul. Hanya saja, dia tahu ini sangat salah. “Mas! Aku mau keluar!” “Aku juga Shif!” Shifa menyadari ledakan yang masuk di dalam intimnya, bersamaan saat miliknya keluar. Dia hanya bisa berharap pil darurat sempat mengintervensi sebelum terjadinya pembuahan. Ledakan itu membuat cairan keluar dari intim Shifa. Campuran cairan milik Shifa dan Karim berpadu di sana. Karim mengembuskan napas berat, mengatur napasnya pasca pelepasan. Begitu pula Shifa. Gadis itu menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN