Bab 9

1535 Kata
“Maaf.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Karim. Nada suara itu pun lemah. Shifa hanya bisa memukul tubuh bidang Karim dengan kedua tangan mungilnya. “Berdoalah bahwa pil darurat saya mencegah pembuahan,” komentar Shifa dingin. Gadis itu menatap ke arah pakaiannya yang dirusak oleh Karim. “Lain waktu, kalau Mas memang menginginkan saya, setidaknya beritahu saya dengan benar. Untungnya, saya terbiasa membawa pakaian cadangan,” komentar Shifa lagi. Gadis itu melihat ke jam di dinding. Angka 12:25 melihat balik ke arah mereka. “Saya ada praktikum setelah ini,” jawab Shifa dingin. Karim menyadari maksud Shifa. Sekarang, Karim tidak yakin dia bisa hadir menjaga praktikum jika itu di ruangan Shifa berada. “Apa Mas akan menahan saya di sini?” tanya Shifa lagi. Karim melepaskan tubuhnya dari tubuh Shifa. Pusakanya terasa berat saat meninggalkan intim yang membuatnya nyaman itu. Shifa langsung mengambil pakaian cadangan yang dia simpan dan mengganti pakaiannya. “Biaya jahit lagi,” komentar Shifa datar. Gadis itu melihat ke arah Karim. “Saya harus pulang sekarang. Semakin lambat saya mengambil pil darurat, semakin berbahaya,” ucap Shifa kepada Karim. Karim hanya memberikan anggukan. Dia telah membuat Shifa sangat marah. Shifa pun pamit. Setelah Shifa keluar, Karim mencoba menyusun pikirannya. Tubuhnya menginginkan Shifa, tetapi nalar dan hatinya ingin mempertahankan Cahaya. Karim merasa ini sangat merepotkan. “Ya salahku sih. Aku bodoh meremehkan gadis itu,” komentar Karim kepada dirinya sendiri. Dia seharusnya berpikir seratus kali sebelum melontarkan tantangan kepada Shifa. “Aku harus mempersiapkan diri,” ucap Karim. Dia pun berdiri dan bergegas mandi. “Mas Karim! Syukurlah Anda bisa datang,” sapa Olivia dengan nada girang. Dia melihat bahwa Olivia sendirian mencoba mempersiapkan salah satu dari empat ruangan praktikum. “Yang lain belum datang?” tanya Karim. Olivia menggelengkan kepalanya. “Mas Johan lagi menyiapkan ruangan dua. Terus si Syahid di ruangan tiga,” jawab Olivia. Sepertinya nada Olivia mengisyaratkan tidak suka dengan Syahid. Karim tidak ingin ambil pusing dengan masalah nada Olivia. Dia punya masalahnya sendiri yang sekarang semakin pelik. “Berarti ruangan empat belum ya? Kalau begitu aku jaga di sana,” balas Karim. Olivia menganggukkan kepalanya. “Mohon bantuannya ya, Mas Karim!” pinta Olivia. Karim menganggukkan kepalanya. “Aku ke lab sebentar ambil ponsel buat garap tugas,” ucap Karim kepada Olivia. Dia pun beranjak pergi ke lab. “Oh ya, Mas Karim!” teriak Olivia kala Karim mulai beranjak menuju ruangan tersebut. “Ada apa, Olivia?” tanya Karim yang kaget. “Mas bisa ambilkan absen sekalian? Tadi saya titip Syahid dia malah lupa,” jawab Olivia mengutarakan permintaannya. Karim menganggukkan kepalanya. Kalimat Olivia menjelaskan kejengkelan wanita itu kepada Syahid. “Oke. Nanti aku bawakan ke sini sekalian,” komentar Karim kepada Olivia. “Eh, Mas Karim!” sapa Zachary kala Karim tiba di laboratorium. Karim menaikkan sebelah alisnya. Dia ingat Yusuf mengatakan semua tahun ke-4 harus menyelesaikan tugas Prof Zahari. “Sudah kelar tugas Prof?” tanya Karim kepada Zachary. Zachary menganggukkan kepalanya. “Jelas sudah dong. Saya kan expert-nya,” jawab Zachary dengan bangga. Karim lupa bahwasanya mata kuliah yang dimaksud Yusuf, yang juga diambil kekasihnya, Cahaya, adalah mata kuliah kemahiran Zachary. “Anak-anak sih gak serius ngerjainnya, makanya pada panik,” komentar Zachary santai, “Aku sudah share hasil kerjaku, jadi harusnya anak-anak bisa selesai demo dalam waktu dekat.” Karim harus mengakui Zachary memang mahir dalam bidang itu. Tidak ada yang bisa keluar dari demo Prof Zahari kurang dari 3 jam kecuali dia. Itu menjelaskan tingkat kesulitan beliau. Bahkan, Prof Zahari sendiri punya ketertarikan dengan kemampuan Zachary yang di atas rata-rata. “Enak ya jadi favorit dosen,” goda Karim. Zachary meringis bangga. “Aku ambil absen dan ponsel dulu. Kamu bisa bantu aku siapkan ruangan empat,” komentar Karim lagi seraya mengambil absen yang diminta oleh Olivia dan ponsel miliknya yang ada di meja labnya. “Mas jaga di ruangan empat?” tanya Zachary. Karim akan memberikan konfirmasi dengan anggukan, tetapi saat dia sekilas melihat absen ruangan empat di tangannya, dia berubah pikiran. “Aku ambil ruangan tiga deh, sekalian ngobrol dengan Johan,” jawab Karim. Zachary menganggukkan kepalanya. “Baik Mas. Cuma Mas bisa bantu siapkan ruangan empat ‘kan?” tanya Zachary. Karim berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban. “Bisa kok,” jawab Karim pada akhirnya. Zachary tampak curiga dengan sikap Karim yang tidak cepat tanggap seperti biasanya. Hanya saja, asisten senior tahun ke-4 itu menutup prasangka itu ke dalam benaknya sendiri. Dia tidak ingin salah menghakimi seniornya punya sesuatu yang disembunyikan. “Kalau begitu saya duluan menyiapkan ruangan,” ucap Zachary meninggalkan laboratorium. Karim melihat ke sekeliling laboratorium dan sepertinya mahasiswa Master dan Doktor lagi ramai di sana. Setidaknya, tidak perlu khawatir lab kosong. Dia pun berangkat menuju ruangan satu untuk membawa absen yang dipinta Olivia. “Ah, Mas Karim! Tepat waktu banget!” ucap Olivia dengan nada senang kala menerima absen ruangan pertama. Karim melihat ke jam digital miliknya setelah menyerahkan absen. Angka 13:30 membalas ke arah Karim. “Aku sekarang ke ruangan lainnya ya, supaya bisa segera persiapan absen. Praktikan biasanya akan ngumpul sekitar 10 menit lagi,” jawab Karim kepada Olivia. Olivia memberikan anggukan sebagai respons. “Siap Mas,” jawab Olivia dan Karim pun bergegas ke ruangan kedua. Di ruangan kedua, Karim melihat Johan sibuk bertarung dengan satu komputer yang mengalami error terkait program praktikum. Karim memutuskan untuk membantu temannya itu dan berhasil memperbaiki program itu. “Wah, pas banget kehadiranmu, bos,” komentar Johan kepada Karim. Karim menganggukkan kepalanya. “Jujur tadi agak telat karena bantu ambil absen dulu,” ucap Karim menjelaskan. Johan menganggukkan kepalanya mengerti. “Memang merepotkan ya praktikum. Seperti biasanya,” komentar Johan yang membuat Karim tersenyum. Johan lalu menambahkan, “Apalagi praktikum maba.” “Setidaknya gak ribet macam praktikum lab-mu itu. Laporanku lho kamu robek dulu!” balas Karim kepada Johan. Johan nyengir mendengar kalimat Karim. “Ya soalnya kamu yang paling dikit SKS, jadi layak tumbal lah. Aku mikir panjang itu sebelum ngerobek di depanmu,” bela Johan, “Aku juga kasih A buat praktikum mu tahu!” lanjutnya. Karim menepuk pundak Johan. “Iya, tapi tolong jangan dirobek depan maba juga kali. Kasihan mereka,” pinta Karim. Johan menaikkan sebelah alisnya, “Gak salah dengar nih bro? Kamu gak salah makan ‘kan?” Karim yang menyadari kalimatnya, segera membuat tambahan, “Maksudnya kasihan baru maba sudah dihajar dua kali. Nanti lah waktu praktikum lab-mu kalau mau ngehajar pakai robek-robek.” Johan menganggukkan kepalanya, mengerti maksud Karim. Mahasiswa baru di jurusan mereka memang mendapatkan treatment buruk. Sudah menjadi tradisi yang susah dipatahkan. Sebenarnya, Karim membuat kalimat itu kepada Johan karena sebelum inside Shifa terjadi, Johan-lah awal dari ambruknya nilai praktikum Shifa. Karim memang selama ini apatis, membiarkan saja karena memang format laporan salah pantas untuk mendapatkan robek. Hanya saja, mungkin instingnya untuk melindungi Shifa membuat dia mengeluarkan kalimat tadi kepada Johan. Karim tidak menyukainya kala dia menyadari keteledorannya. Tidak suka karena sekarang dia mulai memperhatikan kondisi Shifa. “Aku ke lab sebelah dulu. Syahid dan Zachary belum dapat absen,” ucap Karim mengalihkan pembahasan. Johan menganggukkan kepalanya dan Karim bergegas. “Syahid, ini absen buat ruangan ketiga,” ucap Karim kala masuk ruangan ketiga. Syahid yang duduk di meja depan dan sibuk mengetik hanya menganggukkan kepalanya. “Mas Karim letakkan saja dulu. Saya lagi menyelesaikan desain permainan saya,” ucap Syahid dengan nada dingin. Karim meletakkan absen itu di samping laptop Syahid. Memahami bahwa Syahid sedang fokus, Karim langsung ke ruangan berikutnya. Zachary tampak sibuk memperbaiki jaringan kala Karim tiba di ruangan itu. “Perlu bantuan?” tanya Karim. Zachary menggelengkan kepalanya. “Tinggal jaringannya saja. Yang lain sudah beres. Komputer semua oke,” jawab Zachary. Karim menyerahkan absen kepada Zachary. “Ini absennya,” ucap Karim. “Makasih Mas,” jawab Zachary. Karim pun bergegas menuju ruangan kedua. “Mas Karim,” ucap Zachary sebelum Karim keluar. Karim menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ada apa, Zachary?” tanya Karim. “Jika Mas perlu bantuan terkait masalah Mas, saya selalu siap membantu,” jawab Zachary. Karim merasa tersentuh dengan kepedulian Zachary dan memberikan anggukan. “Kalau aku perlu bantuan, aku akan beritahukan,” balas Karim dengan senyuman gembira. “Oh, satu lagi Mas. Siapa ‘Shifa praktikan’?” tanya Zachary yang membuat Karim terkejut. Karim terdiam mendengar kalimat Zachary. Pertanyaan itu keluar di waktu yang tidak tepat. “Salah satu praktikan kita. Aku asisten dia,” jawab Karim datar. Zachary tampak tidak puas. “Saya tidak tahu ada masalah apa, tetapi saya akan berpura-pura tidak melihat semua yang telah saya lihat. Asal Mas ingat, asisten lab senior akan condong pada Cahaya jika Mas dan Cahaya berkonflik,” pesan Zachary. Kalimat itu dingin, seakan sebuah panah bertuliskan ‘peringatan’ baru saja menancap di samping Karim. “Aku paham, Zachary. Aku berterima kasih kamu mau menutup mata,” ucap Karim kepada Zachary. Zachary menggelengkan kepalanya. “Saya condong berpihak pada Mas karena saya berhutang budi pada Mas sewaktu kuliah Pemrograman Aplikasi Bergerak dulu,” balas Zachary. Karim memberikan anggukan memahami maksud Zachary. “Hanya kamu ‘kan?” tanya Karim. “Hanya saya,” jawab Zachary. Pria itu tampak menahan diri untuk mengatakan kalimat tambahan dan mencukupkan kalimatnya. Karim menganggukkan kepalanya dan pamit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN