“Kamu terlihat kurang fit, Shifa.”
Shifa menggelengkan kepalanya mendengar komentar perempuan rekan satu kelompok sekaligus teman akrab dia di kampus, Cory. Shifa menahan kepalanya yang pusing setelah meminum pil darurat. Karim benar-benar menghajarnya tanpa memberi peringatan.
“Dari tadi jelas menurutku kamu pusing, Shifa,” komentar Cory lagi. Shifa kembali menggelengkan kepalanya.
“Aku cukup fit untuk praktikum kok,” balas Shifa kepada Cory. Cory mengembuskan napas berat.
“Kalian dengar sendiri ‘kan?” ucap Cory kepada rekan kelompok Shifa yang lainnya. Sedari tadi, Cory dan Shifa berdebat soal kondisi Shifa yang jelas tidak baik. Shifa tahu itu akibat pil darurat yang dia ambil. Dia harus menggunakan yang teratur saja ke depannya. Jelas dia akan menghadapi Karim secara berkelanjutan sekarang.
Memang, semenjak awal dia yang menjerat Karim. Hanya saja, tadi siang dia tidak menduga Karim akan menyerangnya tanpa ampun. Kalau bukan kebiasaannya mempersiapkan pakaian cadangan kemana pun dia pergi, akan sulit menghadapi situasi tadi. Shifa pikir setelah peristiwa kemarin dimana Karim ingin melupakannya, semua sudah baik-baik saja dan tidak akan ada serangan dadakan seperti hari ini. Shifa berpikiran naif jika dia bisa dengan mudah melepaskan pengaruhnya pada Karim.
“Aku pribadi sependapat dengan Cory. Kamu memaksakan diri, Shifa,” komentar sepupu perempuan Cory yang juga praktikan satu kelompok Shifa, Nora.
“Aku juga sependapat dengan Cory dan Nora,” komentar seorang praktikan pria yang merupakan kekasih Nora, Adit.
“Ya, terus Yesaya juga akan setuju gitu?” keluh Shifa seraya melihat seorang pria yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka. Pria yang bernama Yesaya itu mengembuskan napas berat.
“Ini praktikum individu. Kelompok hanya berlaku saat asistensi,” komentar Yesaya, “Apa kamu mampu mengerjakan soal dengan kondisimu?” tanyanya kepada Shifa. Shifa menganggukkan kepalanya.
“Aku cukup mampu kok,” jawab Shifa membela diri. Yesaya mengembuskan napas berat.
“Baiklah. Kalian bertiga dengar dia ‘kan?” tanya Yesaya kepada Cory, Nora, dan Adit. Cory langsung melayangkan protes.
“Tapi jelas banget lho dia itu pusing!” jawab Cory kukuh. Yesaya mengembuskan napas berat.
“Aku akan bicara dengan asisten yang jaga soal kondisimu, Shifa,” ucap Yesaya pada akhirnya. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Mereka pasti akan melarangku masuk,” keluh Shifa.
“Aku akan negosiasi dulu,” balas Yesaya datar. Shifa, Cory, Nora, dan Adit menaikkan alisnya. Negosiasi macam apa yang mau dilakukan Yesaya?
Yesaya meninggalkan mereka berempat untuk bertemu dengan asisten yang berjaga. Cory menatap tajam ke arah Shifa.
“Kamu keras kepala banget kalau sakit ya, Shif,” keluh Cory.
“Aku perlu nilai praktikum ini, Cory!” bela Shifa. Cory menggelengkan kepala.
“Kan bisa ambil susulan!” balas Cory. Shifa menggelengkan kepalanya.
“Apa asisten kita bakal peduli!?” balas Shifa ketus. Dia tidak ingin membuat Karim dalam posisi lebih sulit lagi dengan nilai A nya muncul tanpa dia praktikum.
“Ini Mas, rekan saya yang kurang fit.” Suara Yesaya membuat empat orang itu menoleh ke arah Yesaya dan seorang asisten praktikum dengan nama ‘Zachary’.
“Topaz atas nama Shifa Sakinah ya?” tanya Zachary.
“Benar, Mas Zachary,” jawab Yesaya datar. Shifa menatap ke arah asisten itu dan menyadari asisten itu seakan sedang menilai dirinya. Sekilas, mungkin dia sedang menilai kesehatan Shifa. Hanya saja, Shifa merasa bukan itu yang sedang dinilai oleh Zachary.
“Kalian di bawah Karim Zahid ‘kan ya?” tanya Zachary. Yesaya menganggukkan kepalanya. Shifa merasa mual mendengar nama itu.
“Saya pribadi akan mengeluarkan mereka yang tidak fit praktikum untuk susulan. Hanya saja, sepertinya kalian seperti saya yang paham Mas Karim tidak memberikan susulan,” komentar Zachary.
“Kebetulan Mas Karim jaga hari ini,” lanjut Zachary yang mengejutkan semua anggota Topaz, terutama Shifa. Sebelum Zachary memberikan komentar berikutnya, seorang asisten wanita menepuk pundak Zachary.
“Zachary, itu anak-anak pada persiapan kok kamu di luar?” tanya asisten dengan tagar nama ‘Mary’ yang baru saja datang.
“Oh, Mary, sudah selesai Prof Zahari?” tanya Zachary. Mary menggelengkan kepalanya.
“Iya. Sama Yusuf juga. Yusuf ke lab sebentar mau cek skripsi dia,” jawab Mary. Zachary menganggukkan kepalanya.
“Ini ada apa? Itu yang di dalam rame loh,” tegur Mary seraya menunjuk ke kelompok lain yang ada di dalam ruangan.
“Ini ada maba sakit,” jawab Zachary, “kelompok Mas Karim,” lanjutnya. Mary langsung mengatakan ‘oh’.
“Aku urus ruanganmu kalau gitu ya,” komentar Mary.
“Makasih, Mary,” balas Zachary. Mary bergegas ke dalam ruang empat.
“Ah, sampai mana tadi,” ucap Zachary kepada Shifa dan rekan timnya. Yesaya langsung memberikan jawaban.
“Sampai Mas Karim ada shift jaga,” jawab Yesaya. Zachary menganggukkan kepalanya.
“Makasih, Yesaya,” balas Zachary, “Karena itu, aku panggilkan dia ya.”
Shifa masih tidak ingin bertemu dengan Karim. Dia masih marah karena situasinya sekarang ada akibat pria itu. Kalau saja pria itu menahan diri, dia tidak perlu pusing seperti sekarang. Shifa ingin protes, tetapi Yesaya telah menyetujui tawaran Zachary.
“Tidak membantu situasi, Yesaya,” komentar Shifa setelah Zachary meninggalkan mereka.
“Siapa tahu Mas Karim mau mempertimbangkan, Shifa,” balas Cory penuh harap. Shifa tidak ingin memberikan komentar apapun. Dia tidak berharap Karim akan memberikan kompensasi apapun. Apalagi setelah dia dengan dingin meninggalkan pria itu setelah pergumulan mereka siang tadi.
“Siang, Mas Karim,” sapaan hormat Yesaya membuat Shifa kembali ke dunia nyata. Tentunya, dengan kepalanya yang pusing dan sekarang perutnya terasa sakit.
“Siang,” jawab Karim kepada Yesaya.
Shifa menyadari Karim berfokus kepada Yesaya dan seakan menghindar dari menatap dirinya. Yesaya sendiri mencoba menjelaskan kondisi dirinya kepada Karim.
“Jadi, intinya Shifa tidak fit ya?” komentar Karim setelah mendengar penjelasan Yesaya. Yesaya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Aku rasa kali ini tidak apa. Dia boleh ikut susulan. Asistensi tetap ikut aturan tujuh hari kerja dari hari ini,” komentar Karim kepada Yesaya. Shifa menahan diri untuk tidak terkejut dan berpura-pura terkejut. Dia melihat rekan-rekannya menatap ke arah Karim dengan tatapan ‘serius?’.
“Aku gak akan mentolerir kejadian serupa. Anggap saja hari ini aku lagi baik,” komentar Karim lagi. Cory, Nora, dan Adit tampak kecewa. Yesaya berterima kasih kepada Karim.
“Shifa, masa kamu gak terima kasih?” tanya Yesaya. Shifa menatap ke arah Karim. Dia harus menutup semua hubungan mereka dan berlagak seperti praktikan dan asisten.
“Terima kasih, Mas Karim,” ucap Shifa pelan. Karim tidak memberikan balasan dan segera beranjak pergi. Pria itu bahkan tidak melihat ke arahnya.
“Huh, aneh. Biasanya Mas Karim minimal jawab,” komentar Zachary setelah Karim menghilang ke ruangan dua. Shifa menyadari Zachary, asisten ruangannya sekarang, mengetahui sesuatu berkaitan dengan relasinya dan Karim.
“Kalau begitu, kamu tunggu di luar ya, Shifa. Mary akan menemanimu,” ucap Zachary. Shifa menganggukkan lemah. Pilnya mulai memberikan efek yang lumayan mengganggu.