Shifa melihat ke arah jam. Hari sudah melewati jam sembilan. Kelas fisika yang seharusnya dia hadiri jelas sudah kacau balau. Ada banyak panggilan tidak terjawab dari Cory, mengisyaratkan temannya itu menyadari bahwa Shifa ketiduran. “Maafkan aku, Cory,” lirih Shifa pelan seraya menutup ponselnya. Pusaka Karim masih berada di dalam tubuh Shifa. Perlahan, gadis itu menyingkirkan diri dan mulai bersiap untuk kembali ke tempat tinggalnya sendiri. Shifa menyempatkan diri untuk membuatkan Karim makanan dengan memasakkan sesuatu berdasarkan apa yang pria itu miliki di apartemen. “Terkadang, aku berharap aku tidak melakukan kegilaan itu,” ucap Shifa dengan nada pelan saat berada di lift. Suara seorang wanita di lift itu mengejutkan Shifa. “Shifa Sakinah ‘kan?” tanya wanita itu dengan nada sant

