Karim terdiam kala menyadari apa yang telah dia katakan kepada Shifa setelah gadis itu meninggalkan ruang laboratorium. Pria itu menggelengkan kepala dengan bagaimana tubuhnya terus menginginkan gadis itu. Bahkan, kehadiran Shifa saja cukup untuk membuatnya kehilangan akal. Mempertahankan dirinya untuk tidak ingin menyentuh Shifa sangatlah sulit sepanjang asistensi tadi. Kehadiran Shifa, meskipun dia tidak melihat dari matanya, kecuali hanya sedikit, sangat membuat dirinya tidak nyaman. Setidaknya, dia masih bisa mempertahankan diri untuk tidak menunjukkan semua kesulitan itu. Hanya saja, tangan Karim bergetar setiap Shifa menjawab pertanyaannya. Setidaknya, dengan tidak melihat ke arah Shifa, Karim masih bisa mengendalikan dirinya yang ingin sekali menerkam Shifa saat itu pula. Keberada

