BAB 21: Bermalam Lagi

1471 Kata
Suara musik masih terdengar meski kini sudah memasuki tengah malam, tawa orang-orang semakin keras. Mereka duduk berkumpul di halam tengah mengobrol, bercerita satu sama lainnya mengenai banyak hal yang pernah terjadi. Semua perbincangan mengalir begitu saja seakan mereka sudah mengenal dekat satu sama lainnya. Banyak hal memalukan yang mereka cerita tanpa beban karena di bawah pengaruh alcohol. Rosea yang semula berniat pulang lebih awal kini masih duduk dengan betah, mendengarkan pembicaraan semua orang asing menyegarkan dan menyenangkan untuk di simak. Rosea merasa senang karena untuk pertama kalinya merasakan pesta yang seperti itu. Penilaian buruk Rosea pada pesta Atlanta yang dulu sempat dia anggap liar kini berubah. Rosea menuangkan segelas wine lagi dan menegaknya, wajahnya terlihat memerah terbawa pengaruh alcohol yang sudah dia minum lebih dari tiga gelas malam ini. Perut Rosea terasa panas, namun dia malas untuk beranjak. Keseruan perbicangan orang-orang mulai tidak Rosea dengar, satu persatu orang beranjak pergi memilih pulang karena sudah sangat larut. Begitu pula dengan Frans yang mendadak hilang karena pergi bersama Beca, teman lamanya. Rosea meringkuk di kursi kayu pinggiran kolam sambil meracau merasakan pusing yang membuat dia tidak kuat untuk berdiri karena pandangannya berputar-putar. Rasa pusing membuat harus merangkak seperti bayi ketika merasakan kandung kemihnya mendesak untuk pergi ke toilet. Rosea harus segera pulang. Rosea merangkak di sisi kolam dan mengomel setiap kali tangannya menyentuh dinginnya air. Tubuh Rosea oleng sama seperti pandangannya oleng berputar. Sebuah tangan besar menangkap pinggang Rosea yang hampir saja terjebur ke kolam. Rosea tidak bisa berdiri sedikitpun, bahkan dia lupa caranya berjalan. “Kamu mau ke mana?” Rosea mengangkat kepalanya dan meringis, matanya menatap sayu begitu berat untuk berkedip. Rosea berusaha terbuka lebar matanya untuk melihat siapa yang berbicara dengannya. “Toilet, perutku ada apinya, panas banget,” ringisnya menahan sakit di perutnya. “Kamu benar-benar mabuk,” Atlanta membungkuk memangku Rosea yang reflex memeluk lehernya dan menyentuh-nyentuh wajah pria itu karena tidak mengenalinya. “Kamu siapa?” “Tetangga kamu.” “Aku tidak punya tetangga!” Atlanta mendengus geli, langkah semakin lebar berjalan dengan cepat hendak membawa Rosea ke kamar. Pelukan Rosea tiba-tiba mengerat, wajahnya tersembunyi di ceruk leher Atlanta dengan mata terpejam erat. “Jangan ngebut dong, aku kan takut jatuh. Kamu mau bawa aku terbang ke mana? Aku kan mau ke te to to aduh apa ya. To le… b******k, apa sih aku lupa” Rosea terbata-bata dan memaki kesusahan mengeja dan menyebutkan toilet. Atlanta sedikit terkekeh geli mendengarkan racauan Rosea yang menggerutu karena tidak bisa menyebut toilet. *** Penglihatan Rosea terlihat samar dan berputar, dia mencari keran untuk mencuci tangan yang sejak tadi dia temukan. “Frans, kamu pindahkan ke mana keran tempat cuci tangan?” tanya Rosea mulai tidak jelas. Rosea menyisir sisi-sisi kamar mandi dan berdiri di depan cermin melihat bayangannya sendiri, tangannya tidak berhenti memancari-cari keberadaan keran. “Frans, aku akan mengadukan kenalakanmu kepada Karina. Aku tidak akan memaafkanmu Frans, kamu ke manakan kerannya?” Teriak Rosea mendadak marah. Tiba-tiba Rosea tersenyum lebar sambil menunjuk dirinya sendiri yang terpantul di cermin, “Permisi Bu, Anda tahu tempat cuci tangan?” tanya Rosea dengan sopan. Rosea sudah tidak mengenal dirinya sendiri lagi. “Anda tidak mengerti bahasa saya?” tanya Rosea lagi pada dirinya sendiri di depan cermin. “Di manakah sinki?” tanya Rosea dengan bahasa melayu. Tidak kunjung mendapatkan jawaban, Rosea kembali bertanya pada cermin dengan bahasa asing lainnya. Rasa mual dan panas perlahan menyiksa perut Rosea, dengan sempoyongan dia menyisir dinding lagi dan berakhir dengan masuk melompat ke dalam bath up, lalu menyalakan air. Rosea tersenyum lebar berterima kasih sambil mencuci tangannya karena akhirnya menemukan air yang di carinya. Sementara itu, Atlanta yang menunggu, kini mulai gelisah dan khawatir. Sesekali pria itu melihat ke belakang dan memperhatikan daun pintu yang terbuka, sudah lebih dari sepuluh menit Rosea berada di dalam, namun wanita itu tidak menunjukan tanda-tanda akan keluar. Suara air yang terjatuh dan teriakan Rosea membuat Atlanta langsung mendorong pintu dan segera masuk. “Astaga, apa yang kamu lakukan?” Atlanta berteriak panik, melihat Rosea duduk di balam bathup dengan air yang sudah penuh hingga tumpah ruah. “Di sini banjir. Awas! Awas jangan mendekat” Teriak Rosea yang kini duduk santai di bathup. Dengan panik Atlanta mematikan air dan menarik Rosea untuk segera bangkit, Rosea tidak banyak minum, namun efek mabuknya benar-benar sangat kacau dan merepotkan Atlanta. Jika tingkat keparahan mabuk Rosea seperti ini, Atlanta tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Rosea yang mabuk berat akan bersikap tidak terkendali, jika Atlanta meninggalkannya begitu saja, kemungkinan akan terjadi sesuatu pada tetangganya itu. *** Tubuh Rosea terhempas jatuh ke kursi, wanita itu tertawa dalam racauan melihat samar Atlanta yang kini berdiri bertolak pinggang di hadapannya. Atlanta segera pergi ke lemari dan melihat-lihat pakaian yang tersedia di sana. Tidak ada satupun pakaian yang aman bisa Rosea kenakan. Tiba-tiba Atlanta teringat pakaian Rosea yang tertinggal, sekilas Atlanta melirik Rosea yang kini merangkak berusaha turun dari kursi, bagusnya Rosea tidak kunjung turun karena takut melihat lantai. Mungkin tidak akan apa-apa jika Rosea di tinggal beberapa menit, Atlanta juga harus memastikan sudah tidak ada siapapun lagi di rumahnya. Atlanta harus memastikan tidak terjadi apapun. Cepat-cepat Atlanta berlari pergi meninggalkan Rosea seorang diri. Kepergian Atlanta membuat Rosea meracau frustasi karena tidak bisa turun dari kursi, wanita itu memarahi kesunyian sampai akhirnya melompat turun dan menggulingkan dirinya ke lantai. Rosea perlahan bergerak menelusuri sisi kamar, melewati lemari-lemari dan berakhir di depan sebuah lemari pendingin mini di bawah meja. Rosea membukanya dan mencari-cari sesuatu, tangan Rosea menangkap sebuah botol minuman alcohol lagi. “Tenggorokanku, arght panas sekali,” gerutu Rosea mencoba membuka tutup botol minuman itu dengan kedua tangannya hingga memakai giginya, lalu mengaitkannya pada ujung meja. “Arght.” Tanpa sengaja kukunya memukul lehernya sendiri dan menciptakan goresan. “Kenapa kamu memukulku? Apa salahku?” Teriak Rosea menatap tajam tangannya sendiri yang terkepal. “Kurang ajar!” Rosea memukul-mukulkan tangannya pada lantai. Rosea menangis frustasi mulai merasakan sakit di bibirnya karena goresan tutup botol, wanita itu mengusapnya dengan punggung tangan. Rosea histeris menangis semakin keras melihat darah di tangannya. “Penjahat! Aku akan melaporkanmu! b******n!” maki Rosea dengan tangisannya yang meringis merasakan perih di bibirnya. “Sudah cukup” Atlanta yang sudah kembali merebut botol minuman di tangan Rosea dan menyimpannya. Atlanta memangku Rosea kambali dan membawanya ke kursi. “Astaga,” Atlanta mendesah frustasi, melihat Rosea yang kini terluka dan menangis sambil memarah-marahi tangannya. “Sudah cukup Sea, sekarang kamu ganti pakaian kamu,” pinta Atlanta dengan serius. Kepala Rosea terangkat menatap Atlanta, wanita itu terisak seraya mengusap sudut bibirnya lagi. “Tidak mau!” Atlanta mengusa wajahnya, pria itu mendesah frustasi, lama mereka tidak bertemu, rupanya Rosea benar-benar tidak berubah. Selalu heboh dan tidak bisa diam saat mabuk. “Kamu benar-benar merepotkan setiap kali mabuk.” “Memangnya kenapa?” teriak Rosea menyelak. “Jangan karena kamu tampan dan keren kamu mengomentariku seenaknya.” Atlanta terkekeh geli mendengarnya, “Biasanya orang mabuk bicara dengan jujur. Aku berterima kasih atas pujianmu.” Tubuh Rosea yang perlahan merasakan kedinginan terlihat sedikit gemetar, namun alih-alih bangun, dia malah tertidur di lantai. “Aku tidak mabuk, siapa yang mabuk?” gumam Rosea setengah menguap mengantuk. Sikap Rosea yang berubah-ubah di beberapa situasi karena mabuk semakin mengingatkan Atlanta pada pertemuan aneh mereka yang masih melekat dalam ingatannya. Atlanta bertanya-tanya, apakah Rosea masih mengingatnya juga? Atlanta menghela napasnya dengan berat, pria itu mengenyahkan lamunan kecilnya dari masa lalu. Perlahan Atlanta membungkuk di hadapan Rosea. “Sea bangunlah, ganti baju, nanti kamu sakit. Atau mau aku gantikan?” “Jangan menggodaku!” Geram Rosea memukul udara dan menunjuk-nunjuk lemari yang berada di sampingnya, “Jangan besar kepala karena kamu tampan dan keren. Kamu harus tahu, aku tidak tertarik pada pria yang lebih muda dariku. Kamu menggodaku mau menantangku hah? Ayo! Ayo! Ayo aku tidak akan takut! Kamu mau aku buka baju? Oke! Aku akan buka baju sekalian hapus make up biar kamu lihat wajah asliku. Aku tidak akan malu sama kamu karena aku tertarik sama kamu!” Atlanta menutup mulutnya menahan tawa kecilnya mendengarkan celotehan Rosea yang tidak berhenti marah dan menilai negatif dirinya. “Aku tidak menantang kamu,” jawab Altanta dengan tawa yang tertahan. Atlanta membungkuk memangku Rosea dan memindahkan dia ke ranjang. Energy Rosea yang marah-marah mulai kendor, Rosea mulai tidak nyaman dengan baju basahnya yang membuat dia kedinginan, bahkan Rosea menarik kalung dia kenakan dengan keras hingga kalungnya terputus. “Arght” Rosea meringis kesakitan mengusap sisi lehernya yang kembali terluka. Wanita itu kembali menangis kesakitan, sempurna sudah luka yang dia dapat malam ini karena ulahnya sendiri. Tubuh Rosea terjatuh ke belakang, kali ini dia tidak banyak bicara dan tidak lagi bersikap aneh, bibirnya sudah sangat sakit untuk di gerakan. Perlahan Rosea memejamkan matanya dan tertidur, mau tidak mau akhirnya Atlanta mengganti semua pakaian wanita itu dan memaksanya untuk meminum obat agar mabuknya mereda. To Be Continue..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN