Rosea bergerak gelisah dalam tidurnya merasakan perut yang keram dan sakit, perlahan Rosea membuka matanya, samar dia melihat kearah jendela yang kini terlihat terang di luar sana.
Rosea terdiam mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut kamar yang bukan miliknya. Hangat pelukan seseorang di belakang tubuh Rosea menyadarkan dia bahwa ada seseorang yang kini tidur bersamanya. Perlahan dia bergerak ke sisi, wanita itu terbelalak kaget melihat keberadaan Atlanta yang tertidur di sisinya tengah memeluknya.
Wajah Rosea memucat, dengan cepat dia mengangkat selimut dan melihat jika pakaiannya sudah berganti.
Tuuh Rosea mematung, wanita itu termenung mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi padanya semalam hingga berakhir tidur satu ranjang dengan Atlanta di sini.
Tidak mungkin kan Rosea melakukan one night stand dengan tetangganya?
Rosea memukul keras kepalanya yang pusing karena efek alcohol. Ini sangat memalukan, Rosea sampai tidak tahu harus berkata apa jika nanti Atlanta terbangun.
Rosea harus segera pergi sebelum Atlanta terbangun, dia harus menghindar untuk tidak bertemu Atlanta sementara waktu hingga pria itu melupakan apa yang telah terjadi dan memaafkan tindakan bodoh Rosea.
Hati-hati Rosea meraih tangan Atlanta dan mengangkatnya, Rosea berusaha melepaskan diri dari pelukan Atlanta.
Sayangnya, rencana Rosea tidak berhasil karena tangan kokoh itu terjatuh kembali dan memeluk pinggangnya, tubuh Atlanta semakin bergeser mendekat memenjarakan Rosea dalam pelukannya. Pria itu rupanya terbangun.
“Mau ke mana? Kabur?” tanya Atlanta dengan suara parau.
Rosea terdiam, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena terlalu panik dengan keadaannya sekarang.
“Setelah membuat kekacauan sepanjang malam, kamu mau pergi tanpa tanggung jawab huh?” tuntut Atlanta terdengar kesal.
“Aku.. aku ingin ke toilet dulu, nanti kita membicarakan masalah semalam,” ucap Rosea terbata.
Perlahan Atlanta melepaskan pelukannya dan membiarkan Rosea berlari sempoyongan pergi ke toilet.
Atlanta terduduk di ranjangnya, pria itu mendesah kkesal karena sepanjang malam harus terjaga menjaga Rosea yang tidak bisa diam sampai-sampai Altanta harus mengambil tindakan mengikat kedua tangan wanita itu agar bisa diam.
Merepotkan? Sesungguhnya tidak begitu merepotkan, apa yang terjadi semalam justru terasa menghibur karena hal itu tidak terjadi untuk pertama kalinya, Atlanta pernah melewati moment yang sama seperti itu beberapa tahun yang lalu bersama Rosea juga. Hanya saja, pada saat itu situasinya lebih intim dan panas karena dua berada dalam kesadaran.
Tidak berapa lama Rosea kembali keluar, Rosea terduduk di sisi ranjang dengan kepala tertunduk enggan menatap karena malu. Padahal semalam, Rosea berani minum karena dia sedang bersama Frans.
Biasanya, setiap kali Rosea mabuk, Karina atau Frans, mereka selalu selalu ada di samping Rosea. Mereka berdua selalu mengantar Rosea pulang dengan selamat.
Rosea tidak akan pernah berani mabuk jika dia tidak bersama dengan Karina atau Frans. Sialnya, sepertinya malam kemarin Frans pergi melupakan dirinya padahal Frans sendiri yang memaksa Rosea ikut pesta.
“Katakan, apa yang terjadi semalam?” tanya Rosea pelan.
Atlanta menekan bibirnya membentuk garis, pandangan terjatuh pada kaki jenjang Rosea yang kini memiliki memar biru, bibirnya memiliki bekas luka, leher, bagian d**a, dan tangannya memiliki goresan. Murni karena kelakuan Rosea sendiri.
Atlanta menepuk-nepuk sisi ranjang mengisyaratkan Rosea untuk duduk lebih dekat, dengan patuh Rosea bergeser semakin mendekat dan duduk di samping Atlanta.
“Kamu tidak ingat kejadian semalam?” tanya Atlanta.
Rosea menggeleng, namun matanya melirik tubuh telanjang Atlanta yang kini di hiasa beberapa tanda merah dan goresan. Batin Rosea bertanya-tanya, apakah itu ulahnya?
“Aku tidak ingat” jawab Rosea menahan tangisannya. “Aku minta maaf, aku sunggguh tidak bermaksud berbuat hal yang buruk, ku pikir Frans akan membawaku pulang. Aku minta maaf jika sudah membuat kekacauan dan merepotkanmu, aku sungguh tidak ingat apa-apa. Aku bersumpah,” jawab Rosea terbata sambil mengusap sudut matanya yang berair.
Sikap Rosea terlihat seperti anak remaja yang baru melewati pengalaman pertamanya.
Atlanta membuang napasnya dengan kasar, semalam tidak hanya masalah mabuk dan kekacauan saja yang sudah Rosea ciptakan. Dia juga menggoda Atlanta merayukan dalam cumbuan, karena alasan itu jugalah Atlanta mengikat kedua tangan Rosea.
Harga diri Atlanta terluka jika melewati malam panasnya dengan wanita yang tidak memiliki kesadaran.
“Apa yang terjadi? Apa aku melakukan kesalahan yang fatal?” tanya Rosea lagi.
“Lihat ini” Atlanta menunjuk semua tanda merah di tubuhnya. “Kamu melakukannya.”
“Ta, ta tapi, aku tidak ingat apapun” bela Rosea frustasi.
“Aku tahu.”
“Kamu tidak marah denganku?”
Atlanta mengedikan bahunya terlihat tidak peduli, “Aku menikmatinya, semalam cukup panas.”
“Jangan bicara sembarangan!” teriak Rosea marah, Atlanta menanggapinya dengan tawanya.
Suara ketukan di pintu terdengar membuat Atlanta segera turun dari ranjangnya dan pergi membuka pintu.
“Ada apa?” Tanya Atlanta pada assistant rumah tangganya.
“Pak Michael datang. Beliau ada di bawah” bisik Lidia memberitahu.
Atlanta terbelalak kaget, “Apa maksudnya? Kakek? Kakek ada di bawah?” tanya balik Atlanta dengan serius.
“Iya, beliau menunggu Anda.”
“Astaga” Atlanta langsung menutup pintu dan melihat Rosea yang masih duduk di ranjangnya, dengan tergesa Atlanta berlari, meraih tangan Rosea agar dia segera pergi secepat mungkin.
“Ada apa? Kenapa kamu panik?” tanya Rosea kebingungan.
Genggaman tangan Atlanta menguat, beberapa kali dia mengatur napasnya untuk bisa berbicara dengan benar. Dalam satu tarikan napas panjangnya akhirnya Atlanta berkata, “Sea, kamu harus segera keluar dari rumah ini, kakekku datang dari Amerika. Dia akan marah besar jika ada wanita di rumah dan mengetahui jika aku hanya menghabiskan waktu untuk berpesta di sini, sekarang paham?” Jelas Atlanta dengan napas memburu.
Penjelasan singkat Atlanta ikut membuat Rosea panik, tanpa berkata-kata lagi Atlanta langsung menarik tangan Rosea hendak membawanya pergi keluar. Atlanta harus segera membawa Rosea keluar dari rumah ini agar semuanya tidak menjadi masalah.
Dalam satu tarikan kasar Atlanta membuka pintu, langkah Atlanta dan Rosea tertahan di tempat karena kini, Michael kakek Atlanta sudah berada di depan pintu menatap keduanya bergantian.
“Kalian mau ke mana?” tanya Michael dengan tenang.
Atlanta menelan salivanya dengan kesulitan, dia tidak mampu berkata-kata untuk menjawab, dia cukup takut jika Michael langsung mengusir Rosea dan membuat Rosea tidak nyaman. Ini akan mengacaukan hubungan pertentanggaan mereka yang baru saja akan membaik.
“Kakek?” Rosea memanggil Michael dengan ragu, sudah sangat lama dia tidak bertemu, namun Rosea sangat yakin jika pria paruh baya yang berdiri memakai tongkat di hadapannya sekarang adalah kakek yang sudah menjual tanah padanya. Tanah yang Michael jual itu, kini sudah di bangun rumah, rumah itu kini berdiri berdampingan dengan rumah Atlanta.
“Kamu kenal kakekku?” tanya Atlanta.
Rosea mengangguk.
“Kalian, ikut aku,” titah Micahel dengan tegas.
***
Prince memanjat naik kursi dan segera duduk. Tangan mungilnya menjangkau segelas s**u dan meminumnya. Kepala Prince bergerak ke sisi memperhatikan Leonardo yang kini mengeluarkan dua piring menu makanan dari dalam sebuah oven.
Leonardo membawanya dan meletakannya di hadapan Prince, “Awas panas.”
Prince mengangguk dengan senyuman. “Terima kasih,” ucap Prince begitu Leonardo memberikan sarapan untuknya.
Leonardo segera bergabung duduk dan memulai sarapan paginya bersama-sama. Cukup lama Leonardo diam, akhirnya dia mulai angkat bicara kepada Prince. “Prince, apa hari ini kamu mau ke rumah Sea?” tanya Leonardo tiba-tiba.
Prince mengunyah rotinya perlahan, anak itu tidak langsung menjawab karena harus menelan makanannya terlebih dahulu. Prince menggeleng, dan menatap ayahnya dengan bingung. “Semalam kami bertemu, lagi pula Sea sudah berjanji akan sering ke sini. Nanti Sea bosan jika aku sering ke sana.”
Ada cemberutan kecil yang terlukis di bibir Leonardo.
“Sea tidak akan bosan jika kamu sering ke sana.”
Prince tetap menggeleng, menolak tawaran dan bujukan Leonardo. “Sea pasti sibuk bekerja.”
“Kamu tidak rindu Sea?” Tanya Leonardo terus membujuk Prince untuk pergi menemui Rosea meski puteranya tidak mau pergi. Leonardo tidak menyadari bahwa bujukannya kepada Prince hanya akan memperjelas kenyataan bahwa jika dia sendiri yang ingin bertemu Rosea.
“Tidak.”
Leonardo membuang napasnya dengan berat, pria itu terlihat kecewa dengan jawaban Prince.
“Ayah kenapa? Apa sekarang Ayah ingin berteman dengan Sea? Ayah rindu Sea?” tanya Prince dengan polos.
Leonardo membuang mukanya terlihat malu. “Bukan seperti itu” jawab Leonardo terbata. Kejadian semalam membuat Leonardo teringat Rosea, entah mengapa dia gelisah memikirkan Rosea pergi dengan pria lain. Leonardo juga ingin memastikan apakah Rosea ilfeel dengan sikap anehnya atau tidak.
”Ayah” panggil Prince ragu.
“Ada apa?”
“Apa boleh nenek tidak tahu jika aku berteman dengan Sea? Aku takut Sea tidak mau berteman denganku lagi jika nanti di marahi nenek.”
Leonardo mengangguk setuju, sikap pengatur Berta terkadang selalu di luar batas. Memang ada baiknya jika Berta tidak mengenal Rosea.
Akan menjadi bahaya jika Berta tahu Prince memiliki hubungan batin yang kuat dengan orang asing, lebih berbahayanya lagi jika Berta tahu Leonardo sudah mulai menyimpan perhatian kepada Rosea.
***
Rosea duduk dalam kegelisahan, tangannya yang berkeringat dingin saling bertautan tidak dapat menyembunyikan kegugupannya. Rosea terlalu kaget karena Michael, kakek dermawan yang sering bertemu dan mengobrol dengannya di warteg adalah seorang konglomerat. Lebih mengejutkannya lagi dia kakek Atlanta.
Rosea merasa tidak memiliki muka di hadapan Michael. Rosea takut Michael berubah menilai dirinya dan berprasangka buruk kepadanya karena sudah menghabiskan malam bersama Atlanta.
Apa yang harus Rosea katakan jika Michael marah? Untuk membela diripun Rosea tidak bisa karena dia tidak ingat apapun mengenai kejadian semalam.
Sudah dua menit dia duduk, tidak ada percakapan apapun yang terjadi. Micheal hanya diam terus menatap sengit Atlanta, terdengar helaan napasnya yang dalam memberitahukan betapa marahnya dia sekarang.
Di sisi Rosea, Atlanta yang masih berekspresi dingin terlihat tidak terpengaruh sedikitpun dengan tatapan tajam kakeknya yang duduk di hadapannya.
Michael terlihat ingin berbicara banyak hal dengan Atlanta, namun Michael menahan ucapannya.
Tanpa sadar Atlanta tersenyum mengejek, biasanya jika Michael marah dia akan langsung mencak-mencak atau memaki teman malam Atlanta. Namun kali ini respon Michael cukup jauh berbeda dari biasanya. Mungkin karena Michael memiliki kesan yang baik dengan Rosea.
Michael menggeleng dan menghela napasnya lagi dengan kasar, dia tidak habis pikir melihat tubuh telanjang d**a Atlanta yang memiliki banyak tanda, sementara Rosea yang berada di samping Atlanta terlihat acak-acakan dan dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
“Kalian benar-benar memalukan. Dasar anak zaman sekarang” gumam Michael tampak kesal. Michael mengangkat tongkatnya dan menunjuk wajah Atlanta dengan ujung tongkatnya. “Apa hanya ini yang bisa kamu lakukan pada wanita hah?” Michael langsung menyelak pada Atlanta.
“Aku tidak melakukan apapun,” jawab Atlanta dengan tenang.
“Tidak melakukan apapun katamu?” tanya Micahel lagi dengan nada sinisnya.
Rosea semakin tertunduk tidak mau berbicara apapun, dia tidak mau membela diri dalam karangan. Tidak ada yang bisa dia ingat, siapa tahu kan jika semalam mereka melakukan seks?
“Kakek berhentilah marah. Kenapa bereaksi berlebihan? Ini sangat memalukan untukku, lagi pula kami tidak melakukan hal yang buruk.”
“Memangnya apa urusannya denganku jika kalian melakukan sesuatu? Kalian sudah dewasa!” Michael menaikan nada suaranya.
Atlanta dan Rosea saling melihat karena kaget dengan jawaban Michael.
“Lalu, apa yang membuat Kakek marah?” tanya Atlanta dengan hati-hati.
Michael langsung berdiri, kemarahan kian memuncak sampai-sampai Michael melayangkan tongkatnya pada Atlanta.
“Astaga Kakek, jangan memukulku!” ringis Atlanta kesakitan.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu Atlanta, kamu berbuat kasar pada wanita saat bercinta?, biadab kamu! Kamu tidak lihat luka di tubuh dia hah? Sejak kapan kamu jadi suka melakukan tindakan masokis hah? Untuk apa aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi jika kamu tidak tahu edukasi seks sama sekali! anak kurang ajar.”
Atlanta yang terkena tuduhan hanya melongo kaget dengan tuduhan kakeknya yang sudah salah paham.
Dengan kesal Michael kembali duduk. Michael memijat pelipisnya dan berpikir keras menahan amarah. Michael kembali melihat Atlanta dan Rosea bergantian dengan penuh penilaian dan pertimbangan akan sesuatu yang tiba-tiba muncul di kepalanya. “Kalian tengah pacaran?” tanya Michael tiba-tiba.
Seketika Rosea menggeleng, namun Atlanta mengangguk.
To Be Continue..