BAB 23: Jangan Mendekati Rosea

1706 Kata
“Yang benar yang mana? Kalian pacaran atau tidak?” tanya Michael lagi dan kembali berdiri. Sekali lagi Rosea menggeleng, begitu pula Atlanta yang kembali mengangguk. “Yang benar yang mana?” Wajah Atlanta terangkat, membalas tatapan tajam Michael yang kini sudah siap melayangkan tongkatnya lagi kepada Atlanta. “Aku menyukai Sea, namun dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Dia orang yang pernah aku ceritakan kepada Kakek beberapa tahun yang lalu, sekarang sudah cukup?” Michael langsung terdiam begitu mendengar jawaban Atlanta, perlahan dia mundur dan kembali duduk. “Benar, begitu Sea?” Tanya Michael dengan suara yang melembut, kemarahannya hilang entah kemana. Bibir Rosea terangkat hendak menjawab, namun dia kembali mengatupkannya karena sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan Michael. Apa yang harus Rosea katakan? Haruskah Rosea berbohong untuk menyelesaikan pembicaraan ambsrud mereka pagi ini? Rosea mengangguk dengan terpaksa. “Benar” jawabnya samar. “Sea, kamu masih muda dan cerdas. Pilihlah pasangan yang baik, meski anak Atlanta cucu saya, saya keberatan jika kamu menolak dia jika dia tidak bersikap baik kepada kamu.” Rosea mengangguk dengan senyuman canggungnya. “Pergilah ke dokter, jangan lagi mengizinkan siapapun melukaimu. Lihatlah bibir dan lehermu, seseorang mungkin akan berpikir kamu korban kekerasan. Tuntut saja Atlanta jika kamu mau. Saya sangat meminta maaf atas apa yang terjadi,” ucap Michael sungguh-sungguh. Seketika Rosea mengusap sudut bibir dan lehernya, Rosea baru tersadar jika ternyata dia terluka. “Astaga Kakek, aku ini cucu Kakek atau bukan? Kenapa berkata buruk tentangku.” Protes Atlanta mulai keberatan. “Sudahlah. Ini masih sangat pagi. Aku mengantar Sea ke rumahnya, Kakek istirahatlah.” Atlanta langsung beranjak dan menarik tangan Rosea, membawanya pergi dengan cepat sebelum Michael berbicara hal-hal aneh lagi kepada Rosea. *** “Apa yang sebenarnya telah terjadi semalam? Kenapa aku bisa sampai memliki banyak luka seperti ini? Kita tidak melakukan seks dan kamu melakukan b**m kan?” Ucap Rosea dengan rentatan pertanyaannya. Alanta langsung bersedekap dan mendengus kesal. “Tuduhan itu sangat menyakiti hatiku Sea.” Rosea berbalik dan berhenti berkaca pada cermin di depannya, “Katakan saja apa yang sudah aku lakukan semalam sampai membuat aku menjadi seperti korban penganiayaan seperti ini.” “Kamu membuka tutup botol minuman di kamar dengan gigi, melepas kalung dengan tarikan seperti jambret, selebihnya aku tidak tahu.” Rosea langsung terdiam karena malu, kebiasaannya benar-benar tidak berubah sama sekali. Ternyata yang menjadi penyebab semua masalah ini adalah dirinya sendiri, sementara Atlanta hanya kebagian sialnya saja. “Maaf,” bisik Rosea menyesal. “Karena semua kekacauan yang telah kamu buat semalam, aku meminta balasannya Sea.” “Balasan?” “Sea, apa kamu tahu, sebelum kakek menjual tanah di samping rumahku kepada kamu, dia menanyakan pendapatku terlebih dahulu. Dia mengatakan bahwa dia merasa terkesan dengan seorang wanita muda yang memiliki semangat bekerja keras dan berkepribadian baik. Aku ingin kamu bersikap baik kepadaku selama kakek berada di sini beberapa hari ini, jika dia banyak bertanya, jangan membicarakan pesta yang sering aku buat, katakan aku selalu bekerja di rumah.” Rosea bersedekap menatap curiga Atlanta, permintaan pria itu sungguh sederhana, bahkan secara alami dia bisa bersikap baik kepada Atlanta karena kini mereka sudah cukup akrab. “Hanya itu?” tanya Rosea memastikan. Atlanta langsung mengangguk. “Jika hanya itu permintaan kamu, aku setuju.” Atlanta langsung tersenyum dengan mata berbinar senang, pria itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman untuk menandai kesepakatan kecil di antara mereka berdua. Tanpa ragu Rosea menerimanya dan menggenggam tangan Atlanta dengan kuat. “Aku harus pulang,” pamit Atlanta tanpa melepaskan genggaman tangannya. Namun tiba-tiba saja, pria itu menarik tangan Rosea agar Rosea mendekat, tubuh Atlanta membungkuk, mengecup pipi Rosea bersamaan dengan genggaman tangannya yang terlepas. “Sampai jumpa lagi.” Rosea mengerjap kaget, mengusap pipinya sambil memperhatikan kepergian Atlanta. “Dia memang sialan,” dengus Rosea dengan cemberutan, herannya Rosea mulai terbiasa dengan kebiasaan buruk Atlanta. *** “Apa kamu yakin Sea adalah orangnya?” tanya Michael. “Aku sudah memastikannya,” jawab Atlanta dengan tenang. “Bagaiamana perasaan kamu?” “Seperti yang aku katakan tadi, aku menyukainya. Namun dia tidak suka padaku.” Michael berbalik dan menatap tajam cucunya untuk mencari-cari apakah ada sebuah kebohongan di matanya. Tiga tahun yang lalu, di hari ulang tahun Atlanta, Atlanta mendapatkan kabar bahwa ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan dalam perjalanan pulang untuk merayakan ulang tahun Atlanta. Atlanta begitu sedih dan terpuruk karena kepergian ayahnya yang selama ini begitu dekat dengan dia. Kepergian ayahnya membuat Atlanta merasa kehilangan begitu mendalam, Atlanta memutuskan bepergian dalam keadaan pikiran yang labil, untuk pertama kalinya dia melakukan perjalanan bisnis menggantikan ayahnya ke Botswana. Dalam perjalanan bisnis itu Atlanta mengalami kejadian tidak menyenangkan, yaitu mengalami perampokan dan penganiayaan. Atlanta kian di buat frustasi dengan situasinya. Dalam keputus asaan Atlanta bertemu dengan seorang wanita mabuk, wanita itu memaksa Atlanta mengantarnya ke hotel. Di sana Atlanta di obati dan mereka melewati malam panjang saling bercerita satu sama lainnya. Rasa putus asa Atlanta hilang sejak berbicara dengan wanita itu. Karena malam singkat yang mereka lewatkan itu, Atlanta kembali menemukan semangat hidupnya lagi. Di siang harinya wanita itu mengantar Atlanta ke kedutaan untuk meminta pertolongan, di hari itu mereka kembali berpisah, dan sejak saat itu mereka tidak bertemu kembali. Sampai pada akhirnya, beberapa hari yang lalu dan secara kebetulan, Atlanta kembali bertemu dengan wanita yang pernah menolongnya itu. Yaitu Rosea. *** Siang itu terlihat cerah, Rosea mengenakan pakaian golf sambil menjinjing tas yang membawa stick golf kesayangannya. Rosea baru selesai bermain golf sekadar menemani kliennya yang membutuhkan perhiasan dan meminta bertemu untuk bermain golf bersama. Beruntungnya masalah pertemuan ini berjalan sukses. Hari ini terasa melelahkan dan berbeda dari biasanya untuk Rosea, semua itu karena kakacauan tadi pagi yang membuat Rosea malu setengah mati. Rosea butuh teman curhat. Namun sahabatnya Karina, dia tidak bisa di hubungi karena kini Karina berada di Amerika melakukan kencan dengan kekasihnya. Begitu pula dengan Frans yang menghilang bak di telan bumi usai membuat Rosea terjebak dalam masalah bersama Atlanta. Rosea akan menjambak rambut Frans jika nanti mereka bertemu. Suasana damai tempat golf membuat Rosea memutuskan pergi memasuki sebuah restaurant yang tersedia di sana. Rosea butuh segelas minuman untuk memperbaiki moodnya. Rosea langsung mengambil tempat duduk, wanita itu bersedekap dan termenung di mejanya melihat keluar jendela. Rosea yang sibuk dengan dirinya sendiri tidak menyadari bahwa sebuah kebetulan tengah terjadi kepadanya. Di restaurant itu juga, Leonardo tengah berkumpul dengan teman-temannya. Tempat golf itu adalah tempat biasa Leonardo dan teman-temannya berkumpul, sementara Rosea yang baru menjadi orang baru tentu saja tidak tahu apa-apa. “Apa yang kamu lihat?” Tanya Sensen terlihat penasaran karena sejak tadi Robby terus memalingkan wajahnya tidak mendengarkan obrolan teman-temannya. Sesaat Robby melihat Sesen, pria itu tersenyum dan kembali memalingkan wajahnya sambil menopang dagu. “Kalian lihat wanita cantik yang sendirian di sana? Sepertinya dia sedang galau” kata Robby menunjuk Rosea. Semua pria yang berkumpul melihat ke arah Rosea, termasuk Leonardo yang langsung di buat terkejut atas kehadirannya. Harun tertawa seketika. “Mata kamu jeli sekali saat melihat wanita cantik.” “Tunggu lima menit lagi, jika tidak ada yang datang menemui dia, aku akan mengajak kenalan,” ujar Rona dengan senyuman lebarnya. “Jangan sembarangan. Aku yang duluan menemukannya,” protes Robby tidak terima. “Sial, dia tipeku.” “Tutup mulut kalian,” hardik Leonardo dengan tajam. Semua teman Leonardo langsung menatapnya denga bingung karena tiba-tiba Leonardo memaki mereka tanpa alasan. “Santailah, ada apa dengan kamu?” tanya Robby bingung. Ada sebuah perasaan hebat yang mengganggu Leonardo saat ini, Leonardo gusar hanya dengan melihat Rosea mengenakan pakaian seksi tengah duduk sendirian di depannya dan menjadi pusat perhatian teman-temannya. Leonardo berdecih kesal melihat Rosea duduk seperti boneka dengan kaki yang menumpangkan seakan tengah memamerkan kaki jenjangnya yang memakai rok di atas paha. Bahkan dia terlihat begitu cantik hanya dengan diam tanpa ekspresi. Kenapa Rosea begitu menarik banyak perhatian hanya dengan diam? Refleks Leonardo berdiri meninggalkan teman-temannya yang kini diam kebingungan melihat Leonado melangkah maju lebih dulu menemui Rosea. Di setiap langkah yang Leonardo ambil, pria itu semakin menatap dalam Rosea, Leonardo merasakan sebuah dorongan kuat di dalam hatinya bahwa dia harus berada di sisi Rosea dan melindungi wanita itu dari tatapan lapar pria lain. Leonardo merasa marah jika ada pria lain yang mendekati Rosea. Tidak berlangsung lama, kini Leonardo berdiri di hadapan Rosea yang kini masih diam termenung melihat lapangan hijau di depannya melalui kaca jendela. “Kamu sendirian?” Rosea tersentak kaget, kepalanya menengadah melihat Leonardo yang kini berdiri di hadapannya mengenakan pakaian golf juga. Cepat-cepat Rosea mengangguk. “Kamu main golf juga?” tanya Rosea samar dan terdengar seperti basa-basi. Leonardo terdiam, perhatiannya langsung tertuju pada sudut bibir kanan Rosea yang memiliki memar. Leonardo memaki di dalam hatinya. Kenapa dengan bibirnya? Apa semalam Rosea melewati malam panas dengan temannya itu? pertanya-pertanyaan konyol yang seharusnya tidak muncul mulai mengganggu pikiran Leonardo. Leonardo berdeham mencoba bersikap biasa. “Aku selalu mengabiskan waktu di sini untuk bersantai. Aku boleh duduk?” Rosea kembali mengangguk meski ragu. Tanpa sadar Rosea menelan salivanya melihat gerakan sederhana tubuh Leonardo yang menarik kursi dengan tangannya yang kekar di balik baju golf yang mencetak tubuhnya yang terpahat sempurna. Leonardo duduk dengan anggun penuh dengan attitude. Ini untuk pertama kalinya Rosea melihat Leonardo mengenakan pakaian non-formal, namun entah kenapa auranya kian kuat dan tetap mewah. Wajah Rosea memanas dan memerah. Tiba-tiba dia malu kepada dirinya sendiri yang sudah berpikiran sesuatu yang tidak-tidak. “Kamu sudah memesan sesuatu?” tanya Leonardo. “Belum.” “Mau kopi?” “Kamu teraktir aku?” tanya Rosea spontan. Leonardo mendengus geli, dia mengangguk membenarkan. “Mau makan sesuatu juga?.” Rosea terperangah, beberapa kali di berkedip untuk berpikir. Mendadak Rosea mengerutkan keningnya dan menatap Leonardo dengan curiga. “Kamu tidak akan memotong gajiku kan?” bisik Rosea samar. Sontak Leonardo tertawa begitu mendengar pertanyaan menggelikan Rosea yang tidak seperti biasanya dia dengar dari beberapa perempuan. Suasana hati Leonardo yang sempat terganggu sepanjang malam merasakan secuil kegundahan yang mengganggunya perlahan menghilang hanya dengan melihat Rosea berada di hadapannya. “Tidak mungkin aku berbuat sejahat itu Sea.” Rosea sedikit tersenyum mendengarnya. “Kamu di sini dengan siapa?” Rosea mengalihkan topic perbincangan mereka. “Sendiri” jawab Leonardo dengan cepat, pria tidak mempedulikan tatapan sengit teman-temannya yang kini memperhatikan Leonardo dari kejauhan dengan penuh permusuhan. To Be Continued..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN