BAB 61

1221 Kata
Tepuk tangan dan teriakan semakin ramai saat permainan dimulai. Sedari tadi sudah serius dengan pengarahan dan permainan kekompakan. Acara terakhir untuk seru-seruan yang diajukan panitia adalah bermain truth or dare. Menurutku permainan ini tidak terlalu cocok digunakan untuk mengakrabkan diri karena sebenarnya permainan ini lebih seperti permainan yang menjebak, jika terpilih jarus memilih untuk jujur atau menerima tantang. Padahal, jika pertanyaan yang diajukan cukup susah di jawab jujur juga bisa saja menjadi suatu kebohongan yang dikarang. Sedangkan tantangan, terkadang ada saja beberapa tantangan yang terdengar tidak masuk akal yang harus dilakukan. Meskipun acak, tetap saja kebanjakan isinya tidak terlalu bermanfaat. "Lo harus jalan sendirian sampe bambu kuning," ucap salah seorang panitia yang ikut bermain menantang peserta. Aku bersikap acuh dan tidak terlalu peduli, mendengar tantangannya saja menurutmu tidak masuk akal. Itu lebih seperti untuk melihat keberanian seseorang padahal tidak semua orang seberani itu apalagi harus berjalan sendirian, sedangkan ketika gagal harus menerima ledekan dan tawa dari semua orang. Sebenarnya aku sangat malas bermain permainan kekanakan seperti ini, istirahat tentu lebih baik apalagi sudah hampir tengah malam seperti ini. Namun, karena ini acara bersama mau tidak mau aku harus mengikutinya. Sebuah botol kaca yang diputar berhenti mengarah ke arah Bian yang berada di sampingku. Semua orang kini memandangnya, ia mengambil gulungan kertas yang terdapat di dalam sebuah kaleng yang isinya adalah tantangan atau pertanyaan kejujuran. Permainan ini umumnya sama, seseorang yang terpipih akan diminta memilih untuk menjawab pertanyaan dengan jujur atau melakukan tantangan yang diminta. Namun, peraturan berbeda disini. Saat botol diputar dan terpilih, tidak ada pemilihan untuk tantangan atau kejujuran, semua diundi secara acak melalui tulisan yang didalamnya berisi perintah. Kulihat Bian sedikit mengacak tangannya di dalam kaleng tadi, lalu mengeluarkan sebuah kertas. Lipatan pertama dibukanya, jeda beberapa saat sebelum panitia membacakan isi pilihan Bian. "Kejujuran, apa kamu sedang menyukai seseorang? Apa yang membuat kamu menyukainya?" tanya seorang panitia. Semua bersorak, bagaimanapun di sini sebenarnya Bian adalah incaran di fakultas. Ini pun baru kuketahui saat mengobrol bersama peserta lain. Aku dapat melihat beberapa peserta wanita terlihat antusian dan menunggu sedangkan Bian terlihat canggung. Sebenarnya hal seperti ini bukan hal yang aneh seharusnya, apapagi Bian ini adalahan blasteran. Ia memiliki darah campuran Indonesia-Korea karena cika pernah menanyakannya langsung pada Bian saat pertemuan pertama kami. Bian adalah incaran fakultas adalah hal baru bagiku, memang jarang sebenarnya. Semua gadis di sini terlihat berbisik, menunggu jawaban dari Bian. Aku bahkan tertawa ketika tahu ternyata Bian yang aku kenal adalah incaran fakultas, mungkin karena wajahnya membuatnya mendapat gelar seperti itu. Orang lain mungkin menganggapnya begitu, tapi sebagai temannya dan mengenal Bian dengan cukup dekat aku yakin Cika akan tertawa lebar menertawai Bian jika sampai ia mendengar tentang ini. Aku bisa membayangkan saat Cika tidak berhenti meledek Bian, sudah jelas mereka nanti akan meributakan hal tidak penting seperti itu. "Ada seseorang yang aku suka, sifatnya sederhana. Jika mengatakan menyukainya tanpa alasan itu adalah kebohongan, namun bukan kebohongan saat aku mengatakan terlalu banyak alasan yang membuatku menyukainya," ucap Bian dengan tegas, bahkan semua orang diam tanpa berbicara sedikitpun saat Bian mengatakan itu seakan memang menunggu jawaban Bian. Suasana semakin ramai saat mendengar jawaban dari Bian, semua orang semakin berbisik membicarakan siapa orang yang dibicarakan Bian. Mereka semua penasaran siapa yang disebut oleh Bian dalam ceritanya. Aku bahkan melihat jelas beberapa panitia dan peserta perempuan terlihat saling berbisik membicarakan itu, aku yakin sekali Cika jika berada di sini pasti sudah menertawakan Bian dengan keras. Ketika akh tengah memperhatikan sekeliling, tiba - tiba seseorang yang duduk di sebelahku ikut menepuk pundakku, menanyakan apakah aku tahu siapa yang dimaksud Bian karena kami berada di kelas yang sama. "Wah, asik Bian. Siapa tuh orangnya?" balas panitia yang membawa acara namun Bian menggelengkan kepalanya menolak untuk berbicara lebih jauh. Semua peserta terlihat berteriak seakan menyetujui apa yang panitia itu katakan, pertanyaan yang diajukan untuk Bian memang ditunggu - tunggu jawabannya terutama oleh fans - fans atau pengagum Bian. "Oke kalau begitu, putaran botol selanjutnya ...." Botol berputar dengan cepat melewatiku dua kali, namun perlahan kecepatan botol semakin berkurang saat melewatiku lagi. Aku sedikit cemas saat botol itu bergerak lambat, sebelum akhirnya berhenti pada peserta yang berada disampingku. Sama seperti yang dilakukan Bian, peserta itu mengambil kertas dari dalam toples, ia mengeluarkannya dan menarik napasnya dalam. Panitia itu menbuka perlahan gulungan kertas itu laku membacakannya, "tantangan, harus melakukan sit up sebanyak lima belas kali." Gadis yang berada disebelahku berjalan ke depan, memgambil posisi sit up dan mulai melompat. Semua orang menghitung, awalnya berjalan dengan cepat namun saat hitungan ke 11 gadis tersebut mulai memperlambat loncatannya, dengan terbatah ia meloncat hingga beberapa saat kemudian berhasil memcapai 15 kali sit up. Aku tahu dari wajahnya ia terlihat lelah karena mendapat tantang seperti itu, ia bahkan harus berolah raga di malam hari. Aku melihat keringat turun di pelipisnya melewati pipi dan dagunya. Gadis tersebut duduk, aku memberikannya air mineral yang memang tadinya diletakkan dibelakangku. Gadis tersebut mengambilnya sambil mengucapkan terima kasih, aku tersenyum kecil membalasnya. "Baik, putaran selanjutnya akan berhenti di siapa?" ucap panitia lalu memutar botol dengan cukup kencang, semua orang menunggu botol itu berhenti. Putaran itu masih kencang, semua orang menatap fokus menunggu ke mana arah yang akan ditunjuk oleb mulut botol itu. Botol itu berputar dan semakin lama semakin lambat lalu hingga akhirnya sampai berhenti di depan Adrian. Panitia memberikan Adrian toples yang sama dengan peserta, lalu ia memasukkan tangannya ke dalam toples dan mengambil acak kertas yang berada di dalam toples itu. "Kejujuran, apakah kamu sedang menjalin hubungan? Apa yang ingin kamu sampaikan pada orang tersebut?" ucap panitia lantang, membuat semua orang menyorakinya. Jika Bian adalah incaran fakultas, Adrian juga salah satu incaran fakultas yang cukup dikenal. Aku sendiri beberapa mendengar orang membicarakan betapa tampannha Adrian bahkan sampai Cika sendiri ikut membicarakannya, padahal aku sendiri saja sampai heran kenapa Cika sampai ikut - ikutan. Semua orang menatap Adrian dengan pandangan penuh tanya, mereka menunggu jawaban dari Adrian membuat aku juga yang awalnya tidak terlalu peduli jadi ingin ikut mendengar langsung jawaban dari Adrian. Napasku mendadak memburu, Adrian mengambil pengeras suara. Kundengar hembusan napas keras keluar, dapat kulihat dengan jelas ia melihatku karena duduk berada di area yang bersebrangan denganku. Saat akan memainkan permainan ini, kami diminta membuat sebuah lingkaran besar dengan gadis dan pria yang berseberangan yang berfungsi untuk saling mengenal satu sama lain, selain itu setiap panitia dan pserta bisa saling bertatap secara langsung tanpa ada yang membelakangi. "Kejujuran, saya tidak menjalin sebuah hubungan dengan seseorang." Aku terdiam, entah bagaimana Adrian terdengar santai mengucapkan kata-kata itu, sedangkan aku terdiam menunggu maksud dari perkataanya. "Namun, saya sedang menjalani sebuah berkomitmen dengan seseorang yang mampu membuat saya terus khawatir padanya." Tubuhku membeku sesaat setelah Adrian mengatakan hal itu, jujur saja sejak terakhir kali Adrian mengajakku ke rumah pohon ini adalah kata-kata termanis yang Adrian bicarakan. "Saya hanya ingin dia tahu, entah berapa banyak orang yang datang dan pergi berusaha mengusik komitmen kami, tapi satu hal yang saya ingin dia tahu jika pilihan saya hanya dia. Satu dari jutaan bidadari yang diciptakan Tuhan, saya senang berhasil merebut hatinya." Semua menyoraki Adrian tidak kalah dengan sorakan-sorakan lainnya. Saat ini mungkin orang lain menganggap ucapan Adrian adalah sesuatu yang lebay atau alay. Benar, memang begitu juga yang kurasakan jika kudengar ucapan itu dari orang lain. Namun, karena mendengar itu dari Adrian aku hanya bisa melukiskan senyum dibibirku membalas tatapan mata Adrian yang seakan membisikan kata-kata tadi padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN