Semalam, hubunganku dengan Adrian membaik daripada sebelumnya. Kami bertukar pesan bahkan sampai tertidur, entah siapa di antara kami yang lebih dulu tertidur karena aku tidak sempat melihat lagi isi ponselku karena saat pagi hari aku melihat ponselku ternyata sudah mati karena habis batrai. Pagi ini, kami langsung merapikan tenda, Adrian membantuku mengangkat perlengkapan memasak, memindahkannya ke mobil bersama Bian.
Aku bahkan masih mengantuk karena akhirnya semalam aku malah tidur larut, bukan hanya karena bertukar pesan dengan Adrian saja tapi juga karena memang aku sulit tidur jika bukan di kamarku. Adrian bahkan sampai beberapa kali memperingatkanku untuk tidur karena masih ada kegiatan yang akan dilakukan besok namun aku tetap sulit tertidur.
Pada akhirnya Adrian malah menelponku, ia ingin mengajakku bicara meskipun akhirnya kami bertelepon dengan sedikit berbisik tapi benar saja mendengar suara Adrian membuatku merasa aman.
Entah berapa lama semalam aku dan Adrian bertelepon, karena yang aku ingat adalah aku tiba - tiba saja mengantuk setelah beberapa saat mendengar Adrian seakan ia menaruh sihir dalam suaranya dan aku benar - benar tertidur hingga nyenyak sampai pagi.
"Luna tolong dong ambil sisa alat masak kita yang di cuci di sana," ucap Bian yang tengah sibuk memindahkan beberapa barang dan memeriksa kembali peralatan masak, kami memang berbagi tugas sebelumnya.
"Oke," ucapku setuju karena memang tugasku.
Aku berjalan menuju tempat mencuci piring yang berada di dekat mata air, namun memang disediakan untuk keperluhan berkemah. Air yang mengalir juga merupakan aliran dari anak sungai yang berada di desa belakang hutan kampus.
Di samping tempat pencuci piring aku melihat beberapa baskom yang berisikan berbagai peralatan masak, aku melihat baskom hitam yang tertuliskan nama kelompokku dan memgambilnya.
Di dalamnya tersusun piring dan beberapa alat memasak yang memang sudah di bersihkan dan di cuci, tanganku mencoba menarik baskom tersebut, namun terasa berat. Aku hanya berhasil mengangkatnya sebentar lalu aku letakkan kembali, aku tidak ingin membuat kekacauan karena memaksakan diri.
Aku menatap baskom yang terlihat penuh itu, jika hanya dilihat secara sekilas orang mungkin mengira baskom itu tidak terlihat berat namun saat mencobanua secara langsung aku sampai berpikir ke mana kekuatanku menghilang pergi.
"Berat banget astaga," gumamku karena merasakan tanganku sakit saat pertama mencoba mengangkat baskom itu.
Aku mencoba membawa baskkm itu dengan cara kedua yang telah aku pikirkan, aku meregangkan tanganku terlebih dahulu. Setelah itu aku menyeret baskom itu sedikit demi sedikit, hingga akhirnya aku sampai di ujung dari lantai yang berkeramik dan aku terpaksa mengangkatnya.
Rasanya seingatku tidak banyak perlengkapan masak yang kotor kemarin, apalagi aku dan Bian sudah lebih dulu mencuci beberapa perlengkapan kami setelah selesai makan malam untuk mengurangi pekerjaan yang menumpuk. Harusnya, saat setelah makan memang baru ada perlengkapan makan yang kotor lagi. Tapi harusnya tidak sebanyak ini, aku merasa ini seakan berkali lipat.
Aku masih menyeret baskom itu perlahan di lantai, beberapa kali aku hampir terjatuh karena tersandung, apalagi menahan berat membawa baskom besar ini membuatku harus menjaga keseimbangan dan memperhatikan jalan.
Aku terdiam saat tiba-tiba tanganku tertumpuk dengan telapak tangan yang terasa jelas sekali lebih besar daripada tanganku sendiri, aku menepis dengan cepat lalu menatap tangan siapa yang menyentuhku tadi.
"Kenapa angkat ini sendirian?" tanya suara yang tentu saja aku kenal, aku melihat Adrian menatapku penuh tanya namun belum sempat aku menjawab ia lebih dulu mendekatiku.
"Sini, berat," lanjut Adrian mengambil alih baskom yang kubawa, aku menolak karena aku tahu Adrian juga baru selesai membereskan pekerjaanya.
"Udah gak apa - apa," lanjut Adrian lalu memgambil alih baskom di tanganku, aku baru tahu Adrian ternyata sekuat itu.
Aku menatap tidak enak dengan Adrian yang tengah berjalan di sampingku, sesekali aku menarik lengannya saat kakinya harus melewati batu yang mana tahu bisa membuatnya terjatuh. Aku tidak ingin Adrian terluka apalagi karena menolongku.
"Semalam, kamu dengar 'kan?" tanya Adrian tiba - tiba.
"Iya, aku ngerti. Kayaknya memang aku yang terlalu sensitif sama kamu. Maaf," ucapku merasa bersalah, aku tahu aku selama ini lebih egois karena mementingkan perasaanku saja.
Aku terlalu mudah terpengaruh dan berpikiran negatif, padahal sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu. Naman urusan hati siapa yang bisa menebak, aku malah membuat sendiri jarak di antara kami.
Jika dipikirkan ulang sejak awal ada masalah di antara kami sepertinya memang aku yang salah karena selalu egois tidak mendengarkan penjelasan dari sisi Adrian, selalu menganggap benar pemikiranku yang padahal belum tentu benar.
Aku tahu harusnya aku tidak seperti itu, tapi Adrian juga mengambil adil dalam sikapku yang seperti itu karena dia sendiri saja bahkan tidak berniat untuk segera menjelaskan kepadaku bagaimana aku bisa mengerti maksudnya jika ia tidak berbicara padaku, dia pikir aku ini dukun yang bisa membaca permasalahan hanya dengan melihat saja.
"Kenapa minta maaf? Aku juga salah karena gak berusaha lebih keras buat meyakinkan kamu."
"Jangan mikir gitu, aku jadi ngerasa bersalah. Besok malam kamu ke rumah ya, Ayah kangen katanya."
"Ayah kamu di rumah?" tanya Adrian, aku menggeleng.
Setelah membantuku mengemasi barang dan setelah aku berangka ayah kembali ke luar kota untuk menyelesaikan tugasnya, aku bahkan merasa kasihan karena ayah malah harus bolak balik hanya karena ingin mengurusku dengan baik.
"Besok pagi pulang katanya," jawabku, karena seingatku memang seperti itu.
"Pasti, aku juga kangen sama Ayah."
Aku tersenyum, membantu Adrian mengeluarkan perlengkapan makan di baskom ke dalam mobil Bian, namun benar hanya beberapa perlengkapan milikku dan Bian. Sisanya Adrian bawa ke mobilnya, karena memang milik mereka.
Setelah mengeluarkan perlengkapan aku dan Bian merapikannya terlebih dahulu di dalam bagasi, apalagi ada beberapa perlemgkapan yang memang rawan untuk pecah jadi kami harus mengamankannya dengan sangat berhati - hati.
Bian masuk ke dalam bagasi dan mulai menumpuk barang - barang yang berat terlebih dahulu, lalu ia menaruh barang yang lebih ringan dinatasnya. Untungnya karena kebanyakan semua perlengkapan dimasukkan ke dalam box atau kardus sehingga mempermudah untuk menyusunnya.
Saat semua sudah selesai, kami berkumpul lagi di tempat yang sama dengan tempat semalam kami berkumpul. Panitia mulai mengumumkan pemenang kegiatan kemarin. Walau singkat, semua berjalan dengan lancar.
"Bagaimana, apa sudah siap untuk pengumuman?"
"Siap!!!!
"Nah, kalau gitu pengumuman untuk tim terbaik yang masing-masing pointnya akan dibagi merata pada anggota tim. Pemenang di posisi ketiga adalah ...."
Semua penasaran karena 1 poin angka sangat penting untuk nilai tambahan di evaluasi akhir nanti, musik dimainkan seakan menambah tegang suasanya.
"Oleh tim ...."
Panita yang membacakan pengumuman mengucapkan secara terpotong, seakan menambah tegang keadaan.
"Selamat tim Adit dan Suci," lanjut panitia tersebut.
Tepuk tangan terdengar mengiringi pemilik nama berdiri di depan, setelah foto bersama pengumuman juara kedua juga dinanti. Suasana kembali menjadi tegang, membuat semua orang berharap namanya dipanggil setidaknya sekali.
"Selanjutnya, pemenang di posisi kedua adalah ...."
Persaingan cukup ketat antar tim, apalagi tidak banyak pasangan. Setiap kelas kebanyakan hanya mengirimkan satu pasangan, jadi memang persaingan antar kelas lebih membuat menantang daripada persaingan antar jurusan.
"Selamat, tempat kedua adalah Abiyan dan Luna."
Aku terkaku selama beberapa saat sebelum Bian lebih dulu berdiri dan Gita yang ada di sebelahku mengguncang pundakku, membuatku ikut berdiri.
Kami berdiri berdampingan dan mengambil gambar, lalu kembali duduk lagi. Tepuk tangan mengiringi langkah kami kembali, aku menatap Adrian karena khawatir dia tidak senang melihatku dengan Bian namun tidak seperti yang kupikirkan Adrian malah mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya. Memberi tanda jika ia terus mendukungku.
"Juara pertama sih pasti aku dan Adrian, iya gak Lun?"
Aku menatap datar Gita tanpa memberi respon atas ucapannya, semakin kesini ucapan Gita semakin menjadi-jadi. Entah mengapa, tapi aku merasakan jika memang Gita berusaha menghancurkan hubungan antara aku dan Adrian.