BAB 63

1207 Kata
Semua peserta terlihat antusias, karena memang butuh kerjasama dan kekompakan dan sekarang penilaian akan menentukan dengan poin yang bisa saja mempengaruhi apakah akan lolos atau gugur dibabak ini. Sedari tadi, panitia terlihat bersemangat saat mengumumkan pemenang dari perlombaan. Panitia bahkan terlihat semakin membuat tegang suasana apa lagii tahu jika semua peserta tengah menunggu kategori terakhir, saat panitia mengucapkan sepatah kata langsung semua peserta bersorak menunggu. Pengumuman semakin riuh saat tersisa hanya satu kategori lagi yang akan diumumkan, semua orang menatap menunggu kelanjutannya. Dari 4 kategori, tim Adrian dan Gita baru memenangkan 1 kategori, sedangkan aku dan Bian sudah memenangkan 2 kategori. Aku sangat puas mengingat kerjasama tim yang memang cukup sulit untuk dilakukan, keegoisan masih menjadi penghambat awalnya untung saja saat di akhir kami bisa berkerja sama. Meski begitu, aku bersyukur karena semua itu berhasil kami atasi sehingga kami bisa membuktikan jika kami baik dalam bekerjasama maupun individu. Sudah bukan hal baru jika menyatukan lebih dari satu kepala memang sulit, saat perlombaan individu tidak perlu bertukar pendapat dan hanya perlu percaya dengan kemampuan diri sendiri tetapi jika perlombaan tim semua kepala harus di gabungkan hingga mencapai sebuah kesepakatan. "Kategori terakhir, tim terbaik peringkat kedua diberikan kepada tim tujuh. Selamat!" Panitia tersenyum senang saat membacakan pengumuman dengan semangat, sorakan langsung dilayangkan saat pemenang sudah diketahui. Tepuk tangan sangat meriah terdengar, Gita terlebih dulu berdiri dengan senyum yang merekah menarik Adrian yang baru saja berdiri diikuti dengan Bian dan aku yang berdiri terakhir. "Inilah tim dengan kekompakan yang memuaskan penilaian juri, saat awal mereka menampilkan kerjasama yang baik meski sepertinya memiliki beberapa konflik namun terlihat jika mereka melalui semua dengan baik," ucap panitia saat kami berjalan bersama. Saat kami semua maju untuk mengambil gambar, panitia meminta kami untuk bersiap dan aku membentuk huruf 'v' dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, lalu panitia yang bertugas untuk dokumentasi mengambil gambar bersama sebelum kembali duduk. Pengumuman pemenang pertama diucapkan selanjutnya, memang beberapa kali aku melihat tim tersebut memiliki kerja sama yang sangat baik. Perbedaan mampu mereka satukan tanpa ada keegoisan diantara mereka, jadi wajar saja jika tim itu menang juara pertama. "Acara kita hari ini benar-benar sudah berakhir, tetapi ada satu hal lagi yang belum diungkap. Yaitu, adanya penilaian rahasia yang akan menentukan babak penyisihan," ucap panitia membuat suasana menjadi bertambah ramai. Bisik-bisik terdengar setelah pengumuman yang mendadak, ternyata selain poin ini ada penilaian tambahan yang sudah dinilai oleh juri. Awalnya saat pembacaan peraturan tidak ada peraturan mengenai poin tambahan, namun sekarang tiba - tiba ada pengumuman seperti itu. Aku menatap Bian tidak percaya diri, meskipun kami memenangkan beberapa kategori namun aku masih merasa tidak yakin dengan hasil akhir dari poin yang nanti akan aku dan Bian terima. Sebelumnya memang tidak ada pengumuman mengenai adanya penilaian tambahan, namun karena pengumuman mendadak membuat semua orang menjadi cemas dengan penilaian mereka masing-masing. Apalagi, setelah diberikan penjelasan jika penilaian sekarang tidak berdasarkan pasangan tetapi sudah menjadi penilaian individu. "Penilaian akan diumumkan besok sore melalui pesan singkat. Hanya ada sepuluh peserta yang akan lanjut ke babak penyisihan selanjutnya," jelas panitia menjelaskan inti dari pengumuman. Keadaan semakin ricuh saat panitia menjelaskan mengenai pengumuman yang akan di sampaikan besok, apalagi ternyata akan menyisihkan cukup banyak peserta. "Sekarang, dimohon kepada seluruh peserta dan panitia untuk memeriksa semua sampah yang berada di sekitar kita. Demi kebaikan kita semua, kita harus menjaga lingkungan kita agar terus lestari. Dalam waktu 15 menit, kita akan memungut dan membersihkan sampah setelah itu kita kumpul untuk pembubaran." Setelah penjelasan tadi, kami harus bubar karena acara sudah selesai dan juga semua panitia memimpin langsung untuk proses pembersihan sampah di lingkungan kegiatan kami, karena kami datang dan lingkungan bersih maka kami juga harus kembali membersihkan lingkungan saat kami akan kembali. Udara pepohonan yang meski sebentar aku nikmati namun dapat menyegarkan diriku, angin yang berhembus saat sore hari membuatku merasa nyaman berada di sini. Tanganku memasukkan sampah plastik yang aku temukan ke dalam karung, lalu mengambil sampah lain yang terlihat olehku. Hampir 30 menit kami semua berkeliling dan akhirnya pembersihan selesai, selanjutnya kami semua akan bersiap - siap dan merapikan kembali peralatan yang kami bawa. Aku membantu Bian untuk merapikan peralatan makan dan memasukannya ke dalam kotak, Bian juga mulai menumpuk beberapa kotak lain sehingga akan mudah ketika akan kami bawa. "Piringnya sudah Lun?" tanya Bian melirikku, keringat mengaliri tubuh kami. Aku mengangguk, lalu menutup kotak yang di dalamnya sudah aku letakkan piring dengan rapi agar nanti tidak pecah saat dalam perjalanan pulang. *** Tubuhku merasa sejuk saat angin dari jendela yang di buka menyapu rambutku, setelah lelah memindahkan bahan akhirnya kami sudah hampir sampai kembali ke kampus. Sayangnya perjalanan ini tidak berakhir di rumah masing - masing, kami tidak bisa langsung kembali ke rumah memaksa kami untuk terlebih dahulu mampir ke kampus karena harus menandatangani absen kepulangan. Kami menunggu mobil lain sampai karena masih ada beberapa mobil peserta dan panitia yang belum sampai, aku mengambil air mineral lalu meminumnya. Tenggorokanku terasa cukup kering, aku bahkan tadi tidak sempat beristirahat setelah kami memindahkan barang. Aku baru beristirahat saat berada di dalam mobil, aku menatap kasihan Bian yang terlihat sangat kelelahan karena dia harus menyetir mobil saat kami kembali. Aku mengambilkan sebotol lagi air minum dari kursi belakang dan memberikannya kepada Bian, ia langsung meminumnya hingga air berkurang hampir setengah botol. Semua menunggu untuk bergantian menandatangani laporan, kelelahan sudah terpancar di seluruh wajah peserta maupun panitia. Aku maju setelah giliranku datang, mengambil pulpen yang diletakkan di atas meja. "Luna, tanda tangannya tiga rangkap ya." Mengikuti perintah, aku menandatangani tiga lembar kertas yang sama. Mengulangi tanda tangan pada setiap kertas yang disodorkan. "Setelah ini kamu bisa pulang," ujar panita saat aku menyerahkan kertas yang tadinya kutanda tangani. "Terima kasih," ucapku lalu berjalan meninggalkan ruangan panitia. Aku berjalan menuju parkiran, melihat Adrian dan Bian yang hanya diam tidak terlihat sedang mengobrol seperti yang mereka lakukan. "Tumben diem aja?" tanyaku bingung. Mereka berdua terlihat saling menghindari tatapan masing-masing. "Enggak apa-apa, ayo pulang." Aku terdiam beberapa waktu saat Adrian mengajakku pulang, sedangkan aku menatap tidak enak pada Bian. "Adrian, ayo pulang. Aku capek banget," ucap Gita yang entah datang darimana namun sekarang tengah menarik lengan Adrian. Kulihat, Adrian mencoba melepas tarikannya. "Aku pulang sama Bian aja, lagian barangku masih harus dipindahin. Aku gak mau capenya nyusul," ujarku mengambil jalan tengah. Aku tidak boleh egois, karena memang aku memulai ini bersama Bian jadi harus menyelesaikan bersama Bian juga, tidak ingin mengambil kesempatan atau menyulitkan salah satu pihak. "Tuh 'kan, ayo pulang." Gita masih saja menarik Adrian, seakan mencoba mengambil perhatian dari Adrian. "Beneran?" tanya Adrian menatapku bingung, aku hanya diam sambil menganggukan kepalaku pelan. Jelas dia bingung, mungkin baginya aku terlihat lebih memilih Bian namun sebenarnya tidak. Jika aku pulang dengan Adrian, sama saja aku menunda menyusun kembali peralatan yang aku bswa. Jika begitu, sudah jelas akan melelahkan nantinya. "Iya, antar aja dia. Besok kita bakal ketemu juga 'kan?" ucapku mencoba membuat Adrian merasa baik. "Kalau gitu, sampai ketemu besok. Nanti telepon aku," ucap Adrian dengan senyum yang terlihat dipaksakan. "Iya, tenang aja. Kamu hati-hati," ucapku pelan. "Gue titip bawa pulang Luna," ucap Adrian meski dengan nada yang terdengar dingin namun dijawab anggukan dan senyum kecil dari Bian. "Udah ah, ayo." Tarik Gita membawa Adrian menuju mobil. Adrian mengambil posisi di kursi kemudi sedangkan Gita duduk di kursi depan samping Adrian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN