Pagi ini aku sudah merapikan rumah, setiap sudut sudah kubersikan berharap tidak ada sebutir debu pun yang terlihat. Ayah baru saja sampai rumah 15 menit yang lalu, kuminta ayah untuk membersihkan dirinya dan beristirahat namun ditolaknya dengan alasan dia baik-baik saja.
Akhirnya, kuminta saja ayah untuk sarapan karena aku yakin ayah sangat malas untuk sekedar mampir membeli sarapan atau memakannya saat perjalanan pulang. Untungnya, aku sudah masak nasi goreng. Masakan sederhana namun memiliki banyak peminat.
"Luna, nanti bisa ambilin surat keterangan dokter di rumah sakit?" tanya ayah menatapku, aku mengunyah nasi goreng di mulutku terlebih dahulu.
"Harus hari ini?" tanyaku menatap ayah lalu menyuapkan satu sendok lagi nasi goreng ke dalam mulutku.
"Iya soalnya dokter ayah mau keluar kota nanti siang dan ayah butuh suratnya," ucap Ayah menatapku, aku mengangguk menyetujuinya.
"Oh, ya udah nanti Luna ambilin sekalian mampir ke toko kue di deket sana," ucapku lalu memasukkan lagi satu sendok nasi goreng ke dalam mulutku.
Pikiranku teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat aku mimisan, kebetulan aku harus ke rumah sakit. Mungkin ini waktu yang pas untuk aku memeriksakan kembali kesehatanku, aku tidak ingin membuat ayah khawatir jika berbicara dengannya. Siapa tahu hanya kelelahan biasa, jadi tidak perlu bersikap berlebihan.
Aku menyelesaikan sarapanku lalu masuk ke dalam setelah tadi membersihkan diri, sejuk mulai terasa karena sedari tadi peluh tidak berhenti mengalir saat membereskan rumah, aku membuka lemari mengambil jaket dari dalam lemari dan baju kaus berwarna putih, aku memakai celana jeans terlebih dahulu lalu memakai baju dan jaket.
Langkah kakiku membawaku menuju meja rias, aku mengambil bedak dan memoleskannya ke wajahku lalu aku memoles lipstik juga di bibirku. Setelah aku rasa siap, aku menyisir rambutku dan membiarkannya terurai.
Tanganku mengambil tas dari gantungan, lalu memasukkan ponsel dan memasukkan dompetku ke dalam tas. Setelah memastikan semua siap, aku berjalan ke luar kamar.
"Ayah, dokternya yang biasa 'kan?" tanyaku saat baru saja keluar dari kamar, aku mendekati ayah yang sedang menikmati kopinya.
"Iya, yang biasa. Tadi sudah ayah kirim pesan kalo kamu yang mau ngambil hasilnya," jelas ayah. Inilah ayahku, selalu berusaha sebaik mungkin.
"Nanti istirahat aja biar Luna yang masak nanti siang," ucapku karena aku yakin sekali jika ayah pasti akan memasak jika aku tidak memintanya untuk beristirahat.
"Ayah bosan, kamu jangan pikirin Ayah. Lakuin aja apa yang kamu mau," ucap ayah menenangkanku.
Sepatu di dalam rak sepatu kuambil dan kupakai. Sudah lama memang tidak berjalan sesantai ini, aku melewati pagar sebelum masuk ke dalam taksi yang sudsh kupesan.
"Ke rumah sakit Kasih Bunda ya Pak," ucapku beberapa saat setelah masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Baik, Mbak."
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, untung saja jalanan lancar dan tidak macet. Membuat aku tidak membuang waktu lama di perjalanan, aku melihat langit terlihat cerah dan panas.
Taksi yang kukendarai menghentikanku di seberang rumah sakit, aku memang memintanya untuk berhenti dan aku tinggal menyebrang saja dan tidak perlu menghabiskan waktu memutar karena tempat untuk memutar cukup jauh dari rumah sakit.
Pintu kubuka perlahan karena berseberangan dengan jalan raya. Kulihat jalan raya masih ramai, susah untukku menyebrang begitu saja. Aku menunggu beberapa saat hingga lampu berubah menjadi merah dan kendaraan berhenti berjalan untuk beberapa saat.
Aku menyebrangi jalan perlahan, tetap waswas meskipun lampu masih merah. Pintu rumah sakit kudorong perlahan, sebelum ke dokter langganan ayah. Aku mendaftarkan diriku ke dokter untuk memeriksa, penyebab aku mimisan kemarin.
"Sudah pernah berobat di sini?" tanya perawat yang sedang mengisi dataku.
"Iya," jawabku pelan, aku juga menunjukkan kartu berobat yang aku keluar dari dalam tas.
"Luna?"
Aku menoleh ke arah belakang saat seseorang menepuk pundaku, lelaki paru baya dengan jas putih ini adalah dokter yang pernah menanganiku dulu.
"Dokter, apa kabar?" tanyaku saat melihat donter yang memang aku kenal karena beberapa kali dia merawatku.
"Baik, kamu ada apa kemari? Kamu ada keluhan?" tanya dokter itu ramah.
"Iya dok, saya mau periksa."
"Suster, Luna ini keponakan Bu Erly. Datanya udah ada, periksa aja. Dia langsung saya periksa aja," ucap Dokter itu mengajakku ke ruangannya, aku mengikuti dokter yang berjalan lebih dulu di depanku.
Kami berbicara sepanjang perjalanan, dokter itu mengatakan ia merasa senang karena operasi terakhir kali berhasil, aku juga merasa senang dan berterima kasih kepadanya karena sudah merawatku dengan baik.
"Kamu ada keluhan apa?" tanya dokter itu setelah memintaku untuk duduk.
"Saya mimisan lagi. Kenapa ya, Dok?" tanyakh menatap dokter itu penuh tanda tanya, padahal sudah cukup lama aku tidak mengalami mimisan meskipun aku tahu dulu aku pernah diminta untuk tidak cemas jika aku mimisan dan hanya perlu mencemaskan jika mimisan terus berulang.
"Apakah saat kamu mimisan langsung berhenti? Apa sulit berhenti?" tanya dokter menatapku dengan serius.
"Gak langsung berhenti, tapi gak lama juga, Dok. Tapi tidak sebanyak dulu memang," ucapku menjelaskan keadaanku.
"Udah berapa kali mimisan gitu?" tanya dokter menatapku dalam.
"Udah 2 kali minggu ini," ucapku setelah meningat.
"Kalau begitu kita periksa dan ambil darah aja ya, biar jelas. Ayah atau tante kamu gak ikut?" tanya Dokter terlihat semakin serius dengan tatapannha.
Aku terdiam beberapa saat mencari alasan," enggak Dok, takutnya gak apa-apa. Gak mau bikin orang-orang panik," ucapku memberi penjelasan.
Benar saja jika Ayah, om Juna atau tante Erly tahu pasti akan panik dan khawatir. Aku tidak bisa seperti itu, apalagi pekerjaan mereka banyak karena sering tertunda karenaku.
Meskipun aku tahu mereka bisa saja meluangkan waktu untukku tapi tidak, cukup kemarin saja mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengurusku aku tidak ingin kejadian dulu terulang sekarang.
Lagi pula aku yakin kepada diriku sendiri jika tidak akan terjadi apapun denganku, semua akan berjalan dengan baik - baik saja. Aku juga menyadari jika aku mungkin merasa lelah, oleh karena itu aku mudah mimisan.
"Biar saya cek tekanan darah kamu," ucap dokter lalu memasangkan alat dilenganku yang aku tidak tahu namanya, selama beberapa saat ia menekan pompa dan terlihat mengamati jarum yang terlihat seperti termometer.
"Tekanan darah kamu rendah ini, apa kamu pusing atau mual?" tanya dokter menatap sekilas ke arahku.
"Iya Dok, tapi gak terlalu kerasa."
"Nanti saya resepkan obat, kamu bisa berbaring kita akan ambil darah."
"Sus, silakan ambil darahnya."
Perawat mulai mengoleskan kapas steril pada lenganku, tajamnya jarum mulai menusuk lenganku. Ngilu rasanya, saat jarum berada di lenganku.
"Luna, nanti hasilnya keluar tiga hari lagi. Nanti kamu mau saya hubungi ayah kamu?" tanya dokter itu lagi, aku menggelengkab kepalaku
"Biar Luna aja, semoga aja gak ada yang mencemaskan."
Dokter itu mengangguk menyetujui, tak lama jarum ditanganku di cabut dan kapas ditempelkan dilengan tepat di tempat jarum tadi di tusukkan.
"Gak sakit 'kan?" ucap dokter tersebut dengan tawa kecil.
Aku tertawa kecil, "gak sesakit operasi."
"Ya sudah, ini saya tuliskan resep sama kamu. Nanti kamu ambil di apotek," ujar Dokter itu menyerahkan sebuah kertas kepadaku.
Aku mengambil secarik kertas yang dijulurkan dan berpamitan kepada dokter itu. Setelah itu, aku langsung menuju dokter ayah. Aku memasukkan kertas yang tadi aku dapat ke dalam tasku dan akan menebusnya nanti, sekarang langkah kakiku berjalan menuju ruang dokter yang menangani ayah.
Pintu kudorong setelah beberapa kali mengetuk pintu, kulihat dokter tersebut senyum hangat kepadaku mempersilakan perawat untuk keluar terlebih dahulu.
"Apa kabar ayah kamu, Luna?" tanya dokter yang memang aku tahu karena sering menemani ayah berkonsultasi.
"Baik Dok, ayah nitip salam."
"Bagus kalo gitu, ini hasilnya. Kondisi Ayah kamu sehat, tapi saya resepkan beberapa vitamin. Kamu bisa ambil di apotek."
"Baik Dok, kalo gitu Luna permisi dulu. Luna pamit ya," ucapku.
"Iya, titip salam untuk Erly udah lama gak mampir."
"Hahaha ... iya, tante Erly lagi sibuk. Insyaallah nanti Luna sampein," ucapku lalu menutup pintu.
Aku berjalan mengenggam dua resep obat, lalu berjalan ke apotek rumah sakit untuk menebus obat.