BAB 65

1599 Kata
Setelah dari rumah sakit, aku mampir ke toko buah. Aku mengambil keranjang dan memasukan beberapa buah-buah yang aku dan ayah sukai. Tidak banyak memang, paling buah-buahan yang bisa menganjal perut seperti apel, pir dan buah naga. Ada juga beberapa buah lain, yang bisa di buat jus. Aku berkeliling, memilih buah yang segar dan tentunya murah. Jika ada yang lebih murah, mengapa harus membeli yang lebih mahal. Jika kualitas dan rasa tidak jauh berbeda. Aku berjalan menuju etalase kue dan roti, mengambil roti tawar dan beberapa cup cake. Setelah puas berkeliling, aku berjalan menuju kasir menunggu giliran membayar.Setelah dari rumah sakit, aku mampir ke toko buah. Aku mengambil keranjang dan memasukan beberapa buah-buah yang aku dan ayah sukai. Tidak banyak memang, paling buah-buahan yang bisa menganjal perut seperti apel, pir dan buah naga. Ada juga beberapa buah lain, yang bisa di buat jus. Aku berkeliling, memilih buah yang segar dan tentunya murah. Jika ada yang lebih murah, mengapa harus membeli yang lebih mahal. Jika kualitas dan rasa tidak jauh berbeda. Aku berjalan menuju etalase kue dan roti, mengambil roti tawar dan beberapa cup cake. Setelah puas berkeliling, aku berjalan menuju kasir menunggu giliran membayar. Saat menunggu giliranku, aku tiba-tiba terpikirkan lagi mengenai hasil tes yang tadi kujalani. Apakah akan baik-baik saja ataukah tidak baik-baik saja. Sebenarnya aku takut. Bagaimana jika hasilnya tidak baik. Bagaimana jika aku kembali sakit. Bagaimana jika semua orang kembali mencemaskan aku. Bagimana-bagaimana lain masih terus berkeliaran di otakku. Jika benar sampai itu terjadi lagi, aku tidak tahu harus memulai dari mana lagi. Semua orang akan kembali mencemaskan aku, membuang-buang waktu mereka. Aku tidak ingin itu terjadi, untuk yang kedua kalinya. "Mbak." "Mbak." Aku tersadar dari lamunanku setelah penjaga kasir memanggilku beberapa kali, aku melangkah maju dan meletakkan satu persatu belanjaanku. "Totalnya 103 ribu Mbak," ujar penjaga setelah memindahkan belanjaanku ke kantong belanja. Resleting tas kugeser, lalu mengambil dompet dari dalam tas yang kuselempangkan dipundakku menyerahkan uang dengan jumlah yang diminta. "Terima kasih Mbak, selamat belanja kembali." Kuraih bungkusan dan struk belanjaan, lalu berjalan keluar dari barisan. "Luna." "Lun ... Luna." Kakiku berhenti melangkah setelah berjalan beberapa langkah, aku mencari suara yang masih memanggilku sesekali. "Loh, Bian." Beberapa meter dari tempatku berdiri kulihat Bian mengangkat tangannya, membuatku langsung mengenalinya. "Tunggu bentar ya," ucapnya. Aku mengangguk, melanjutkan berjalan menuju ke kursi tunggu yang berada tidak jauh dari pintu keluar. Menunggu Bian yang sedang membayar di kasir. Dari sini, kulihat belanjaan Bian juga cukup banyak. Ia berjalan mendekatiku menenteng kantong belanja yang ada di kedua tangannya. "Kok pas banget," ujarku saat Bian menghentikan langkahnya didepanku. "Kebetulan, emang langganan. Terdeket dari ara rumah kita kan," ucap Bian yang kuiyakan. Betul juga, aku malah tidak sadar jika toko roti ini adalah yang terdekat dengan arah rumah kami. "Mau pulang?" "Iyalah," ucapku, tidak ada keinginan untuk kemana-mana karena banyak hal yang harus dikerjakan di rumah. "Ya udah, ayo bareng. Sekalian," tawar Bian namun membuatku berpikir sejenak. Jika aku ikut Bian, sebenarnya lumayan mengirit ongkos. Tapi, aku takut jika Adrian melihat malah terjadi lebih banyak salah paham diantara kami. "Kenapa? Apa kamu bareng Adrian?" "Enggak sih," ucapku singkat. "Ya udah kalau gitu, ayo. Biar aku anterin, kan searah juga." Setelah menimang beberapa saat, aku memutuskan untuk ikut dengan Bian. Lagi pula, ini terlalu siang untuk Adrian datang ke rumah. Ayah mengundangnya makan malam, tentu saja dia harusnya datang sore menjelang malam. Langkahku mengikuti Bian yang sudah berjalan beberapa langkah di depanku, tidak terlalu cepat namun tidak lambat juga.Saat menunggu giliranku, aku tiba-tiba terpikirkan lagi mengenai hasil tes yang tadi kujalani. Apakah akan baik-baik saja ataukah tidak baik-baik saja. Sebenarnya aku takut. Bagaimana jika hasilnya tidak baik. Bagaimana jika aku kembali sakit. Bagaimana jika semua orang kembali mencemaskan aku. Bagimana-bagaimana lain masih terus berkeliaran di otakku. Jika benar sampai itu terjadi lagi, aku tidak tahu harus memulai dari mana lagi. Semua orang akan kembali mencemaskan aku, membuang-buang waktu mereka. Aku tidak ingin itu terjadi, untuk yang kedua kalinya. "Mbak." "Mbak." Aku tersadar dari lamunanku setelah penjaga kasir memanggilku beberapa kali, aku melangkah maju dan meletakkan satu persatu belanjaanku. "Totalnya 103 ribu Mbak," ujar penjaga setelah memindahkan belanjaanku ke kantong belanja. Resleting tas kugeser, lalu mengambil dompet dari dalam tas yang kuselempangkan dipundakku menyerahkan uang dengan jumlah yang diminta. "Terima kasih Mbak, selamat belanja kembali." Kuraih bungkusan dan struk belanjaan, lalu berjalan keluar dari barisan. "Luna." "Lun ... Luna." Kakiku berhenti melangkah setelah berjalan beberapa langkah, aku mencari suara yang masih memanggilku sesekali. "Loh, Bian." Beberapa meter dari tempatku berdiri kulihat Bian mengangkat tangannya, membuatku langsung mengenalinya. "Tunggu bentar ya," ucapnya. Aku mengangguk, melanjutkan berjalan menuju ke kursi tunggu yang berada tidak jauh dari pintu keluar. Menunggu Bian yang sedang membayar di kasir.  Dari sini, kulihat belanjaan Bian juga cukup banyak. Ia berjalan mendekatiku menenteng kantong belanja yang ada di kedua tangannya. "Kok pas banget," ujarku saat Bian menghentikan langkahnya didepanku. "Kebetulan, emang langganan. Terdeket dari ara rumah kita kan," ucap Bian yang kuiyakan. Betul juga, aku malah tidak sadar jika toko roti ini adalah yang terdekat dengan arah rumah kami. "Mau pulang?"  "Iyalah," ucapku, tidak ada keinginan untuk kemana-mana karena banyak hal yang harus dikerjakan di rumah. "Ya udah, ayo bareng. Sekalian," tawar Bian namun membuatku berpikir sejenak. Jika aku ikut Bian, sebenarnya lumayan mengirit ongkos. Tapi, aku takut jika Adrian melihat malah terjadi lebih banyak salah paham diantara kami. "Kenapa? Apa kamu bareng Adrian?" "Enggak sih," ucapku singkat. "Ya udah kalau gitu, ayo. Biar aku anterin, kan searah juga." Setelah menimang beberapa saat, aku memutuskan untuk ikut dengan Bian. Lagi pula, ini terlalu siang untuk Adrian datang ke rumah. Ayah mengundangnya makan malam, tentu saja dia harusnya datang sore menjelang malam. Langkahku mengikuti Bian yang sudah berjalan beberapa langkah di depanku, tidak terlalu cepat namun tidak lambat juga. "Taruh di belakang aja Lun," ujar Bian setelah lebih dulu membuka kursi penumpang di belakang. Bian meletakkan belanjaanya dan belanjaanku juga. Membukakan pintu untukku, lalu aku lebih dulu masuk di kursi samping kemudi. "Tumben belanja banyak," ucap Bian sesaat setelah masuk. "Iya, sekalian bulanan." "Oh gitu, pantes aja." Gas di injak oleh Bian, membuat mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Udah dapet hasil penilaian Lun?" "Belum, memangnya sudah ya?" tanyaku bingung. Ponsel di dalam tas kukeluarkan, mengecek kotak masuk jika saja ada pesan baru. Namun tetap, tidak ada pesan terbaru yang masuk. "Aku lolos Lun," ucap Bian. "Kayaknya aku enggak deh hahaha ..., tapi gak apa-apa sih, seengaknya masih ada kamu yang ngewakilin kelas." Jujur saja, ada sedikit harapan jika aku dapat lolos. Aku ingin mencoba, tetapi jika memang tidak lolos tidak mungkin dipaksakan. "Masa sih Lun, tapi aku yakin kalo kamu lolos. Apa mungkin belum aja diumumin semua," ujar Bian mencoba memberikan kepercayaan diri untukku. Aku tersenyum kecil, entahlah. Sekarang aku tidak terlalu banyak berharap. Tidak terasa kami sudah masuk arah rumahku, Bian menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah. Kulihat ayah tengah menyiram tanaman yang berada di halaman depan. Aku keluar dari mobil, mengambil kembali belanjaan yang kuletakkan di belakang. Bian ikut turun, menyapa ayah yang tentu menyambut baik Bian. "Kok bisa bareng Bian?" tanya Ayah setelah melihatku mendekat dengan belanjaan dikedua tanganku. "Ketemu di toko roti," jawabku. "Oh, kebetulan banget. Ayo masuk dulu," ucap Ayah menawarkan Bian masuk. "Eh, gak usah Om. Mau langsung pulang aja," ucap Bian menolak, kurasa ia merasa tidak enak untuk mampir. "Loh kok buru-buru, gak masuk aja?" "Enggak Om, gak apa-apa." "Eh ya udah, kalau gitu. Kamu nanti malam ada acara?" Bian diam sebentar, "enggak ada Om, kenapa?" tanyanya bingung. Pandanganku menatap ayah, aku terdiam beberapa saat. Tidak mungkin 'kan ayah juga mengundang Bian untuk makan malam, jika benar aku tidak mengerti bagaimana Adrian akan menanggapi ini. "Malam ini ke rumah ya, kita makan malam bareng.""Taruh di belakang aja Lun," ujar Bian setelah lebih dulu membuka kursi penumpang di belakang. Bian meletakkan belanjaanya dan belanjaanku juga. Membukakan pintu untukku, lalu aku lebih dulu masuk di kursi samping kemudi. "Tumben belanja banyak," ucap Bian sesaat setelah masuk. "Iya, sekalian bulanan." "Oh gitu, pantes aja." Gas di injak oleh Bian, membuat mobil melaju dengan kecepatan sedang. "Udah dapet hasil penilaian Lun?" "Belum, memangnya sudah ya?" tanyaku bingung. Ponsel di dalam tas kukeluarkan, mengecek kotak masuk jika saja ada pesan baru. Namun tetap, tidak ada pesan terbaru yang masuk. "Aku lolos Lun," ucap Bian. "Kayaknya aku enggak deh hahaha ..., tapi gak apa-apa sih, seengaknya masih ada kamu yang ngewakilin kelas." Jujur saja, ada sedikit harapan jika aku dapat lolos. Aku ingin mencoba, tetapi jika memang tidak lolos tidak mungkin dipaksakan. "Masa sih Lun, tapi aku yakin kalo kamu lolos. Apa mungkin belum aja diumumin semua," ujar Bian mencoba memberikan kepercayaan diri untukku. Aku tersenyum kecil, entahlah. Sekarang aku tidak terlalu banyak berharap. Tidak terasa kami sudah masuk arah rumahku, Bian menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah. Kulihat ayah tengah menyiram tanaman yang berada di halaman depan. Aku keluar dari mobil, mengambil kembali belanjaan yang kuletakkan di belakang. Bian ikut turun, menyapa ayah yang tentu menyambut baik Bian. "Kok bisa bareng Bian?" tanya Ayah setelah melihatku mendekat dengan belanjaan dikedua tanganku. "Ketemu di toko roti," jawabku. "Oh, kebetulan banget. Ayo masuk dulu," ucap Ayah menawarkan Bian masuk. "Eh, gak usah Om. Mau langsung pulang aja," ucap Bian menolak, kurasa ia merasa tidak enak untuk mampir. "Loh kok buru-buru, gak masuk aja?" "Enggak Om, gak apa-apa." "Eh ya udah, kalau gitu. Kamu nanti malam ada acara?" Bian diam sebentar, "enggak ada Om, kenapa?" tanyanya bingung. Pandanganku menatap ayah, aku terdiam beberapa saat. Tidak mungkin 'kan ayah juga mengundang Bian untuk makan malam, jika benar aku tidak mengerti bagaimana Adrian akan menanggapi ini. "Malam ini ke rumah ya, kita makan malam bareng."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN