BAB 66

1230 Kata
Peluh mengalir jatuh dari keningku, dengan mengunakan punggung tangan kuusap peluh itu. Semua makanan yang aku dan ayah buat sudah tertata rapi di meja makan, sedangkan ayah bertugas mencuci piring. Kerja sama kami cukup bagus, sehingga semua selesai dengan cepat. Aku mulai mewadahi makanan yang sudah kami masak dan menatanya ke atas meja, aku melihat dari jendela jika langit sudah berubah warna menjadi warna oren kegelapan, angin juga terlihat tertiup kencang saat membuat tanaman bunga yang ada di teras luar bergerak jauh. Napasku mulai teratur, hidungku terasa sakit setelah beberapa kali aku bersin tadi. Kata orang, kalau saat masak sering bersin karena tumisan bumbu itu berarti masakan yang sedang di makan akan terasa enak. Tapi entahlah, itu memang fakta atau hanya mitos belaka yang belum terbukti kebenarannya. Aku sudah semakin pintar memasak, ayah selalu memuji masakanku padahal aku hanya belajar dengan melihat resep yang tertulis di internet dan mencobanya saja. Aku juga sebenarnya sering kali merasa kurang yakin dengan masakanku dan memikirkan mengapa masakanku tidak seenak masakan orang lain. Saat dulu aku sekolah, aku sering kali memasak makanan yang tidak terlalu sulit. Namun, semanjak ayah kembali aku memasak makanan yang cukup bervariasi karena ayah selalu masak makanan yang berbeda. Tentu saja aku menjadi iri dan berusaha keras untuk memasak, agar bisa menyaingi ayah. Aku meletakkan mangkuk terakhir di atas meja yang berisi lauk pauk dan berjalan kembali ke dapur mengambil piring dan menatanya di atas meja. "Siap-siap sana Lun udah sore," ucap Ayah memperingatkanku, ayah sangat mengerti jika aku sangat lama dalam bersiap - siap. "Astaga, lebay deh Ayah. Lagian 'kan cuma makan malam biasa," ucapku tertawa kecil karena reaksi berlebihan ayah. Aku menggelengkan kepalaku, sudah sejak kapan hari aku menatap kesal ayah. Ia terus saja mengolokku tentang Adrian, memang bukan mengolok karena membicarakan hal negatif tapi mengolokku dan membuatku malu sendiri karenanya. "Gak apa-apa lagian makan malamnya sama orang yang istimewa," ucap Ayah yang terus saja mengolok - olokku. Seharian ini, ayah terus mengolok - olokku karena rencana makan malam ini. Padahal, aku sudah mengatakan untuk tidak terlalu merepotkan diri namun ayah terus mengatakan harus menyiapkan sebaik mungkin untuk Adrian. Mendengar itu membuatku terus saja tertawa, terkadang ia selalu bersikap sedekat itu dengan Adrian. "Ih..., apaan sih Ayah. Tau ah, Luna mau mandi aja." "Sana, yang wangi ya." Kepalaku kugelengkan, lalu aku tertawa dengan keras. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan dapur setelah aku mencuci tanganku, aku merapikan kursi meja makan yang terlihat cukup berantakan. Aku menatap sekali lagi meja makan, lalu meletakkan penutup agar tidak ada hewan seperti lalat yang menghinghapi makanan. Aku menarik napas lega, setelah menyelesaikan kegiatanku menyajikan makanan. Aku melangkahkan kakiku ke kamar, duduk sebentar di kursi yang berada di depan meja belajar. Kakiku cukup lelah karena cukup banyak berjalan di dapur, aku mengistirahatkan tubuhku sejenak. Tubuhku terasa sejuk beberapa saat kemudian, setelah kipas angin yang sedari tadi bertiup ke arahku. Aku melirik jam yang sudah dengan cepat berlalu, aku tidak sadar sudah 1 jam waktu berlalu dari sejak aku masuk ke dalam kamar. Aku berjalan masuk ke kamar mandi, mengambil handuk lalu kugantungkan dibalik pintu. Air keluar dari dalam shower yang kuputar, membasahi seluruh tubuhku. Aku mulai melakukan ritual mandiku, sambil menikmati dinginnya air menguyur tubuhku. *** Rambutku yang basah kubiarkan terurai setelah tadi kukeringkan dengan handuk, sisir di atas meja rias kuambil lalu menyisirkankannya perlahan ke rambutku. Membuat rambutku yang tadinya kusut terlihat lebih rapi, seperti biasa aku mengambil pelembab untuk melembabkan wajahku. Memolesnya ke seluruh bagian wajahku, entah sejak kapan aku mulai menggunakan benda yang orang lain sebut sebagai skincare ini. "Argh ...," ringisku saat kursakan sesuatu mengalir di hidungku. Aku menggunakan punggung tanganku untuk menyeka hidungku, benar saja ada darah yang mengalir di hidungku. Untungnya tidak banyak, sehingga aku masih bisa menyekanya sementara dengan tanganku. Aku berdiri dengan sigap menhambil tisu yang terletak di lemari kecil samping ranjang. Kuusapkan tisu tersebut di area hidungku, menyeka darah yang keluar. Warna merah pada tisu ini tidak asing bagiku, namun entah mengapa membuatku semakin cemas. Kepalaku mulai terasa pusing, seperti dihantam oleh sebuah batu besar. Sakit, tapi aku menahannya sebisaku. Aku tidak ingin membuat ayah cemas melihat keadaanku yang seperti ini. Kududukan bokongku di atas ranjang, mencoba terus menghentikan darah yang turun dengan tisu yang sudah banyak lembar kuambil. Aku mengambil obat dari dalam laci mejaku, obat yang tadinya diresepkan oleh dokter. Kubuka bungkusan kantong plastik itu, lalu mengupas obat dan memakannya. Rasa pusing pada kepalaku masih belum hilang, namun dapat kurasakan darah yang mengalir mulai terhenti. Aku terus menyekanya dengan tisu, berharap setelah ini akan segera berhenti. Tok ... Tok ... Tok ... Pintu kamarku terketuk membuat aku segera mengusap hidungku denhan cepat dengan tisu, aku takut jika ayah menjadi cemas melihat aku yang tiba - tiba mimisan lagi. Aku dengan sigap menyembunyikan tisu yang berlumuran darah, berjaga-jaga jika saja ayah membuka pintu. Namun setelah beberapa saat aku menunggu, aku tidak melihat ayah masuk ke dalam. "Iya, Yah?" tanyaku dari balik pintu, aku sengaja tidak membuka pintu dengan berpura - pura masih bersiap. "Nanti kamu susun buah ya, Ayah mau siap-siap," ucap ayah padaku, aku menganggukan kepala tanda mengerti. Aku bernapas lega saat ayah berbicara dari balik pintu dan tidak membuka pintu, aku memasang lagi tisu di bawah hidungku dan menyekanya kembali. "Iya Yah, nanti Luna susun. Ayah siap-siapa aja," ujarku lega karena ayah berbicara dari balik pintu. Tisu baru kuambil untuk menyeka mimisanku, untungnya sudah berhenti namun aku tetap berusaha menyekanya jika saja keluar lagi. Kutahan kepalaku yang sudah mengurang rasa pusingnya, berjalan mendekati cermin di meja rias. Untungnya semua baik-baik saja kecuali wajahku yang terlihat memucat, mungkin efek darah yang keluar saat mimisan. Kuambil liptint di atas meja rias dan mengoleskannya lada bibirku. Menyamarkan tanda pucat pada wajahku, saat semua terlihat lebih baik aku berjalan keluar kamar. Kulihat ayah sudah tidak ada di dapur, mungkin langsung bersiap-siap setelah memintaku menyusun buah. Kukeluarkan buah yang kubeli tadi dari dalam kulkas dan menhambil sebuah keranjang buah. Mencucinya terlebih dahulu sebelum menyusunnya di atas keranjang buah. Kukupas beberapa mangga lalu membasuhnya dengan air minum, selanjutnya kupotong dan memasukkannya ke dalam blender. Jus mangga adalah pilihanku, karena rasanya juga yang segar. Blender menyala dan menggiling halus mangga yang tadi kupotong. Setelah itu, aku memindahkannya ke dalam teko dan memasukkannya ke dalam kulkas. Tok ... Tok ... Tok ... "Iya, sebentar," jawabku dari dalam kamar dengan nada suara agak meninggi. Aku meletakkan kembali blender yang baru saja kucuci, mengelap tanganku yang masih basah karena mencuci lalu berjalan menuju pintu. Kunci pintu kuputar dari dalam, lalu memutar knop pintu dan mendorongnya ke dalam. Kulihat Adrian datang membawa bucket bunga dan bungkusan entah apa. "Masuk," ucapku mengajak Adrian masuk ke dalam. Aku tentu saja tersenyum lebar saat Adrian memberikan bucket bunga yang dibawanya kepadaku. "Duduk, aja." "Mana Ayah?" tanya Adrian saat menyadari tidak melihat sosok ayah. "Lagi siap-siap," ucapku yang dijawab anggukan oleh Adrian. "Cantikan kamu daripada bunga itu," ucap Adrian singkat namun mampu membuat jantungku berdegup kencang. Adrian ini makin lama makin sering menggombaliku, padahal ia sangat tahu jika aku kurang menyukai hal yang seperti itu. Menurutku hubungan hanya perlu ditunjukkan lewat sikap bukan lewat kata - kata yang kapan saja bisa berubah. Jika sudah berubah mau seperti apapun tetap akan berubah, tapi jika dari perlakuan atau sikap dengan begitu aku bisa menilai sendiri tanpa perlu takut atau cemas. Manusia memang sering kali berubah, namun sesering apapun manusia berubah, berubah tetap saja perkataan lebih mudah diubah daripada sikap seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN