Pintu kudengar diketuk beberapa kali dari luar, aku sempat terdiam beberapa saat karena sepertinya aku tahu siapa yang mengetuk pintu.
"Kenapa gak dibuka?" tanya Adrian yang melihatku masih terdiam.
Senyum canggung kuberikan pada Adrian yang sebenarnya masih belum tahu jika Bian juga akan ikut datang makan malam. Aku bangkit dari dudukku, lalu berjalan menuju pintu depan yang sesekali masih terketuk.
Kuputar kunci pintu, lalu benar saja wajah pertama yang kulihat dibalik pintu adalah Bian. Aku mengajaknya masuk ke dalam dengan canggung, kulihat ayah ternyata sudah keluar dan duduk sambil mengobrol dengan ayah.
"Selamat malam, Om," ucap Bian menyapa membuat ayah dan Andrian tentu saja menatap ke arah kami.
Aku dapat melihat wajah Adrian yang sedikit kaku dan terlihat memaksakan senyumnya, ia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.
"Udah datang juga ya," sapa Ayah lalu berdiri menyambut Bian.
"Iya Om, agak macet tadi di depan."
"Itu biasa," ucap Ayah dengan kekehan khasnya.
"Ayo kita makan malam dulu," lanjut Ayah merangkul Adrian berjalan lebih dulu menuju meja makan.
Aura dingin kurasakan sejak tadi, membuatku merasa sedikit tidak nyaman.
"Gimana kuliah kalian? Lancar kan?" tanya ayah menatap ke arah Adrian dan Bian bergantian.
"Lancar Om," jawab Adrian dan Bian kompak.
Kami melanjutkan makan malam dengan obrolan ringan yang ayah lontarkan pada Adrian dan Bian, menurutku ayah baru menyadari jika suasana diantara Adrian dan Bian sedikit berbeda dari terakhir kali mereka bersama.
***
Beberapa saat kemudian makan malam berakhir, Adrian tetap berada disampingku sedangkan Bian tengah sibuk bermain PS dengan ayah diruang tengah.
Tanganku diambil oleh Adrian lalu digenggamnya, ia menyandarkan kepalanya dibahuku. Membuat tanganku mengusap wajahnya perlahan, keheningan terjadi diantara kami beberapa saat.
"Kamu kenapa gak cerita ada Bian?" tanya Adrian membuka suara setelah beberapa saat.
Tangan Adrian kugenggam dengan lebih erat, "maaf, aku aja baru tahu tadi siang pas gak sengaja ketemu Bian."
"Kamu ketemu di mana? Kok bisa kebetulan?"
"Itu, namanya 'kan kebetulan. Pas lagi beli buah sama roti di toko yang aku suka ajakin kamu itu," ucapku mencoba menceritakan semua, tidak ingin menutupi atau membohongi Adrian.
"Kenapa gak minta aku jemput, aku 'kan bisa jemput kamu?" tanya Adrian dengan nada suara rendah, namun aku tahu jika ada kekesalan dari dalam ucapannya.
"Kamu bilang mau istirahat, aku memang mau balik sendiri bukannya memang mau balik sama Bian."
"Jangan pernah tinggalin aku ya," ucap Adrian dengan nada suara yang rendah, cukup membuatku merinding mendengar ucapannya.
Lucu memang, padahal ucapannya seperti kata-kata romantis biasa yang kadang aku sendiri sering bilang itu menggelikan. Tapi, saat mendengarkan langsung dari orang yang berhasil mencuri hatiku ternyata perkataan menggelikan seperti itu akan terdengar menyenangkan.
"Mana bisa aku ninggalin kamu," balasku membuat Adrian tiba-tiba duduk dan mengecup pipiku.
Aku yang terkejut mencubit kecil lengan Adrian, membuatnya sedikit merintih.
"Ih, dilihat ayah diomelin kamu."
"Gapapa, kali ini aku gak akan minta maaf."
"Dasar kamu, kenapa makin lucu gini sih." Kucubit pipi Adrian dengan kedua tanganku, menatapnya dengan tatapas gemas.
Aku dan Adrian saling tatap beberapa saat, perlahan aku merasa jika Adrian mulai mendekatkan wajahnya padaku embuatku terkaku. Hembusan napas Adrian mulai terasa, wajah kami semakin dekat hingga entah siapa yang menutup mata terlebih dahulu.
"Luna ambilin minum lagi, Nak," ucap Ayah dengan sedikit berteriak membuat aku dan Adrian terkejut dan menjauhkan wajah kami.
Wajahku tentu saja sudah memerah, dengan canggung aku berdiri dari dudukku dan berjalan ke dapur meninggalkan Adrian yang tatapannya masih terus mengekoriku.
"Nanti ke sini lagi," ucap Adrian sedikit berbisik namun dapat kumengerti dengan jelas.
Air jus yang sudah kutuang kiletakkan di atas nampan, meletakkan beberapa makanan ringan dan kue untuk camilan ayah dan Bian.
Kakiku melangkah, membawa nampan yang berada dikedua tanganku. Ayah dan Bian terlihat bermain dengan serunya mungkin karena ayah tidak ada teman bermain selain Adrian.
"Ini Yah," ucapku juga mempersilakan Bian juga mengambil camilan dan jus yang kubawa.
"Adrian mau gantian ga?" tanya Ayah masih fokus pada layar tv.
"Enggak katanya, lagian Ayah sama Bian 'kan jarang main bareng."
"Bilang aja mau berduaan Lun," ucap Bian yang membuatku menatap tajam ke arahnya.
"Gak gitu juga," ucapku membantah.
"Ya udah kalo gitu," ucap Ayah masih fokus pada layar tv.
Aku berdiri menjauh dari Ayah dan Bian yang sama-sama masih terlihat serius bermain.
"Kamu mau minum lagi ga?"
"Air putih aja," ucap Adrian.
Kutuangkan air putih ke dalam dua gelas yang satunya akan kuberikan pada Adrian, lalu membawanya ke meja.
Adrian meletakkan tangannya dipundakku, sedangkan aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.
"Eh, bentar deh ini bunyi."
Ponsel pintar yang ada dikantung celanaku kukeluarkan, kulihat ada satu pemberitahuan pesan masuk.
"Adrian," ucapku tertahan.
"Kenapa, Lun?" tanya Adrian yang ikut terkaget melihatku.
"Masa aku lolos ke babak grand final," ucapku masih dengan tidak percaya.
Kupikir, aku tidak akan lolos ke babak selanjutnya. Namun, pesan masuk ini benar berada di luar kendaliku. Aku tidak mempunyai banyak bakat, kecantikan juga kurasa seperti gadis biasa bukan gadis yang sering mendapatkan banyak perawatan.
"Tuh 'kan, kamu ini suka banget gak percaya diri."
"Gimana mau percaya diri kalo saingannya bagus-bagus gitu, aku 'kan ngelihat sendiri."
"Kamu udah dapat kesempatan sebagus ini, jadi gak ada salahnya buat kamu menyelesaikan dengan baik."
"Siap kapten," ucapku senang.
"Kenapa nih, kok kayak seneng banget."
Aku terkejut melihat Bian dan ayah yang baru saja datang setelah selesai bermain.
"Ini, Luna lolos ke babak grand final buat bujang gadis fakultas."
"Beneran, Lun?" tanya Ayah yang juga terlihat terkejut.
Mungkin ayah adalah orang yang selanjutnya tidak mempercayai pengumuman yang masuk ke ponselku ini, apalagi ayah paling tahu tentang aku yang sangat tidak tertarik pada acara-acara kecantikan.
"Kapan final-nya? Ayah mau nonton."
"Belum tahu, Yah. Lagian ini Adrian sama Bian juga lolos."
"Kalian juga? Hebat juga kalian," ujar Ayah setengah bercanda.
Kami tertawa dan berbagi cerita tentang apa yang sudah kami lewati beberapa hari ini, tentang perkemahan.
Mungkin sudah lebih dari jam 10 malam, Adrian dan Bian izin untuk pamit pulang. Sebenarnya Ayah yang sudah memberikan tanda pada mereka agar segera pulang, karena sudah semakin malam.
Aku dan ayah mengantar Adrian dan Bian sampai ke pagar depan, tidak lupa mereka menyalimi tangan ayah bergantian lalu pergi meninggalkan rumahku dengan kereta besi mereka masing-masing.
"Adrian sama Bian itu beda banget ya ternyata," ucap Ayah tiba-tiba.
"Beda?" tanyaku bingung.
"Iya. Mereka itu kelihatannya sama, tapi sebenarnya berbeda."