Pintu tertutup, keributan di luar berganti dengan musik yang diputar dengan volume yang cukup keras.
Aku berjalan menyalami sesama peserta pemilihan bujang dan gadis, hari ini setelah rapat kemarin kami harus berlatih untuk persiapan grand final pekan depan.
Kami diminta untuk melatih tarian bersama, pemilihan judul lagu dan tarian sudah dilakukan kemarin oleh sebab itulah hari ini adalah latihan pertama kami.
"Luna, pemanasan dulu."
Setelah mendengar arahan dari pelatih, aku melakukan peregangan terlebih dahulu. Di sampingku ada Gita yang juga baru datang dan melakukan peregangan.
"Wah, lolos juga lo."
"Makasih," ucapku singkat.
Bagiku, tidak ada niat untuk bersitegang dengan Gita lagi. Apalagi sekarang harus fokus dan juga aku mempercayakan semuanya pada Adrian.
"Gimana tarian pasangan?" tanya Gita sedikit berteriak karena suara musik yang memang disetel dengan volume yang tinggi.
"Masih persiapan," balasku.
Ah, iya. Aku teringat dengan latihan tari pasangan. Karena tarian daerah, jadi seharusnya tidak sesulit dengan tarian masa kini yang lebih banyak gerakan dinamis dan ketukan yang cepat.
"Oh ya, gue sama Adrian mau latihan hari ini."
"Oh, bagus deh."
Adrian sebelumnya tidak membicarakan ini denganku, padahal semalam kami bersama. Entah memang ia lupa dan ingin menjaga perasaanku atau memang ia tidak ingin membicarakan tentang latihan berduanya denganku.
"Baik, sekarang kita mulai dari gerakan pertama. Kalian ikuti setiap gerakan saya, perhatikan ketukannya."
Setiap gerakan kucoba untuk ikuti dengan baik meski rasanya hampir seluruh tulangku rontok karena aku yang kaku.
Kami berlatih selama satu jam sebelum akhirnya beristirahat, keringat mengucur dengan deras di seluruh tubuhku membuat pakaianku ikut terbasah. Bahkan penyejuk ruangan yang awalnya cukup sejuk tidak mampu melawan panas.
Beberapa peserta laki-laki baru datang, entah apa sebabnya. Mereka bergantian masuk, kaos yang mereka pakai juga terlihat basah karena keringat.
"Adrian, aku suka sama dia."
Mataku terpaku beberapa saat setelah refleks menoleh ke sampingku yang bahkan aku tidak sadar sejak kapan Gita mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Aku akan rebut dia dari kamu," lanjut Gita yang membuatku mendorongnya menjauh.
"Aww ..., sakit," ujar Gita meringis memegang sikutnya.
Padahal, aku tidak mendorongnya dengan keras. Namun, ringisan Gita dapat di dengar oleh beberapa orang disamping kami termasuk pelatih yang duduk tidak jauh.
"Kamu gak apa-apa Gita?"
"Sakit Mbak," ringis Gita, ia mengeluarkan air mata.
"Ada apa ini?"
"Luna ngedorong Gita tadi Mbak," jawab seseorang peserta juga.
"Kok bisa sih? Ayo kamu bawa dia ke ruang kesehatan."
"Eh, jangan Mbak."
"Udah gak apa-apa, kamu diperiksa dulu aja."
Kulihat Gita berulang kali menolak ucapan pelatih untuk beristirahat dan diperiksa di ruang kesehatan.
"Kamu sekelas sama siapa?"
"Adrian," ucap Gita.
"Kamu panggil Adrian," ucap pelatih pada seseorang disampingnya.
Tidak lama Adrian datang dengan tatapan bingung.
"Ada apa pelatih?"
"Kamu Adrian?"
"Iya, saya sendiri."
"Bawa Gita ke ruang pemeriksaan, pastikan istitahat karena jika dengan orang lain mungkin ia tidak nyaman."
Aku menatap dalam ke arah Adrian tanpa sadar, bahkan Adrian tidak menatapku sekalipun. Ia berusaha memapah Gita, padahal tanpa semua orang sadari ada senyuman kecil keluar dari sudut bibir Gita.
"Luna saya mau bicara sama kamu, ikut saya."
Tanpa balas bicara aku hanya mengikuti pelatih yang berada beberapa langkah dihadapanku.
"Kamu bisa duduk," ucap Pelatih memintaku duduk di kursi yang berada dihadapannya.
"Kamu ada masalah apa dengan Gita?"
"Saya tidak ada masalah sama Gita mbak," ucapku.
Benar bukan, diantara kami tidak ada masalah. Kejadian tadi sebenarnya kesalahpahaman yang entah mengapa tidak ditepis atau dibantah oleh Gita.
"Kita bersaing boleh, tapi harus secara sehat dan adil. Kamu gak harus berbuat seperti itu untuk menyakiti orang lain," ujar pelatih itu yang memang sudah salah paham pada kami.
"Saya tidak mencoba menyakiti orang lain Mbak," ucapku mencoba menjelaskan namun dibalas senyuman oleh pelatih.
"Kamu harus latihan dengan baik, hanya lakukan itu. Jangan terpengaruh dengan hal lain, sekarang kamu bisa kembali ke aula."
Aku menghela napasku panjang, " baik Mbak."
Beberapa orang kini memandangku dengan tatapan yang mirip saat aku masih sekolah. Aku terdiam mengambil tempat yang sedikit berjarak, Cintya yang tadi berada di sampingku mendekatiku.
"Luna, biarin aja. Semua orang hanya membenci karena mendengar bukan karena tahu dan berada di sana saat itu."
"Iya, tenang aja. Gue gak baru ngalamin ini kok sampe harus sakit hati atau nangis-nangis, makasih ya Cintya."
"Iya sama-sama, ayo kita latihan lagi."
"Ayo," ucapku lalu kami berdua berdiri dan mendekat kembali. Mengambil posisi, bersiap akan memulai latihan.
"Adrian, bagaimana keadaan Gita?" tanya pelatih sesaat sebelum latihan dimulai.
Pandanganku tetap kedepan, namun berusaha mencoba mendengar sedikit pembicaraan. Bohong jika aku tidak penasaran dan cemas dengan keadaan Gita, karena bagaimanapun semua orang akan terus menatap sinis kepadaku karena aku yang salah jika mereka melihat dari sudut pandang mereka.
"Kayaknya baik-baik aja, soalnya masih diperiksa."
"Oh oke kalau begitu, kamu kembali lagi latihan."
"Iya, Mbak."
Latihan dimulai kembali, semua berusaha sebaik mungkin karena ini bukan hanya sekadar penampilan yang dilihat oleh penonton tapi karena terdapat penilaian individu pada penampilan ini.
"Ayo berjuang Luna," batinku menyemangati diri sendiri.
Aku berusaha sebaik mungkin mengikuti gerakan yang diajarkan, meski sesekali rasanya kakiku sakit sekali karena menahan beban.
Tanpa terasa satu jam lebih berlalu, kami beristirahat sebelum membubarkan diri. Latihan hari ini berakhir dengan cukup cepat, namun meski begitu tenagaku terkuras habis untuk mempelajari setiap gerakan.
Kulihat Adrian berjalan mendekatiku, menghabisi setiap jarak yang tersisa hingga langkahnya terrhenti tepat dihadapanku.
"Aku mau ngecek Gita, kamu pulang sendiri gak apa-apa 'kan?"
Terdiam, aku menatap matanya yang juga menatapku tegas.
"Oke, hati-hati ya."
Adrian mengangguk lalu meninggalkanku, hatiku terasa sakit. Adrian sama sekali tidak mencemaskanku, menanyakan keadaanku saja tidak.
Air mata yang tiba-tiba terjatuh kuusap kasar dengan punggung tanganku. Kakiku kuseret paksa berjalan keluar aula, perasaanku masih terluka karena Adrian yang seakan tidak memperdulikan keadaanku.
Padahal, bisa saja dia menanyakan keadaanku walau sebentar. Menanyakan apa yang tadi terjadi diantara aku dan Gita atau sekedar mengatakan untuk aku tidak perlu memikirkan Gita.
"Luna!!!"
"Lun!"
Kuhentikan langkah kakiku, tiba-tiba punggungku merasakan tepukan.
"Mau pulang?"
"Iyalah, ngapain juga di kampus. 'Kan gak ada kelas," ujarku berusaha terlihat santai dan baik-baik saja.
Dinilai lemah oleh orang lain bukan sesuatu yang menyenangkan, walaupun sudah sering kali menghadapi hal yang sama. Tapi, waktu tidak dapat mengubah semua menjadi baik-baik saja.
"Ayo, pulang bareng."
Bian menarik lenganku lalu kakiku seakan otomatis bergerak mengikuti setiap langkah Bian.