Napasku yang memburu melihat pemandangan Adrian dan Gita membuatku membatalkan niatku untuk mendatangi Adrian, kulangkahkan kakiku dengan paksa menuju bilik toilet. Entah mengapa perasaanku pada Adrian belakangan ini lebih tidak karuan, entah karena aku yang terlalu membawa perasaan atau karena aku yang salah bersikap. Tidak hanya sekali, aku berkali - kali mencoba untuk memikirkan kembali apakah sikap yang aku ambil ini adalah sikap yang tepat untuk aku tunjukkan, tetapi pada akhirnya tetap saja aku sendiri yang merasakan sakit. Tentu saja aku tidak bisa bilang kepadanya, karena percuma saja Adrian juga belum tentu mengerti apa yang aku rasakan. Kulucuti kaus yang kupakai, lalu kuganti dengan yang baru. Tanganku mengenggam kasar pakaian yang sedikit lembab karena keringatku, seakan mera

