Membiarkan gue menyelesaikan makan gue sekarang, Kak Ken masih duduk di tempat yang sama sembari memperhatikan gue, rasanya beneran nggak nyaman tapi gue juga nggak protes, gue udah nanya kenapa Kak Ken terus natap gue sampai sebegitunya tapi lagi-lagi jawaban Kak Ken juga membuat gue cukup kebingungan, pasalnya, Kak Ken terus natap gue sembari tersenyum sesekali, entahlah apa yang Kak Ken pikirkan sekarang tapi intinya gue udah geleng-geleng kepala duluan, mau terus gue tanyain tapi kalau jawabannya cuma senyuman doang ya gue bisa apa? Bisa-bisa kelabakan doang.
"Kakak natap kamu ya karena sekarang cuma kamu yang bisa narik perhatian Kakak, kalau dulu mungkin kita berdua akan saling menghindar tapi sekarang Kakak bisa menatap kamu sepuasnya, kamu juga nggak akan menghindarkan? Kalaupun kamu mau menghindar, kamu mau menghindar untuk alasan apa? Bukannya sekarang udah nggak ada masalah?" Tanya Kak Ken ke gue tiba-tiba, gue yang mendapatkan pertanyaan kaya gitu juga menatap Kak Ken lama, Kak Ken ternyata juga sangat berterus terang, gue jaid ngerasa kalau gue juga nggak harus nutupin apapun dari Kak Ken, dia suami gue, sama halnya Kak Ken yang sangat terbuka, gue juga harus melakukan yang sama, bukan karena sekedar itu adalah tuntutan tapi memang udah begitu seharusnya.
"Heum, sekarang memang udah nggak ada masalah tapi tatapan Kakak malah ngebuat makanan Aya sekarang jadi nggak ketelen tahu nggak? Makanannya nyangkut di tenggorokan karena ingat tatapan Kakak sekarang." Jawab gue jujur juga, lagian gue benerkan? Tatapan Kak Ken sekarang itu malah membuat gue makin nggak bisa nafas, ditatap sama laki-laki nggak lepas kaya gini, lebih-lebih laki-laki itu suami sendiri, gimana bisa santai coba? Cengah mah iya, kalaupun udah sah dan boleh-boleh aja tapi ya tetap, grogi gue bakalan keliatan jelas kalau udah kaya begini ceritanya.
"Kenapa bisa begitu? Kakak cuma natap kamu biasa, nggak minta apapun sama kamukan?" Tanya Kak Ken malah sesantai itu, gue meletakkan piring makanan gue dan menatap Kak Ken sembari mengusap d**a, Kak Ken jelas-jelas tahu alasannya kenapa tapi masih juga nanya sama gue alasannya apa, mukanya itu keliatan jelas kalau dia sebenernya sadar dengan alasan sikap gue sekadang tapi masih aja nanya kenapa, kan minta di cubit lengannya.
"Kenapanya Kakak pasti udah tahu jadi jangan kaya gitu, mau Aya jelasin gimana lagi? Kakak mah ngajak Aya becanda sekarang, padahal banyak hal yang harus kita berdua bicarain dan itu harusnya jauh lebih serius." Gue nggak tahu kalau Kak Ken juga sesuka itu becanda, Kak Ken keliatan sangat dewasa dan gue nggak mikir kalau Kak Ken bisa ngajak gue becanda kaya gini, setiap kali Kak Ken tersenyum di akhir pembicaraannya, gue udah tahu kalau Kak Ken sedang ngebecandain gue, contohnya aja kaya sekarang, setelah ngomong dan nanya begitu, Kak Ken malah senyam-senyum nggak karuan, gue jelas langsung tahu kalau separuh dari pertanyaannya itu cuma sekedar becandaan.
"Memang banyak hal yang harus kita bicarain dengan serius tapi nggak harus kita buru-burukan? Kita membahas lebih dulu tentang kita berdua lebih dulu, nggak harus membahas dan melibatkan orang lain, itu yang Kakak kamu, Kakak cuma ingin mengenal kamu dengan jauh lebih baik lebih dulu, menurut Kakak itu yang terpenting, apa Kakak salah?" Tanya Kak Ken balik ke gue, ya nggak salah, memang itu yang terpenting dan gue harus mengakui itu, gue paham itu dan gue sangat-sangat mengerti, gue pikir, membahas masalah Bang Riza sama Kak Ken awal-awal akan membuat keadaan gue sama Kak Ken kedepannya jadi lebih mudah, tapi kalau Kak Ken udah ngomong kaya gini ya gue bisa apa? Toh omongan Kak Kendra juga nggak ada salahnya, memang yang terpenting adalah tentang kami berdua lebih dulu, bukan tentang orang lain dan untuk saat ini, Bang Riza adalah orang lain.
"Kakak nggak salah, itu memang ya terbaik jadi setelah melihat Aya secara langsung kaya gini, apa ada yang mengecewakan?" Tanya gue ke Kak Ken lagi, gue ingin Kak Ken berterus-terang memberikan pendapatnya sama gue jadi gue juga akan mendengarkan dengan baik, apa yang kurang akan gue usahakan untuk perbaiki dan lain halnya akan gue coba pertahankan jadi kak Ken bisa bicara jujur tentang pendapatnya terhadap gue, gue bisa mengharapkan itu dengan lebih baik, gue bukan mengharapkan punian tapi kejujuran Kak Ken yang sangat gue mau.
"Nggak ada yang harus membuat Kakak kecewa dengan kamu, setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, entah kamu ataupun Kakak sendiri, kita berdua sama-sama punya kekurangan, menikahi kamu itu artinya Kakak bisa menerima semua kekurangan sekaligus kelebihan kamu juga jadi nggak akan ada masalah Ay, Kakak nggak harus merasa kecewa untuk apapun teehadap kamu jadi jangan nanya kaya gitu lagi, kamu paham?" Jawaban Kak Ken yang lagi-lagi sangat-sangat menenangkan hati gue, Kak Ken lagi-lagi berhasil membuat gue yang awalnya mempunyai pemikiran bodoh bisa berpikir dengan jauh lebih baik, nggak seharusnya gue mikir aneh-aneh sendiri lebih dulu.
"Tapi apapun kekurangan yang Aya punya, semoga Kakak bisa mengubahnya pelan-palan, gini-gini, Aya tetap nerima nasehat dan didikan kok Kak jadi jangan khawatir, kalau ada sikap Aya yang salah dan kurang berkenan, Kakak bisa langsung ngasih tahu Aya, jangan sungkan, kalaupun tar Aya kesal, paling kesalnya juga cuma sebentar, harap bersabar ya ngadepin Aya kedepannya." Jawab gue berusaha terbuka juga, mungkin kalau di ingatkan, gue suka murung dan kesal sebentar tapi gue harap Kak Ken bakalan paham dan mau bersabar, gue akan berusaha mendengarkan dan memperbaiki apapun kedepannya, Kak Ken harus banyak bersabar.
"Ay! Seperti ucapan Kakak tadi, bukan cuma kamu tapi Kakak judah punya kekurangan, Kakak juga mau kamu terbuka, kalau kedepannya dalam rumah tangga kita berdua ada masalah, kamu hanya perlu jujur dan kita bisa membicarakannya baik-baik sembari mencari solusi terbaik, setiap masalah ada solusinya jadi jangan menanggung beban kamu sendiri, kamu punya Kakak sekarang, Kakak akan selalu ada di belakang kamu." Gue tersenyum sembari mengangguk pelan, kata-kata Kak Ken beneran membuat gue tersenyum dengan tatapan yang berkaca-kaca, selama ini cuma Ayah yang akan bicara kaya gini sama gue, Ayah selalu mengingatkan kalau apapun masalah yang harus gue lewati, jangan khawatir karena Ayah sama Bunda akan selalu ada di belakang gue makanya denger Kak Ken ngomong kaya gini malah membuat gue berkaca-kaca.
"Kamu kenapa Ay?" Tanya Kak Ken yang keliatan cukup panil karena gue tiba-tiba udah natap Kak Ken berkaca-kaca.
"Makasih karena Kakak udah ngomong kaya gitu sama Aya." Ucap gue lirih.