(41) Masih Proses

1017 Kata
"Kamu ke kampus hari ini?" Tanya Kak Ken yang gue angguki, gue memang berencana ke kampus hari ini, gue udah libur tiga hari jadi beneran nggak mau nambah, gue sama sekali nggak berniat untuk kosong di banyak jam dan berakhir dengan kekurangan nilai, ada satu mata kuliah yang gue udah bolong beberapa kali jadi kalau sampai bolong lagi, dosennya bakalan ngamuk, udah dosennya pelit nilai jadi gue sangat nggak mau macem-macem, gue udah cukup tenang dengan keadaan gue sekarang jadi gue nggak mau nambah urusan untuk sementara, setidaknya gue mau semester gue ini berjalan seperti biasa, biasa bukan berarti nggak ada keluhan tapi gue berusaha menetralisir keadaan aja sebaik mungkin. "Mau Kakak anterin, kebetulan Kakak masih dapat cuti dari kantor." Tawar Kak Ken ke gue, gue mengiakan dengan cepat, nggak ada salahnya juga dianterin, biar anak-anak kampus juga nggak salah kaprah apalagi sampai mikir gue menghindar karena merasa tuduhan yang mereka layangkan itu bener padahal sampai sekarang, itu tuduhan berawal dari siapa aja belum ketahuan, gue sama Yuni masih berusaha nyari dan gue masih minta Bunda untuk nggak ngomong apapun sama Ayah, setidaknya itu yang terbaik untuk sekarang, gue masih harus memastikan lebih dulu sebelum salah paham dan nuduh orang sembarangan. "Kakak memangnya cuti berapa lama? Papa nggak protes itu Kakak nggak masuk kerja udah beberapa hari?" Tanya gue ke Kak Ken, gue aja yang baru tiga hari aja itu Si Yuni udah ngomel-ngomel nggak karuan sama gue, katanya kampus sepi, nggak ada temen ngobrol dan segala macam tapi Kak Ken kan kerja kantoran jadi gue pikir kalau mau cuti lama itu bakalan jauh lebih sulit, ini cuma sekedar terbakan gue doang sih tapi aslinya ya Kak Ken yang lebih paham sama situasinya sendiri, Kak Ken yang jauh lebih mengerti keadaan sekarang itu gimana, bukannya malah gue. "Kakak ngambil cuti seminggu, kamu khawatir kalau Papa bakalan marah? Papa nggak akan marah, kenapa? Karena memang Papa yang mengusulkan untuk Kakak cuti lebih lama." Jawaban Kak Ken yang membuat gue mengangguk pelan, oh jadi ternyata Papa orangnya yang nyuruh Kak Ken cuti lebih lama? Jadi bukan keinginannya sendiri begitu? "Jadi kalau Papa nggak nyuruh Kakak untuk cuti lebih lama, apa Kakak bakalan cuti sebentar?" Tanya gue dengan tatapan yang sedikit usil, gue nanya jelas bukan karena gue marah atau apapun, gue cuma nggak mau Kak Ken merasa terpaksa aja, lagian kalau Kak Ken cuti lama karena mendengarkan saran Papanya, bukannya itu berarti Kak Ken udah sangat nurut dengan kedua orang tuanya? Itu adalah salah satu ciri-ciri laki-laki baik menurut gue, ini aja udah jadi satu nilai bonus. "Bukan begitu juga tapi mungkin Kakak bakalan tetap masuk kerja dengan kerjaan yang cukup Kakak batasi, Kakak mungkin akan memberikan waktu yang perhatian yang lebih banyak untuk kamu tapi karena Papa malah memberikan cuti panjang, ya nggak ada salahnya kalau Kakak terima, lagian saran Papa juga sangat membantu dan itu bukan pilihan buruk." Gue mengangguk mengiakan dan balik mengumpulkan peralatan kuliah gue sekarang, gue harusnya nggak akan telat dan masih sempat kalau mau nemenin Yuni makan dulu di kantin kampus nanti. "Kamu mau langsung berangkat sekarang? Nggak mau sarapan lebih dulu?" Tawar Kak Ken yang gue balas dengan gelengan, tadi sewaktu Kak Ken turun untuk sarapan, gue malah sibuk beberes dapur jadi Kak Ken memangngue suruh untuk makan lebih dulu, gue biar makan di kantin aja nanti bareng Yuni, lebih hemat waktu dan gue nggak cuma jadi penonton budiman doang pas Yuni sarapan di kantin nanti, gue nggak bakalan jadi orang yang cuma duduk ngeliatin Yuni ngabisin makanannya, Yuni kadangkan rada-rada nggak beres juga kalau udah menyangkut sama makan, suka keblablasan tar jadinya. "Aya makan di kampus aja ya Kak, Yuni biasanya tar sarapan di kampus jadi bisa sekalian, nggak papakan? Pokoknya Aya bakalan sarapan, Kakak jangan khawatir." Walaupun nggak makan dirumah, gue tetap bakalan sarapan di kampus, karena Yuni terbiasa kaya gitu ya mau nggak mau gue jadi terbawa. "Yaudah nggak papa, yang penting kamu sarapan, kamu pamitan sama Ayah Bunda dulu, Kakak anterin kamu ke kampus sekarang." Mengiakan ucapan Kak Ken, gue langsung keluar dari kamar dengan menenteng tas gue untuk pamitan ke Ayah sama Bunda, Bunda mah ada di kamarnya tapi ternyata Ayah gue udah berangkat ke kantor duluan, Ayah berangkat lebih awal karena pas ngurusin acara pernikahan gue, Ayah udah banyak cutinya jadi kerjaan juga udah numpuk, makanya gue ngomong kaya gitu sama Kak Ken tadi, apa kerjaannya nggak numpuk? Tapi ya kerena ternyata udah dapet cuti lama dari Papa juga, gue rasa nggak akan ada masalah lagi. Selesai pamitan, gue keluar dari rumah dan ini adalah pertama kalinya gue keluar bareng Kak Kendra, ya setelah menikah gue memang nggak keluar kemanapun, selain karena nggak ada keperluan, gue juga malas, badan gue lemes, gue capek jadi waktu gue mending untuk istirahat di rumah, nah kalau udah kaya ginikan nggak ada waktu liburnya, kuliah gue masih tetap harus jalan, nggak ada waktu istirahat yang beneran full lagi jadi selagi ada waktu kemarin, rebahan adalah kerjaan gue seharian. "Kamu mikirin apa Ay? Ngelamun begitu Kakak perhatiin." Gue tersenyum kecil dan nggak membantah sama sekali pertanyaan Kak Ken barusan, gue memang lagi mikirin sesuatu makanya keliatan kaya orang lagi ngelamun, gue ngelamunin waktu-waktu gue sama Kak Ken yang sekarang, kita berdua bisa dibilang udah kenal lama tapi baru melakukan banyak hal untuk pertama kalinya sekarang, setelah menikah, bahkan cuma untuk duduk semobil kaya gini aja itu udah berasa bahagia banget, kalau sama yang udah halal memang rada beda ya. 'Heum Aya cuma lagi mikirin keadaan kuta berdua sekarang aja Kak, lucu aja, kita udah kenal lama tapi baru melakukan banyak hal berdua untuk pertama kalinya, contoh kecilnya kaya sekarang aja, duduk semobil, Kakak nganterin Aya ke kampus, bukannya ini adalah pertama kalinya? Ya ini yang Aya pikirin." Jawab gue jujur, ya memang ini yang gue pikirin sekarang, gue memikirkan hal-hal kecil yang belum pernah gue lakuin bareng Kak Kendra sebelumnya, jadi rasanya ungkapan beberapa orang yang ngomong pacara setelah menikah itu jauh lebih menarik dan membahagiakan itu nggak salah, bener banget malah. "Kedepannya akan ada banyak hal yang kita lewati berdua." Kak Ken sempat-sempat mengusap kepala gue sekilas padahal sedang mengemudi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN