(42) Tampang

1219 Kata
"Kalau gitu Aya pamit ya Kak, makasih karena udah nganterin Aya ke kampus sama Kakak hati-hati pulangnya." Ucap gue begitu kita berdua sampai di depan gerbang kampus gue, walaupun gue baru pertama kali semobil dan dianter sama Kak Ken, gue nggak akan ngomong kalau ini adalah kali pertama gue di anter ke kampus sama laki-lakis selain Ayah gue karena sebelum ini ada Bang Riza yang juga pernah nganterin gue ke kampus, bukan cuma sekedar nebeng atau pulang bareng tapi Bang Riza memang nganterin gue, entah itu karena terdesak atau gue yang nggak bawa kendaraan gue sendiri, intinya ini bukan kali pertama. "Nanti pulangnya juga Kakak jemput, sekarang kamu juga harus langsung sarapan, jangan sampai masuk ke kelas tapi belum makan, sama satu lagi, Kakak sekarang juga pulang ke rumah Papa dulu, ada barang yang harus Kakak ambi soalnya, kamuyang semangat belajarnya." Gue tersenyum kecil sembari mengangguki ucapan Kak Ken barusan, gue gue turun dari mobil Kak Ken dan langsung berlajan lurus melewati koridor kampus untuk nemuin Yuni lebih dulu di kelas setelahnya baru jalan ke kantin, anehnya adalah, setiap kali mau makan, Yuni selalu nggak mau kalau kita langsung ketemu disana, Yuni maunya kita ketemu di kelas dulu baru ke kantinnya bareng-bareng padahal kalau langsung ketemu di kantin akan lebih menghemat waktu menurut gue, ada-ada aja memang kelakuannya. "Yun! Ayo." Ajak gue ke Yuni begitu gue udah berdiri di ambang pintu kelas, Yuni yang menyadari namanya dipanggil langsung berbalik arah dan bangkit dari duduknya detik itu juga begitu memperhatikan gue, dasar ya, memang aneh ni anak satu, kenapa gue bisa bertahan bahkan samapai bersahabat sama Yuni kaya gini? Alasannya cuma satu, itu karena kenyataan yang ada, gue juga sama anehnya, banyak orang ngomong kalau kita bersahabat itu artinya kita itu sejalan pemikirannya dan gue rasa itu bener, banyak hal yang gue rasa, pendapat gue sama Yuni bakalan sama. "Lo beneran di anter sama Kak Ken? Pantesan aja pas gue bilang mau jemput lo nolak, biasanya mah langsung lo iyain, lo kan paling males bawa mobil kalau memang ada yang jemput apalagi punya tebengan." Ucap Yuni meggandeng lengan gue sembari berjalan beriringan kaya sekarang, gue tersenyum pelan dan menggeleng pelan untuk pertanyaan Yuni barusan, ya memang gue paling seneng kalau ada yang mau jemput dan nebengin gue, ngeyangin macetnya jalan pas berangkat sama pulang kampus aja udah ngebuat gue lelah duluan jadi kalau ada yang nawarin tebengan ya jelas gue nggak akan nolak, iya kali nolak tumpangan gratis kaya gitu, yang bener aja, cuma sekarang kan lain ceritanya, gue udah punya Kak Ken, kalau suami mau nganterin ya gue lebih bersyukur, Yuni juga nggak harus muter-muter untuk ngejemput gue lebih dulu, bukannya itu hal bagus? "Ya kan sekarang udah punya suami Yun, lo juga nggak harus muter-muter karena jemput gue lebih dulukan, nah itu berita bagus, lagian tadi gue ditawarin juga masih awal ya gue iyain langsung, nggak papa dong, yang penting itu gue sampai di kampus tepat waktu dan masih sempat sarapan bareng sama lo sekarang." Ini yang terpenting, masalah gue dateng dianterin siapa mah itu urusan belakangan dulu, gue sekarang itu lagi fokus untuk memulai masamasa awal pernikahan gue, banyak hal yang mau lakuin berdua sama Kak Ken dan tadi pagi adalah salah satunya, gue bisa dianter dan berangkat bareng Kak Ken untuk pertama kalinya, gue nggak mungkin melewatkan kesempatan kaya gitu, Yuni yang nanya juga satu hal. "Wah, baru hitungan hari aja lo udah keliatan jauh lebih bahagia kaya gini, kalau seminggu berlalu, sebulan bahkan setahun-tahun berlalu, gue nggak kebayang gemuknya lo kaya apa, katanya kalau kita bahagia berat badan bakalan naik drastiskan? Nah gue lagi ngebayangin lo tar gendutan dan pipi lo udah kaya donat, nah kan bagus tu." Cerocos Yuni sembari memperhatikan gue dengan tatapan takjubnya, gue sampai ikut membelalakkan mata memperhatikan reaksi Yuni sekarang, sampai sebegitunya nianak, malah udah sampai ngebayangin gue gendutan segala, kan kejauhan, lagian orang baru nikah ya udah jelas bahagia, jarang gue liat orang baru nikah tapi hidupnya malah susah, jarang ada. "Lo ngomongin apaan coba? Lagian kalau gue bahagia bukannya lo harus ikut bahagia juga? Nggak ada yang aneh dengan orang yang baru nikah terus bahagia, yang aneh adalah orang baru nikah tapi hidupnya susah, nah itu baru yang harus gue pertanyakan, Lagian lo nanya kaya gini maksudnya gimana? Memang lo mikirnya kalau setelah menikahgue bakalan kesusahan begitu? Wah kebangetan lo memang." Gue bahkan melepaskan paksa gandengan Yuni di lengan gue sekarang dan pura-pura masang muka kesal gue, ya gue yakin Yuni nggak akan sejahat itu sama gue apalagi sampai mikir buruk, gue cuma becanda aja abisan ni anak kalau ngeomong suka kejauhan, jatuhnya malah kaya heboh sendiri ni anak tahu nggak. "Ya nggak gitu maksud gue Ay, maksudnya itu gue kira lo nggak bakalan sebahagia ini karena bagaimanapun lo sama Kak Ken itu menikah karena dijodohkan, apalagi banyak masalah yang muncul sebelum hari pernikahan lo, gue takut kalau lo kecewa dan menyesali sesuatu, setidaknya mungkin lo nggak akan sebahagia sekarang tapi kalau ternyata lo sangat-sangat bahagia dan baik ya gue malah bersyukur, karena setidaknya yang gue khawatirin itu nggak kejadian, lo bisa selalu bahagia dan bahagia selalu." Jelas Yuni kembali menggandeng lengan gue, gue tersenyum kecil dan nepuk lengan tangan Yuni yang ada di lengan gue sekarang, ya gue tahu maksudnya lagian gue juga nggak menyalahkan pemikiran Yuni, karena kenyatannya memang begitu, banyak masalah yangmuncul tepat sebelum hari pernikahan gue sama Kak Kendra juga. "Alhamdulillah semuanya berjalan baik, Kak Ken juga sangat baik, gue nggak ngerasa harus kecewa untuk alasan apapun Yun, ini pilihan gue dan gue yang akan bertanggungjawab sepenuhnya untuk perasaan gue sendiir, lo doain yang baik-baik aja untuk gue, Kak Kendra yang gue kenal sekarang nggak berbeda jauh dengan Kak Kendra yang gue bayangin selama ini juga." Ini yang gue rasain sekarang, sikap Kak Ken sekarang malah sangat baik, Kak Ken sangat-sangat dewasa dan gue juga baru sadar kalau Kak Ken ternyata laki-laki yang cukup romatis, perlakuan dan perhatian kecilnya aja udah cukup untuk ngebuat gue deg-degan nggak karuan, ini belum gue ngomongin yang lain, intinya sejauh ini, gue nggak ngerasa kecewa untuk alasan apapun, ini yang harusnya Yuni tahu jadi Yuni juga jangan terlalu khawatir. "Alhamdulillah kalau memang itu yang lo rasain Ay, oya satu lagi yang harus gue kasih tahu sama lo, ini adalah bagian terpentingnya." Ucap Yuni memberhentikan langkah, Yuni bahkan melepaskan gandengannya dan neuk kedua bahu gue dengan tatapan yang berubah menjadi sangat serius sekarang, Yuni mau ngomongin apalagi? Perasaan mendadak kantin kampus jadi tambah jauh. "Apalagi Yun?" Tanya gue balik dan menatap Yuni dengan tatapan malas gue. "Gue pernah bilang kalau calon suami lo utu gantengkan? lo tahu, setelah gue ngeliat langsung untuk waktu yang lebih lama pas niakahan lo kemarin, gue bisa mastiin kalau Kak Ken memang beneran ganteng Ay, serius, anak-anak lo nanti bakalan good looking semua kalau nurunin wajah Bapaknya." Yuni ngasih tahu gue hal ini dengan tatapan yang sangat antusias. “Lo kalau udah ngeliat yang ganteng mah selalu kaya gini Yun.” Ucap gue nggak habis pikir, lagian yang gue pikirin sekarang apa coba? Nggak ada yang lain kecuali ngakak terus-terusan. “Gue serius Ay! Sangking seriusnya gue bahkan sampai bisa ngeliat Kak Kendra jalan ke arah kita berdua sekarang.” Gue berbalik arah dan mengikuti arah pandang Yuni sekarang dan bene raja ternyata memang ada Kak Ken yang berjalan ke arah kita berdua sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN