"Itu mah bukan karena lo serius tapi orangnya memang dateng kemari bocah, lo aja yang ngomong nggak sadar diri atau bahkan nggak sadar sama situasi, gue jelas-jelas ngeliat Kak Ken dateng jemari bukan karena omongan lo yang sangking gantengnya doang elah." Omel gue ke Yuni sangking nggak habis pikirnya, lagian bisa-bisanya Yuni mikir kalau dia lagi ngayal dan negbayangin kalau Kak Kendra dateng kemari padahal kenyatannya orangnya memang udah ada di depan mata kaya gini, Yuni bukannya halusinasi tapi tingkat kesadaran dirinya yang udah nggak ada, sangat rendah makanya sulit membedakan mana yang halu dan mana yang nyata, sekarang aja contohnya.
"Hah beneran sauami lo? Ganteng banget Ay,mimpi apa gue barusan sampai bisa ketemu laki-laki tampan pagi-pagi kaya gini? Kalau gue ketemu sebentar aja bahagianya udah luar biasa nah apa kabar sama lo yang ketemunya mulai dari membuka mata setiap pagi? Berhkah banget pasti kan ya?" Dan gue rasa Yuni semakin ngaco dengan omongannya sekarang, Yuni bisa berhenti segera sebelum Kak Ken mendengarkan ucapannya barusan, kalau sampai Kak Ken denger, gue nggak bisa ngebayangin Kak Ken bakalan mikir apa untuk gue sama Yuni nanti.
"Lo diem aja sekarang, jangan ngomong aneh-aneh dulu, orangnya dateng soalnya." Gue nepuk pelan bibirnya Yuni untuk diam sesegera mungkin, Kak Kendra udah di depan kita berdua sekarang, nafas Kak Ken bahkan sedikit terengah sekarang.
"Loh Kak, kenapa malah nyusulin Aya sampai ke dalam kawasan kampus kaya gini?" Tanya gue ke Kak Ken, gue menatap Kak Ken dengan senyum tertahan sekarang, ngeliat muka Kak Ken mungkin dalam hati gue udah mengiakan semua ucapan Yuni dari tadi, gue menikahi laki-laki yang punya wajah cukup tampan dan itu adalah keberuntungan gue, gue harus banyak bersyukur dan berbahagia sekarang, setidaknya gue nggak akan mendengarkan potesan Yuni kalau sampai Yuni tahu gue menikahi laki-laki yang nggak ganteng sama sekali, guenya nggak masalah tapi komentar Yuni yang bakalan bertahan lama nantinya.
"Handphone kamu ketinggalan makanya Kakak anterin sampai ke sini, Kakak belum punya nomer kamu juga jadi kalau misalnya Kakak ada perlu atau bahkan kamu perlu, bakalan susah juga kalau handphone kamu nggak ada." Ucap Kak Ken menyerahkan handphone gue yang ada di tangannya sekarang, gue menerima uluran Kak Ken dan tersenyum kecil sambilan geleng-geleng kepala, karena terllau fokus dengan hal lain, handphone sampai ketinggalan kaya gitu, untung Kak Ken mau nganterin jadi gue nggak bakalan kerepotan, conba kalau Kaka Ken nggak mau nganterin, bisa pulang dengan dinatarkan Yuni lagi gue hari ini, Kak ken jelas belum tahu jadwal kuliah gue itu kaya apa jadi nggak mungkin bisa sembarangan.
"Wah makasih ya Kak udah di anterin, Kakak mau langsung pulang atau gimana? Mau ikut sarapan lagi bareng kita dulu?" Tawar gue ke Kak Ken, yamasa udah dianterin dan orangnya juga udah di depan mata kaya gini gue suruh pulang gitu aja? Basa-basi sedikit kan nggak papa, ajak makan di kantin dulu sebentar toh katanya Kak Ken juga nggak buru-burukan? Nggak cuma gue yang punya niat kaya gini tapi tatapan berbinar Yuni mendengarkan tawaran gue untuk Kak ken barusan juga menjelaskan semuanya, Yuni juga snagat setuju kalau Kak Ken ikut makan bareng kita berdua sekarang, jelas itu bukan masalah, bagi Yuni mungkin ini yang dimaksid berkah.
"Ayo Kak ikut aja, makanan di kantin kampus kita juga enak banget, Kakak tadi katanya juga belum punya nomer handphone temennya Ayakan? Jadi susah kalau mau ngehubungin, nah save nomer saya aja, saya bukan cuma temen tapi saya sahabatnya jadi otomatis lebih terjamin kalau Kakak mau tahu informasi apapun, atau nggak Kakak yang ngasih nomer Kakak ke saya juga boleh, biar saya yang simpan." Potong Yuni cepat menawarkan nomer handphonenya untuk Kak Ken sekarang, gue yang berdiri di tempat langsung melongo kaget sama sahabat gue yang satu ini, tingkat kepedeannya beneran sesuatu, bisa-bisanya dia ngomong sesantai itu sama Kak Kendra, nggak cuma kaget dengan omongannya barusan, gue juga cukup kaget dengan dengan panggilan Yuni untuk Kak Kendra barusan, Kakak? Kenapa gue rada nggak nyaman dengan Yuni manggil Kak Ken kaya gitu, harus gue ganti kayanya, panggilan Kakak itu cuma boleh untuk gue aja, nggak boleh dicampur sama orang lain, nggak bisa.
"Boleh kalau memang kalian nggak keberatan, cuma kayanya lebuh baik kamu manggil Mas aja, udah tua soalnya, siapa namanya tadi? Yunikan? Yun! Kamu bisa manggil Mas aja." Gue langsung menatap Kak kendra dengan senyum kemenangan gue, entah Kak Ken beneran nggak nyaman dengan panggilan yang dilayangkan Yuni barusan atau memang Kak Ken tahu dari tatapan gue, intinya gue suka sama jawaban Kak Kendra barusan, itu yang bener, harus tegas, kalau setuju ya bilang setuju, kalau enggak ya jangan, gue nggak mau denger Kak Ken dipanggil Kakak sama orang lain, mau alasannya karena tua atau apapun ya terserah tapi intinya panggilan Kakak cuma boleh untuk gue, nggak ada pengecualian.
"Iya Mas, Mas juga nggak masalah, nggak keliatan tua sama sekali soalnya, yaudah ayo makan, keburu makin rame dan kantin malah penuh nantinya, kelas juga bentar lagi mau mulai, harus diburu." Mendengarkan ucapan Yuni, gue sama Kak Ken sepakat mengangguk pelan dan berjalan beriringan menuju ke arah kantin, sepanjang perjalanan, Yuni sesekali nyikut lengan gue tapi gue masih belum sadar dengan maksudnya apa, gue bukannya nggak sadar tapi gue nggak mau ngebahas apapun sekarang, gue nggak mau ngebahas yang sebenernya nggak penting untuk gue sekarang tapi karena terllau gue abaikan, gue langsung sadar sama maksud tatapan Yuni sekarang, alasan Yuni natap gue kaya gitu adalah karena tatapan anak-anak kampus mulai nggak enak, banyak pasang mata yang mulai menjadikan gue tontonan menarik mereka smeua dan gue sedikti kewalahan dengan hal itu.
"Ay! Apa ada yang salah sama kita berdua? Kenapa banyak yang natap kita sekarang?" Tanya Kak Ken ke gue, gue menghembuskan nafas dalam dan nggak tahu harus mulai ngejelasin dari mana, intinya gue hanya bisa nepuk lengan Kak Ken sekilas dan berjalan seperti biasa sampai kita udah duduk di kantin, Yuni ngebantuin kita berdua mesen makanan sedangkan Kak Ken masih melirik gue sesekali dengan tatapan yang nggak bisa gue jelasin sama sekali, gue juga nggak ngerti harus ngejelasinya gimana sekarang tapi yang pasti Kak Ken memang berhak tahu, gue akan menjelaskan semuanya sama Kak ken nanti.
"Kak! Maaf ya malah jadi nggak enak gini karena diliatin sama orang banyak, nanti bakalan Aya jelasin semuanya sama Kakak." cicit gue nggak enak sama Kak Kendra.