Setelah mendengarkan banyak omogan di kantin tadi, gue mmebiarkan Kak Kendra pulang dengan tatapan yang memperhatikan guesedikit khawatir, gue masih memkasakan senyuman gue supaya Kak Ken bisa jauh lebih tennag tapi yang namanya udah khawatir karena kejadiannya udah di depan mata, mau gue bersikap sebaik apapun juga, rasa khawatir Kak Ken nggak akan hilang gitu aja, gue hanya bisa mencoba menenangkan tapi tennag atau enggak ya balik ke Kak Kendra sendiri tapi kalau gue ada di posisi Kak ken sekarang, gue juga pasti akan merasakan hal yang sama, gue nggak mungkin nggak khawatir kalau memang udah begini urusannya, gue itu udah bakalan kepikiran sendiri sama masalah yang udah ada.
"Apa suami lo bakalan baik-baik aja, gue khawatir gitu ngeliat tatapannya pas pulang tadi, kaya nggak mau ninggalin lo sendiri tapi nggak mungkin mau tetap nemenin lo sampai kuliahnya selesai juga, anak-anak juga pasti bakalan ngomongin lebih parah lagi nantikan beb? Gue aja yang ngeliat tatapan Kak Ken tapi jadi lesu apalagi Kak Ken yang ngerasain sendiri." Cicit Yuni begitu kita berdua udah di kelas, sambialn nungguin dosennya masuk gue juga masih mikirin Kak Ken tapi gue nggak nyangka kalau Yuni juga masih mikirin raut wajah suami gue pas pulang dari kantin tadi, Yuni sampai sebegitu khawatirnya, ini anak khawatir karena Kak ken itu suami sahabatnya atau gimana? Heran juga gue, dia khawatir udah lebih parah dari gue kayanya.
"Wo wo, kan gue udah ngingetin lo untuk nggak manggil suami gue pakai sebutan Kak,panggil Mas, kan Kak Ken sendiri yang udah ngomong kaya gitu sama lo masa lo udah lupa padahal baru aja tadi diomongin? Kacau lo, lagian ni masalah raut wajah khawatirnya Kak Ken ya gue juga tahu, gue udah ngomong sama Kak Ken kalau sampai di rumah nanti bakalan gue jelasin semuanya jadi harusnya Kak Ken bisa sedikit lebih tenang, memang anak-anak aja kaya nggak tahu tempat banget, ngomongin orang pas orangnya ada di depan mata kaya gitu, siapa yang nggak bakalan risih coba?" Jelas gue ke Yuni sekali lagi masalah panggilan, gue mulai serius karena gue memang nggak begitu suka dengan panggilannya, Yuni memang sahabat gue dan gue yain kalau Yuni nggak akan aneh-aneh sama suami sahabatnya sendiri cuma untuk pekara panggilan gue minta tolong Yuni untuk paham dan sedikit lebih pengertian, cuma soal panggilan doang gue kaya ginikan? Lainnya nggak ada masalah untuk gue sekarang.
"Iya iya, sebegitu sensitifnya lo kalau udah menyangkut suami, lagian gue nggak ada maksud apapun Ay, cuma kepikiran karena biasanya gue kepikiran sama lo tapi sekarang udah nambah satu orang lagi yang sangta khawatir dengan keadaan lo sekarang jadi gue merasa sedikit tersaingi, mohon paham dan pengertiannya, gue butuh waktu untuk penyesuaian diri, harap bersabar dan maklum untuk sesaat teman, gue lagi proses ini, cuma belum terbiasa aja, sabar dan harap tenang, gue masih bisa berpikiran lurus soalnya jadi lo nggak perlu khawatir tentang hal yang nggak penting." Ucap Yuni ke gue, Yuni memberikan penjelasan yang sangat jelas dan gue juga mencoba mengerti maksud ucapannya sekarang, gue mencoba paham dan gue yakin Yuni memang nggak ada ngelakuin hal bodoh cuma untuk hal-hal yang nggak penting, ada banyak hal yang nggak bisa ucapkan dan nggak bisa gue jelasin secara gamblang ke Yuni tapi syukurnya Yuni berani menjelaskan kekhawatiran gue lebih dulu jadi sebelum pemikiran gue oleng keman-mana alangkah lebih baik kalau gue disadarkan lebih dulu dan sesegera mungkin saat ini juga.
"Lo sampai sebegitunya tapi ada baiknya kaya gini sih Yun, lo tahu pemikrian gue suka meleneng jauh kemana-mana padahal cuma nambah beban pikiran gue sendiir doang tapi sayangnya gue tetap berpikiran bodoh tentang hal kaya gini, gue mau bingung tapi ini adalah hal jelas yang harus gue luruskan sama lo, jujur aja kalau gue juga nggak berpikir kalau lo bakalan ngelakuin hal aneh atau nyakitin gue, gue percaya itu cuma pekara panggilan aja gue rada sensistif, nggak papa ya, itu doang kok." Dasarnya gue juga nggak akan mikir buruk tentang Yuni dan gue tahu Yuni juga tulus peduli sama gue, sama halnya Yuni yang belum terbiasa, gue juga belum terbiasa, gue masih harus banyak belajar untuk mengkondisikan situasi jangan sampai karena hal sepele gue malah cemburu nggak karuan, jangan sampai karena rasa cemburu nggak bertempat gue, persahabatan gue juga jadi kacau balau, itu nggak akan sepadan sama sekali, Yuni sahabat gue jadi gue nggak harus berpikiran buruk sama sekali.
"Bagus kalau lo sadar lebih dulu, jangan smapai mikirn hal bodoh dan nyusahin diri sendiri, kalau ada yang mengganggu langsung omongin sama gue, langsung bicarain dan jangan lo simpan di hati sendirian tar malah jadi boomerang." Gue mengangguk cepat untuk ucapan Yuni sekarang, gue juga berpikrian kaya gitu, nggak seharusnya gue mikir buruk sendirian, gue masih harus ngomongin banyak hal yang nggak harus gue paksain, gue baru akan memulai suasana baru jadi harus banyak bersabar, membangun rumah tangga juga nggak akan mudah, butuh banyak kepercayaan didalamnya, syarat awal membangun rumah tangga juga ini, saling percaya, kalau sekarang aja gue nggak bisa percaya sama suam gue gimana kedepannya? Gue harus bisa memupuk rasa percaya gue sebaik mungkin mulai sekarang, nggak cuma dalam hal rumah tangga tapi dalam masalah hal persahabatan juga, gue harus bisa percaya sama sahabat gue, karena mau hubungan dalam bentuk apapun, rasa percaya itu adalah hal yang snagat penting, itu semua adalah syarat untuk kita semua bisa hidup berdampingan.
"Yun! Menurut lo, gue harus ngomong gimana sama Kak Ken nanti? Apa gue harus jujur dari awla masalah tuduhan yang geu terima di kampus bahkan sebelum hari pernikahan atau gue hanya harus menceritakan tuduhan yang gue terima sekarang? Masalah ini juga akan bersangkutan dengan Bang Riza juga awal dan ujungnya, menurut lo gimana?" Gue menanyakan pendapat gue lebih dulu, kenapa? Alasannya ya masih sederhana karena Kak Kendra juga udah ngomong kalau dia mau saling mengenal dengan baik lebih dulu, kita berdua yang terpenting bukannya orang lain tapi kalau masalahnya udah kaya gini, bukannya semua hal juga jadi penting, dalam proses pengenalan Kak Ken juga harus tahu keadaan gue yang sekarang itu gimana, apa aja beban yang gue punya, apa aja masalah yang harus gue hadapi sekarang, bukannya Kak Kendra juga harus tahu ini lebih dulu, siapa tahu Kak Ken punya solusi yang lebih baik untuk kita semua, bisa ajakan?
"Saling mengenal memang penting dalam prosesnya lo sama Kak Ken juga nggak bisa menghindari maslaah, terkadang cara seseorang menyelesaikan suatu masalah bisa membuat kita mengenal sifat orang tersebut dengan lebeh baik, apa gue salah?" Jawaban Yuni yang gue iyakan dlaam hati juga tapi apa Kak kendra bakalan sependapat sama gue sekarang?