(45) Teman Dekat

1024 Kata
Setelah ucapan Yuni tadi, gue jadi mikir banyak, ada benernya omongan Yuni, dalam hubungan gue sama Kak Ken sekarang proses pengenalan memang hal yang terpenting tapi jujur dengan keadaan masing-masing juga nggak bisa dikesampingkan, gue harus bisa lebih terbuka sama Kak Ken, kalau gue punya masalah harusnya masalah itu gue bicarain baik-baik dan lihat bagaimana reaksi Kak Ken dalam menghadapi suatu masalah, gue nggak harus nunggu gue sama Kak Ken saling mengenal lebih dulu baru bisa terbuka dalam membicarakan masalah tapi masalah yang ada sekarang siapa tahu malah bisa membuat gue mengenal sifat dan kepribadian Kak Kendra dengan jauh lebih baik. "Lo pulang sama siapa? Beneran di jemput suami atau mau pulang bareng gue? Gue anterin sampai rumah sekalian." Tanya Yuni yang seperti biasa menawarkan diri untuk nganterin gue pulang, gue menggeleng untuk pertanyaan Yuni barusan karena memang gue pulang di jemput sama Kak Ken hari ini, sesuai ucapannya tadi Kak Ken bakalan jemput balik dan kayanya Kak Kendra malah udah di depan, orangnya udah sempat ngabarin soalnya jadi nggak mau ngobrol lebih lama, gue langsung pamit sama Yuni dan berjalan dengan langkah cepat keluar dari kampus, dan bener aja dari jauh gue ngeliat mobilnya Kak Ken yang udah parkir. "Maaf telat ya Kak, dosennya minta waktu tambahan sedikit soalnya, Kakak udah lama nunggunya?" Tanya gue ke Kak Ken begitu gue masuk ke mobilnya, gue nanya masih dengan nafas ngos-ngosan sekarang, Kak Ken tersenyum kecil dan menggeleng pelan juga untuk pertanyaan gue barusan, Kak Ken kayanya udah nunggu lama, gue nerima balasan chat kalau Kak Ken udah di depan aja dari tadi, dosennya keluar agak telat jadi kita semua ya telat juga, Kak Ken jadi harus nungguin gue selesai kuliah lebih lama. "Nggak papa, kamu lari dari kelas kemari? Kenapa nafas sampai ngos-ngosan begitu Ay?" Tanya Kak Ken balik yang membuat gue menyunggingkan senyuman, Kak Ken nanya santai tapi gue yang mendapatkan pertanyaan kaya gitu udah senyam-senyum nggak karuan, lagian nanyanya begitu banget, keliatan jelas kalau gue lari jalan kemari, ya soalnya udah kelasnya selesai telat, masa iya gue jalannya leha-leha padahal ada orang yang udah nungguin gue lama di depan, kan nggak mungkin, gue menghargai orang yang ngejemput makanya gue sampai berakhir dengan ngos-ngosan begini, udah ngos-ngosan pertanyaan Kak Ken malah bikin gue mau ketawa, kan makin lucu. "Kakak nanya apa ngeledekin Aya nih? Lagian karena Aya tahu Kakak nunggu makanya Aya cepet-cepet jalannya, biar Kakak nggak kecapean nunggu lama jugakan? Nggak ada yang salah dong, ini Kakak malah ngeledekin, nahan tawa begitu." Gue menatap Kak Ken dengan mempotskan bibir gue, gue bahkan menatap Kak Ken dengan bibir manyun sekarang, nggak serius marah sih dan nggak kesal juga, cuma mau ngajak becanda Kak Ken sebentar, karena beberapa hari ini gue ketemu Kak Ken secara langsung ternyata orangnya memang suka becanda, gue nggak keberatan kalau ikut becanda juga. "Besok-besok walaupun Kakak udah didepan, kamu nggak perlu lari-lari nemuin Kakak kaya gini, Kakak bisa nunggu tapi kalau sampai kamu kenapa-napa, itu yang nggak Kakak mau." Gue udah senyam-senyum sendiri sekarang mendengarkan ucapan Kak Kendra, kata-katanya itu malah ngebuat gue makin kehabisan kata, omongannya itu beneran terdengar kalau Kak Ken peduli sama gue, gimana gue nggak klepek-klepek coba kalau Kak Kendra udah ngomong kaya gitu, senyuman gue malah makin menjadi kalau udah kaya gini, Kak Ken yang merhatiin senyuman gue aja udah ikutaj senyum juga, senyumannya nular ini mah. "Kamu senyum kenapa? Ada yang salah sama ucapan Kakak barusankan?" Tanya Kak Ken ke gue, gue ya langsung menggeleng cepat, omongannya nggak ada yang salah cuma reaksi gue aja yang berlebihan kaya gini, keliatan jelas banget kalau gue udah kesenengan diperhatiin sama Kak Ken kaya gitu, ya memang itu kenyataannya juga sih. "Ya gimana nggak senyam-senyum sendiri, diperhatiin sama suami kaya gini, Kakak nanyanya juga yang bener, masa nggak tahu istri seneng kenapa? Yaudah jangan terlalu lama dibahas, lebih baik kita pulang sekarang, ngapain juga parkir disini lama-lama, ayo jalan." Gue menyelesaikan obrolan gue sama Kak Ken dan lebih memilih mmebiarkan Kak Ken fokus dengan kemudinya, gue sendiri juga sibuk membalas pesan chat Yuni yang ternyata ni anak bukannya langsung pulang tapi malah nangkring di kantin lagi, Yuni laper mendadak sebelum pulang katanya dan gue nggak bisa berkata-kata. "Kenapa?" Tanya Kak Ken yang melirik gue sekilas barusan, gue masih menggeleng-gelengkan kepala kalau ingat kelakuan Yuni, ada-ada aja sikap anehnya itu. "Nggak papa Kak, cuma ini Yuni ngasih tahu kalau dia lagi dikantin, selesai kuliah bukannya langsung pulang tapi malah makan dulu, perutnya minta di isi, kalau nunggu sampai di rumah, kelamaan katanya." Jelas gue untuk pertanyaan Kak Ken barusan, lah iya bener omongan gue, Yuni itu niatnya diet, cita-citanya mau kurus tapi makannya nggak bisa di urus, kalau udah laper suka nggak tahan godaan masalah, nah itu yang susah, gimana ceritanya bisa kurus kalau pola makannya aja nggak teratur sama sekali? Gue ngingetin udah sering tapi begitu gue lengah ya kaya gini kejadiannya, makan sendirian di kantin juga disanggupin sama Yuni. "Kamu sahabatan sama Yuni udah lama?" Tanya Kak Ken seteleh tersenyum sekilas mendengarkan jawaban gue barusan tentang Yuni, gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Kak Ken yang sekarang, gue berteman sama Yuni ya bisa dibilang cukup lama, kalau temenannya udah mulai dari sekolah dasar sampai sekarang, udah terhitung lamakan ya? Udah berapa tahun itu? Dari mulai main tanah bareng-bareng sampai sekarang beli tanah bareng-bareng. "Udah lama sih Kak, dari sekolah dasar malah, kenapa Kakak nanya itu?" Tanya gue balik karena panasaran, Kak Ken juga menggeleng sekilas untuk pertanyaan gue barusan, Kak Ken bahkan menyunggingkan senyumannya sekarang, Kak Ken kenapa? "Nggak papa, kalian bertiga keliatan cukup akrab." Jawab Kak Ken sekilas, gue awalnya ikut tersenyum mengiakan jawaban Kak Ken tapi seketika otak gue balik mikir, Kak Ken lagi ngomongin gue sama Yunikan ya? Tapi kenapa ngomongnya malah bertiga? Maksudnya gimana sekarang? "Bertiga? Maksudnya Kakak gimana? Satu orang lagi yang Kakak maksud barusan siapa?" Ini yang membuat gue cukup kebingungan, pertanyaan Kak Ken terdengar santai tapi malah ada yabng mengganjal kaya sekarang, gimana gue nggak bingung coba? "Bertiga, kamu, Yuni sam laki-laki yang rumahnya ada disebelah rumah kamu, siapa namanya? Riza? Kalian bertiga terlihat cukup akrab." Jelas Kak Ken yang membuat gue langsung menatap suami gue penuh tanda tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN