Mendengarkan nama Bang Riza disebut membuat gue mengkaku di tempat untuk sesaat, gue padahal lagi nggak membahas masalah orang lain tapi tiba-tiba aja Kak Ken malah nyebut nama Bang Riza, bukannya itu sedikit aneh? Gue menatap Kak Ken lama sembari mempertimbangkan ucapan Yuni tadi, ya memang yang penting gue sama Kak Ken dulu tapi Kak Ken juga harus tahu semua hal tentang gue termasuk Bang Riza, mau nggak mau, Bang Riza memang salah satu bagian dalam hidup gue juga, ini kenyataan jadi karena berhubung Kak Kendra sendiri udah nyerempet duluan ke masalah Bang Riza, kenapa nggak gue jadikan ini kesempatan untuk menceritakan semua hal tentang Bang Riza yang menyangkut dengan gue? Ini adalah kesempatan bagus.
"Bang Riza? Kenapa tiba-tiba Abang nanya Bang Riza, Aya, Yuni sama Bang Riza memang temenan, bisa di bilang Aya lebih akrab sama Bang Riza ya karena kita berdua tetangga, kenapa Kak?" Sebelum membahas Bang Riza lebih jauh, bukannya gue harus bertanya lebih dulu dengana alasan Kak Ken melayangkan pertanyaan semacam ini tiba-tiba? Kak Kendra pasti punya alasannya jadi nggak mungkin membahas Bang Riza tanpa dipicu oleh apapun, Kak Ken bukan tipe orang yang bakalan nanya kalau memang itu nggak penting kayanya dan kalau udah begini, alasannya Kak Kendra sekarang itu apa?
"Nggak papa cuma Kakak nggak sengaja ketemu Riza sewaktu Kakak keluar dari arah kantin kamu tadi pagi, Riza terlihat sedang berdebat dengan beberapa mahasiswa karena membela kamu, Riza terlihat sangat khawatir bahkan marah disaat yang bersamaan, Riza membuat mahasiswi yang lain juga berhenti berbicara buruk dan melayangkan tuduhan yang nggak masuk akal, awalnya Kakak kira Riza memang hanya sekedar anak tetangga tapi sikapnya tadi terlalu berlebihan kalau memang kalian hanya saling mengenal sebatas itu." Jawab Kak Kendra jujur, Kak Ken bahkan masih bisa memperlihatkan senyumannya ke gue sekarang, gue nggak tahu harus bahagia atau marah dengan sikap Bang Riza tadi tapi kalau Kak Ken sendiri udah melihat sikap Bang Riza yang seperti itu, rasanya mengenai Bang Riza, harus gue jelaskan sesegera mungkin.
"Heum, jawaban Aya sekarang mungkin bakalan sedikit membingungkan, kenyataannya hubungan Aya sama Bang Riza memang nggak sebatas kenal karena kita berdua tetangga, selama ini laki-laki yang Aya kenal baik cuma Bang Riza, bagi Aya, Bang Riza udah seperti sosok seorang Abang, itu menurut sisi Aya sendiri Kak." Jawab gue berusaha untuk terlihat sangat jujur juga, mendengarkan jawaban gue barusan, tatapan Kak Ken memang masih menatap lurus ke arah jalan tapi satu hal yang gue sadari, genggamannya menguat di stir kemudi sekarang, gue juga ikut menghembuskan nafas dalam, cepat atau lambat, Kak Kendra memang akan tahu hal ini jadi sebelum makin ribet, alangkah lebih baik kalau gue menjelaskan dan menceritakan semuanya lebih dulu.
"Itu menurut sisi dan pandangan kamu, gimana dengan sisi dan pandangan Riza? Apa dia juga hanya menganggap kamu sebagai anak tetangga bahkan seperti adiknya sendiri?" Lanjut Kak Kendra dengan nada yang sama, hanya saja senyumannya menghilang sekarang, Kak Ken tetap fokus dengan kemudi bahkan nggak melirik gue sama sekali setelah pertanyaannya barusan, gue nggak bisa protes, Kak Kendra mungkin juga kaget dengan jawaban gue barusan.
"Kakak mau Aya ngasih Kakak jawaban jujurkan? Kalau memang iya, mau nyari tempat lain untuk bicara? Kayanya kurang nyaman aja kalau kita bicara kaya gini, kalau di rumah juga nggak bakalan bebas karena ada Bunda, di perempatan depan ada toko langganan Aya, mau kesana?" Yang akan gue sama Kak Ken bahas sekarang adalah pekara yang sangat sesitif, walaupun ini menyangkut dengan orang lain tapi ini adalah hal yang penting jadi nggak cukup leluasa aja kalau kita berdua bahas kaya gini, Kak Ken natapnya ke jalan terus dan gue sendiri juga mau ditatap langsung kalau lagi di ajak bicara serius, begitu lebih baik.
"Yaudah ayo." Mengiakan tawaran gue, Kak Ken langsung parkir di tempat yang gue maksud barusan karena jaraknya yang memang udah sangat dekat, gue turun dari mobil Kak Ken dan kita berdua berjalan beriringan masuk ke dalam, begitu masuk, senyum merekah Putri udah menyambut kedatangan kita berdua sekarang, gue udah ngomong kalau ini tempat langganan guekan? Jadi rasanya wajar kalau gue kenal baik dengan pemiliknya sekarang, Putri itu adik kelas gue pas SMA juga jadi kita berdua kenal lama sampai sekarang, ini toko es krim milik keluarga Putri.
"Lama nggak kemari Kak, Kak Yuni sama Bang Riza kemana? Nggak di ajak?" Tanya Putri menyapa gue ramah seperti biasa, gue tersenyum kecil sembari menggeleng pelan, hari ini gue ninggalin Yuni sama Bang Riza dulu, mereka udah gede dan udah tahu tempat ini juga jadi mereka bisa berangkat sendiri, nggak harus bareng sama gue terus juga, mereka berdua bukan anak kecil lagi.
"Yuni sama Bang Riza absen dulu, hari ini Kakak dateng sama orang lain." Jawab gue melirik Kak Kendra yang berdiri disebelah gue sekarang lengkap dengan senyum ramahnya, Kak Ken diam belum mengeluarkan sepatah katapun, Kak Ken masih berdiri santai padahal tatapannya udah keliatan jelas kalau Kak Ken masih nungguin penjelasan gue tentang Bang Riza, malah Putri juga ikut-ikutan nyebut nama Bang Riza kaya barusan, rasa penasaran Kak Ken pasti lebih meningkat sekarang.
"Iyalah tahu yang pengantin baru, jadi yang sekarang udah punya suami juga bisa diajak kemana-mana, nggak harus ngegandeng Kak Yuni atau Bang Riza terus ya Kak? Yaudah duduk dulu, aku samperin ke meja Kakak sebentar lagi, duduknya di tempat biasakan? Kebetulan lagi kosong juga kok." Gue mengangguk pelan dan lagi-lagi menyunggingkan senyuman gue ke Putri sekarang, lagian Putri juga dateng ke acara nikahan gue kemarin itu jadi nggak mungkin dia nggak tahu yang berdiri disamping gue itu siapa.
"Kakak mau pesan apa?" Tanya gue ke Kak Ken begitu kita berdua udah duduk ditempat yang Putri maksud barusan, bukannya ngasih gue jawaban tapi Kak Ken malah menatap gue lama setelah pertanyaan gue, lebih tepatnya Kak Ken termenung menatap gue sekarang, kenapa lagi?
"Kak! Kakak mau pesan apa?" Tanya gue ulang setelah nepuk tangan Kak Ken pelan.
"Apapun, samain aja sama kamu." Oke, gue mengangguk pelan.
"Heum, kamu juga sering dateng ke tempat ini sama Riza?" Tanya Kak Ken tiba-tiba, gue langsung balik menatap Kak Ken setelah pertanyaannya barusan.
"Nggak cuma sama Bang Riza tapi sama Yuni juga Kak, kalau berdua sama Bang Riza aja nggak pernah, Kakak baru laki-laki pertama yang Aya gandeng langsung dateng kemari, cuma berdua juga." Jelas gue yang membuat Kak Ken sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Kenapa? Kakak cemburu kalau tahu Aya dateng cuma berdua sama Bang Riza?" Tanya gue balik, seketika Kak Ken malah mengkaku di tempat, bener kayanya.