"Diem artinya iya, Kakak beneran cemburu sama Bang Riza? Kenapa harus cemburu sama Bang Riza sih Kak? Nggak ada alasannya Kakak harus cemburu kaya gitu, kenapa? Karena memang nggak ada gunanya sama sekali, Aya aja nggak mikirin itu masa Kakak mikirin." Jawab gue jujur, Kak Ken cemburu itu beneran sesuatu hal yang baru untuk gue, selama ini gue nggak pernah dicemburuin sama laki-laki lain eh sekarang ngeliat sikap Kak Ken kaya gini ya gue sendiri masih ngerasa aneh, apa ada yang harus dicemburui dari gue sama Bang Riza? Toh gue sama Bang Riza nggak ada hubungan apapun, lebih-lebih gue juga nggak punya perasaan apapun untuk Bang Riza jadi Kak Ken harus cemburu atas alasan apa?
"Cemburu itu pasti ada alasannya dan nggak mungkin nggak di pikirin, walaupun kamu nggak mikirin sama sekali tapi Kakak yang cuma ngeliat sikap Riza aja bisa tahu kalau dia suka sama kamu, Kakak laki-laki dan sesama lelaki Kakak paham perasaan Riza gimana, apa menurut kamu sikap Kakak sekarang masih terlihat nggak wajar? Apa ada yang salah dari seorang suami cemburu terhadap laki-laki lain yang mempunya perasaan terhadap istirnya?" Tanya Kak Kendra balik ke gue, gue yang mendengarkan pertanyaan Kak Ken sekarang udah pusing duluan pas mikirnya, gue nepuk pelan lengan Kak Ken dan menyelesaikan urusan pesanan lebih dulu baru setelahnya kita bicarain lagi.
"Tapi kan Aya nggak punya perasaan apapun sama Bang Riza, Aya udah jelasin juga kalau Aya cuma menganggap Bang Riza seperti saudara dan itu nggak lebih, Kakak masih harus cemburu kenapa? Bukannya yang terpenting itu perasaan Aya sendiri? Bukannya itu yang terpenting untuk kita berdua?" Tanya gue balik, harusnya yang terpenting itu adalah perasaan gue, gue sendiri nggak bisa nentuin perasaan orang lain, mau orang lain suka sama siapa aja ya itu adalah haknya dia, gue nggak bisa ngomong apapun, yang bisa gue pastikan sekarang adalah perasaan gue cuma untuk Kak Kendra, gue sendiri ni nggak bisa ngatur perasaan gue, gue suka sama siapa dan perasaan gue untuk siapa aja gue nggak bisa nebak sebelumnya, jadi harusnya nggak ada masalahkan? Bang Riza juga udah ngomong kalau dia bakalan ngurus perasaannya sendiri.
"Perasaan kamu memang yang terpenting untuk Kakak dan itu nggak Kakak pungkiri tapi perasaan Riza juga nggak bisa Kakak abaikan, seperti kata kamu barusan, perasaan kita berdua yang terpenting tapi melihat sikap Riza yang begitu peduli bukannya wajar kalau Kakak merasa cemburu? Kakak nggak bisa membatasi perasaan seseorang atau mengatur perasaan siapapun termasuk Riza, cuma, bukannya lebih baik kalau Riza bisa mengatur perasaannya sendiri?" Gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Kak Kendra sekarang, gue bisa mengerti itu dan gue nggak akan memberikan pendapat buruk tentang apapun, kalau memang itu alasan Kak Ken merasa cemburu, gue rasa gue mulai lebih paham, bukan cuma perasaan gue yang penting tapi melihat laki-laki lain memberikan perhatiannya terhadap gue juga membuat Kak Kendra nggak nyaman.
"Kalau masalah perasaan Bang Riza, Bang Riza juga udah ngomong kalau dia bakalan ngurus perasaannya sendiri sesegera mungkin, Kakak nggak harus khawatir lagi, ini juga yang mau Aya omongin sama Kakak dari awal, masalah perasaan Bang Riza, Aya nggak mau Kakak salah paham." Ucap gue menatap Kak Ken langsung sekarang, gue sama sekali nggak berniat untuk menyembunyikan apapun dari Kak Ken karena dari awal gue memang udah berniat untuk menceritakan semuanya awal-awal cuma karena gue nggak yakin dan ditambah Kak Ken juga ngomong kalau yang terpenting adalah tentang kita berdua lebih dulu makanya gue mengurungkan niat gue sampai Kak Ken malah membahas dan nanya lebih dulu kaya gini, gue salah juga, harusnya dari awal gue cerita.
"Jadi Riza memang udah mengungkapkan perasaannya sama kamu selama ini?" Tanya Kak Ken yang gue angguki, memang itu kenyataanya, gue mengangguki hal yang benar, Bang Riza bahkan bukan cuma mengakui perasaannya ke gue, Bang Riza bahkan meminta gue untuk membatalkan pertunangan dan memilih menerima perasaannya tapi gue nggak mungkin cerita sampai ke masalah kaya gini sama Kak Kendrakan? Bang Riza juga meminta orang tuanya untuk datang melamar ke rumah, ini adalah hal yang lebih perah lagi, apa gue bisa menceritakan masalah ini sama Kak Kendra sekarang? Gue nggak mau nutupin apapun soalnya, Kak Kendra berhak tahu jangan sampai Kak Ken malah tahu dari orang lain dan itu nggak baik untuk hubungan kita berdua nantinya.
"Bang Riza mengakui perasaannya setelah tahu kalau Aya udah tunangan sama Kakak, Bang Riza meminta Aya menerima perasaannya dan bahkan sempat datang melamar waktu itu tapi sekarang Bang Riza udah ngerti keadaan Aya, Aya sendiri juga udah bicarain masalah perasaan Aya untuk siapa secara baik-baik sama Bang Riza jadi sekarang Bang Riza udah paham, cuma yang namanya mengubah perasaan, melupakan, bukannya semua itu butuh proses? Ini yang Aya maksud, kita harus bisa bersabar menghadapi sikap Bang Riza untuk sementara, Aya harap, Kakak bisa ngerti." Ucap gue jujur, walaupun sedikit belibet tapi gue harap Kak Kendra bakalan paham, mau sedikit mengerti dan memberikan Bang Riza waktu untuk menata ulang perasaannya, jangan marah karena hal itu.
"Kamu nggak pernah dekat dengan laki-laki lain tapi punya Riza yang sangat perhatian sama kamu? Kakak nggak tahu kalau kamu punya seseorang yang sangat mencintai kamu sampai seperti itu." Ucap Kak Ken tersenyum tipis, gue masih sesekali tertunduk mendengarkan ucapan Kak Kendra sekarang, gue nggak memungkiri hal itu, selama ini gue memang nggak pernah dekat dengan laki-laki lain tapi tanpa gue sadari, gue malah punya Bang Riza yang memberikan segala perhatiannya sama gue, gue malah membuat Bang Riza semakin berharap sama gue, salah gue adalah karena gue nggak pernah jujur terhadap perjodohan gue sama Kak Ken lebih awal, makanya semuanya jadi susah dan ribet untuk gue sendiri.
"Kakak kenapa senyum kaya gitu? Kakak marahkah? Kalau iya, Aya minta maaf, ini memang salah Aya." Cicit gue penuh rasa bersalah, Kak Kendra malah semakin tersenyum tipis dan tertawa kecil memperhatikan gue, senyumannya itu beneran bikin perasaan gue makin nggak karuan tahu nggak, Kak Ken udah kaya gitu aja gue udah kalang kabut sendiri, senyumannya itu beneran mengusik perasaan gue, rasanya jadi khawatir sendiri.
"Kenapa kamu malah minta maaf? Kakak nggak ngomong kalau ini salah kamu dan Kakak juga nggak marah, Kakak aja masih kaget menatap kamu yang duduk dihadapan Kakak sekarang, Kakak masih seakan nggak percaya kalau kamu adalah Aya yang ada di dalam pikiran Kakak selama ini." Jawab Kak Ken yang membuat gue semakin kebingungan, maksudnya gimana?
"Maksudnya apa Kak?" Gue nanya balik ya karena gue memang bingung.
"Selama ini Kakak mikirnya kalau kamu itu gadis biasa yang nggak akan menarik perhatian siapapun tapi ternyata, ada Riza yang selalu peehatian sama kamu, Kakak salah besar, Kakak yang merasa jauh lebih bertuntung sekarang." Kak Ken malah tersenyum sembari mengusap pipi gue sekarang.