"Jadi selama ini Kakak merasa kurang beruntung karena punya istri kaya Aya? Gitu? Wah." Gue nanya balik dengan tatapan pura-pura gue buat kesal sekarang, gue nggak tahu ucapan Kak Kendra barusan itu pujian atau hinaan tapi yang pasti, gue tahu senyumannya yang sekarang itu tulus, kalau untuk pekara kenal yang sekarang dan tebakan kita berdua sewaktu belum ketemu, nggak cuma Kak Kendra, gue juga merasakan hal yang sama, semua yang gue bayangkan tentang Kak Kendra dulu dan setelah gue bertemu secara langsung seperti sekarang, banyak banget perubahannya, super banyak malah dan gue masih merasa itu hal wajar, bagaimanapun asli dan bayangan seseorang pasti tetap akan ada bedanya walaupun sedikit.
"Bukan itu juga maksud Kakak, mendapatkan kamu sebagai istri tentu aja merupakan sebuah keberuntungan untuk Kakak sekarang, hanya banyak kejutan yang nggak terduga setelah Kakak bertemu secara langsung dengan kamu itu luar biasa banyaknya dan ini bukan sesuatu yang buruk jadi kamu jangan salah paham, Kakak nggak menilai buruk itu semua." Ucap Kak Kendra yang gue angguki cepat, gue juga tahu kalau nggak Ken nggak berniat menilai gue buruk, nggak cuma Kak Ken, gue juga merasa sangat beruntung mendapatkan Kak Kendra sebagai suami, mengenai perbedaan, semua orang pasti memiliki itu.
"Kejutan yang Kakak bawa juga nggak kalah banyak dan bagi Aya itu bukan masalah, kejutan adalah hal baik dan Aya tetap bakalan nerima itu, Kakak nggak usah ngerasa nggak enak, kata Kakak kita berdua butuh waktu untuk pengenalankan? Sekaranglah saat untuk melakukannya." Gue bahkan tertawa kecil menatap Kak Kendra sekarang, di setiap rumah tangga pasti adalah masalah kalau kata Ayah dan itu hal wajar, yang nggak wajar itu adalah kalau setiap kali punya masalah, bukannya diselesaikan secara baik-baik tapi malah ribut, nah itu baru beneran jadi masalah besar, harusnya nggak sampai kaya gitu, ada banyak hal yang masih gue sama Kak Kendra harus pelajari, nggak cuma kenal sebatas penampilan dan sikap yang gue bayangkan selama ini aja, tentu masih banyak hal yang berbeda, perlahan tapi pasti gue akan tahu semua itu, Kak Ken juga sama, dia akan tahu apa dan gimana gue dikesehariannya.
"Jadi, apa Riza adalah alasan kamu selalu menatap Kakak lama seolah ingin menyampaikan sesuatu?" Gue mengangguk pasrah untuk pertanyaan Kak Ken sekarang, ya memang itu alasannya, gue sangat-sangat pasrah setiap kali menatap Kak Ken lama dan ingin bicara masalah Bang Riza tapi kesempatan gue selalau aja dirampas oleh hal lain lagi, menceritakan tentang Bang Riza ke Kak Ken memang bukan hal mendesak tapi pekara kaya gini, dibicarakan lebih cepat, tentu aja bakalan jadi jauh lebih baik, itu yang gue maksud dan sekarang begitu Kak Kendra udah tahu, gue sangat-sangat kembali bernafas lega, rasanya beban yang gue bawa-bawa jadi berkurang banyak, ini membuat gue bisa bersikap lebih nyaman di depan Kak Ken dan itu adalah hal baiknya.
"Heum, sama halnya Kakak yang nggak mau Aya salah paham dengan ucapan Kakak barusan, Aya juga sama, Aya nggak mau Kakak salah paham kalau denger masalah Bang Riza dari mulut orang lain lebih dulu, Aya mau Kakak tahu dari Aya langsung jadi Kakak nggak harus salah paham untuk apapun." Jawab gue jujur, alasan kenapa gue selalu ingin jujur ke Kak Kendra awal-awal masalah Bang Riza ya ini, gue cuma nggak mau Kak Kendra salah paham tapi akhirnya, Kak Ken malah nanya lebih dulu, bukan karena denger omongan orang lain tapi karena Kak Ken sadar dengan perhatian Bang Riza ke gue, itu lebih membuat gue kaget lagi.
"Kakak nggak akan salah paham, walaupun Kakak sadar dengan perasaan Riza ke kamu, tapi tatapan kamu juga udah memberikan semua jawabannya jadi Kakak nggak harus salah paham untuk apapun, cuma sekarang, kamu juga harus udah ngejelasin, maksud ucapan anak-anak di kantin kampus kamu tadi itu apa? Kakak beneran nggak paham, apa ada sikap buruk yang harus kamu terima selama di kampus?" Tanya Kak Kendra yang langsung gue balas dengan gelengan, gue nggak nerima sikap buruk apapun, perlakuan bisa dikatakan baik, hanya omongan mereka yang nggak bisa gue ngerti sama sekali, omongan mereka itu beneran bikin gue nggak paham sebenernya apa yang mereka pikirin sampai bisa percaya dengab gosip murahan kaya gitu, malah orang yang ngomongin gue juga belum ketemu lagi, ini makin ngebuat gue pusing.
"Mereka nggak bersikap atau memperlakukan Aya dengan buruk sih Kak cuma ada satu berita yang nyebar di kampus dan tentu aja beritanya itu nggak enak makanya banyak anak-anak di kampus yang natap Kakak sama Aya sampai sebegitunya banget kemarin, maaf ya, baru pertama kali dateng ke kampus Aya aja, Kakak udah harus ngadepin omongan nggak jelas kaya gitu." Cicit gue memaksakan senyuman gue dihadapan Kak Kendra sekarang, ya gue juga bener, baru pertama kali Kak Ken dateng ke kampus gue tapi Kak Ken malah dihadiahi tatapan menusuk orang-orang sama omongan nggak karuan mereka semua, gue yang udah lama denger aja masih sakit kepala nah apa kabar sama Kak Ken yang baru pertama kali? Pasti lebih wah lagi.
"Memang ada berita apa yang bisa menyangkut sama Kakak di kampus kamu dan padahal bisa di bilang Kakak nggak kenal terlalu banyak orang disana, cuma satu hal yang harus Kakak perbaiki, itu bukan pertama kalinya Kakak ke kampus kamu, tapi Kakak dulu kuliah memang disana, kita sekampus cuma beda angkatan sama beda jurusan juga." Wah! Gue baru tahu kalau Kak Ken lulusan universitas gue juga, kaget untuk sesaat gue barusan cuma yang bikin lebih kaget ya hal lain, gue harus ngomong gimana sama Kak Ken sekarang, beritanya beneran nggak enak soalnya.
"Kakak jangan marah ya, sebenernya beritanya itu nggak enak sama sekali, tiba-tiba aja ada yang nyebar omongan kalau Aya menikah dadakan sama Kakak itu ya karena kita udah terlanjur, selama ini Aya nggak dekat dengan laki-laki lain tapi sekalinya ada berita malah mau nikah, udahlah, omongan nggak jelas bertebaran dimana-mana, yang namanya juga omongan nggak jelas, nyebarnya itu juga pasti cepat, maaf ya Kak." Gue nggak bisa berhenti ngucapin kata maaf didepan Kak Kendra sekarang, gue beneran menyesal untuk berita yang nggak ada awalannya, gue kaget juga diawal tapi bisa dibilang kalau gue udah mulai terbiasa sekarang.
"Kamu tahu siapa yang nyebarin omongan kaya gitu, Kakak bukannya marah sama kamu tapi maaf, Kakak sangat tidak suka dengan tuduhannya, bukan karena mereka menilai Kakak buruk tapi kamu yang dinilai mereka buruk, kamu kuliah disana dan banyak waktu yang masih harus kamu habiskan di kampus, Kakak nggak mau kamu kuliah tapi harus menerima omongan yang tidak mendasar seperti itu." Kak Ken terlihat sangat serius sekarang, gue menghela nafas dalam mendengarkan pertanyaan Kak Ken barusan, masalahnya sampai sekarang adalah, gue sendiri nggak tahu siapa yang nyebarin tuduhan nggak ada otaknya kaya gitu.
"Aya sama Yuni udah berusaha nyari tahu Kak tapi sayangnya belum ada jawaban yang pasti sampai sekarang." Jawab gue semakin tertunduk.