(49) Terlupakan dan terselesaikan adalah dua hal yang berbeda

1043 Kata
Memang bukannya nggak berusaha tapi nyatanya sampai sekarang, gue sama Yuni memang belum tahu siapa yang nyebarin gosip nggak bermutu kaya gitu, gue sama Yuni udah nyari berusaha dengan banyak cara tapi tetap aja, rasanya yang nyebar gosip bukan mahasiswa atau mahasiswi kampus gue, setiap kali gue sama Yuni nanya, jawaban yang kita dapet pasti cuma mereka juga denger dari orang lain, kata denger dari orang lain itu seolah nggak berujung sama sekali, keluarnya malah jauh ke kawasan kampus, dari mulai kantin kampus sampai ke tempat nongkrong di seberang kampus, beritanya udah nyebar kemana-mana. Gue sendiri ngomong kaya gini bukan berarti gue udah hebat banget di kampus sampai hal tentang gue bisa sampai di bicarain seisi kampus kaya gini, gue nggak ngomong kaya gitu, maksudnya gue adalah, namanya juga berita buruk pasti cepat banget nyebarnya, orang walaupun nggak kenal sama gue tapi kalau yang di bahas adalah hal sensitif kaya gitu, orang lain juga bakalan semangat untuk dengerinnya, alhasil adalah, berita gue udah menyebar kemana-mana, kaya gitu nggak sih? Gue sendiri ni pernah denger berita buruk yant nyebar diantara anak-anak kampus padahal gue sama sekali nggak kenal dengan orang yang diomongin sama mereka, banyak anak-anak cuma ikut nimbrung karena pembahasannya dianggap seru aja, padahal yang diomongin udah tertekan lahir dan bathin, sama persisnya dengan apa yang gue rasain sekarang, sampai sebegitunya banget hidup gue saat ini. "Apa Ayah sama Bunda tahu masalah ini juga?" Tanya Kak Kendra lagi. "Ayah belum tahu tapi Bunda udah, awalnya Bunda juga udah sempat mau ngasih tahu Ayah tapi Aya larang, kalau sampai Ayah tahu, Aya yakin masalahnya bisa makin runyam dan pembahasannya malah bakalan sampai kemana-mana, Kakak juga tahu sikap Ayah selama inikan? Ayah memang terlihat santai seperti kebanyakan orang tua diluar sana tapi kalau udah ada masalah atau sesuatu yang menyangkut sama Aya, Ayah nggak akan tinggal diam Kak." Jawab gue yang udah pasrah banget sekarang. Sampai sekarang gue masih nahan diri, gue masih berusaha keras, gue berusaha habis-habisan gimana caranya masalah ini jangan sampai ketelinga Ayah gue dulu, gue nggak mau memperburuk keadaan, gue sama Yuni masih berusaha dan kita berdua belum menyerah, nggak cuma gue sama Yuni, Bang Riza juga ikut berusaha membantu untuk nyari tahu siapa pelakunya cuma ya mungkin belum berhasil juga, orangnya belum ketemu dan itu bisa gue maklumi, gue sendiri aja masih kewalahan jadi gimana bisa gue berharap lebih dari orang lain? "Jadi kamu mutusin untuk mendengarkan semua omongan orang lain yang menilai buruk kamu selama dikampus? Kamu mikir apa sih Ay? Masalah kaya gini nggak bisa dibiarkan berlarur-larut." Kak Kendra terlihat nggak habis pikir menatap gue sekarang, gue juga sama, gue nggak habis pikir dengan jalan pikiran gue sendiri, gue ngomong kalau gue sedang berusaha nyari tapi sampai sekarang belum ada kemajuan apapun yang bisa membersihkan nama baik gue. "Aya bukannya ngebiarin Kak tapi memang belum ketemu pelakunya, lagian lambat laut mereka juga bakalan capek ngomongin Aya dan perlahan tapi pasti, pembahasan kaya gitu juga akan menghilang dengan sendirinya, Aya cuma nggak mau ambil pusing lagi, masalah lain jauh lebih berat." Banyak yang harus gue urus dan pikirkan selama ini, apalagi menjelang hari pernikahan gue, kerjaan gue banyak dan fokus gue udah kemana-mana jadi gimana gue bisa sibuk mengingat omongan buruk orang lain ke gue selama ini? Yang bener aja. "Memang perlahan tapi pasti omongan orang lain akan menghilang tapi kalau nggak kamu luruskan, setelau beritanya menghilang sekalipun, nama baik kamu nggak akan kembali, apa kamu nggak akan keberatan dengan hal itu? Orang hanya akan mengingat kamu dengan keburukan yang kamu lakukan, bukan karena hal lain, kalau sampai Ayah tahu masalah ini, apa kamu pikir Ayah bakalan tenang?" Tanya Kak Kendra ke gue yang membuat gue mengkaku ditempat, kalau boleh jujur, gue sendiri nggak pernah berpikir sejauh ini, gue nggak pernah berpikir kalau masalahnya akan sekacau ini. "Terus Aya harus gimana Kak? Ngelapor ke Ayah dan ngebuat Ayah turun tangan? Kalau itu yang Aya lakuin, anak-anak juga bakalan tetap ngomongin Ayakan? Mereka bakalan tetap nyari-nyari kesalahan Aya juga." Manjalah, anak Ayahlah dan sebagainya, mereka pasti bakalan ngeledekin gue karen berpikir, dikit-dikit gue ngadu sama orang tua, punya masalah sedikit ngelapor sama Ayahnya, anak-anak di kampus juga bakalan tetap ngomongin gue jadi sama aja, kenapa gue harus capek dua kali kaya gitu? "Ay! Sekarang Kakak tanya sama kamu, lebih baik disebut anak manja atau disebut dengan perempuan nggak bener? Mana yang lebih baik menurut kamu?" Gue nggak punya jawaban untuk pertanyaan Kak Kendra sekarang, kenapa? Karena kalau boleh jujur, gue bukannya terganggu dengan pertanyaan Kak Ken barusan tapi denger kata perempuan nggak bener keluar dari mulut Kak Kendra udah membuat gue sedikit kebingungan, rasanya beneran aneh karena mendengarkan hal yang nggak masuk akal kaya gitu keluar dari mulut laki-laki yang gue sukai, terlebih laki-laki itu adalah suami gue sendiri, gue nggak bisa terima kata-katanya tadi. "Kenapa diem? Apa pertanyaan Kakak salah? Anak manja masih bisa kita terima tapi kalau tuduhan yang sudah mereka layangkan sekarang, itu bukan pekara kecil lagi Ay, nggak bisa kita anggap remeh, bukanya lebih baik Ayah tahu tapi masalahnya bisa terselesaikan seperti kata kamu dari pada omongannya semakin berlarut-larut? Terlupakan bukan berarti masalahnya selesai Ay, pandangan mereka tetap akan buruk setiap kali ketemu kamu, apa itu yang kamu mau?" Gue langsung menggeleng cepat sekarang, itu jelas bukan yang gue mau, nggak ada seseorangpun di dunia ini yang mau di nilai buruk oleh orang lain, nggak ada. "Kalau memang kamu nggak mau dinilai buruk oleh orang lain? Kenapa kamu malah nggak berterus terang sama Ayah mengenai masalah ini Ay? Semakin cepat Ayah tahu, semakin cepat masalahnya terselesaikan dan semakin cepat masalahnya terselesaikan bukannya itu jauh lebih baik? Harusnya kamu bicara masalah ini sama Kakak juga." Lanjut Kak Ken masih menasehati gue, gue mendengarkan dengan cukup baik, hanya saja pemikiran gue masih sangat kosong sekarang, kalimat Kak Ken yang tadi terus aja teengiang dikepala gue, kata perempuan nggak bener itu beneran mengganggu, gue nggak bisa bohong tapi gue rasa gue terluka karena ucapannya Kak Ken barusan, buktinya aja, gue sampai berkaca-kaca kaya sekarang, bukannya itu masalah? "Kalau memang kamu mengiakan dan mengerti maksud semua ucapan Kakak tadi, kenapa kamu malah beraca-kaca kaya gini Ay? Kenapa?" Kak Ken bertanya dengan nada yang jauh lebih lembut sekarang. "Itu semua karena Kakak ngomong kalau Aya itu perempuan nggak bener kaya tadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN