(50) Masih Tentang Hal Yang Sama

1027 Kata
Udahlah, setelah ngomong kaya gitu sama Kak Kendra, air mata gue makin merembes kemana-mana, gue nggak tahu itu bener atau enggak tapi rasanya ada yang aneh sama diri gue, Kak Ken tadi cuma ngomong perandaian, misalkan dan cuma contoh bukan bener-bener nyebut gue perempuan nggak baik kaya gitu tapi hasilnya adalah gue udah kelabakan lebih dulu, perasaan gue beneran terganggu, gue beneran sedih cuma karena mendengarkan kata perandaian yang terucap dari mulut Kak Ken barusan, gue bisa apa kalau udah kaya gini? Gue mungkin nggak akan terlalu mikirin kalau orang lain yang ngomongin gue tapi kalau orang itu adalah Kak Kendra, gue rasa gue nggak akan bisa terima. "Loh Ay! Kakak nggak bermaksud untuk ngomong kaya gitu ke kamu, itu cuma perandaian Ay, Kakak ngasih tahu ke kamu contoh hal yang bisa kita terima dan mana yang enggak bukannya malah ngomong kalau kamu kaya gitu, Kakak minta maaf kalau kamu malah jadi salah paham." Jelas Kak Ken panik memperhatikan gue yang mulai bercucuran air mata, Kak Ken bahkan mulai mengusap air mata gue dengan tangannya dan gue menggeleng pelan untuk semua ucapan Kak Kendra barusan, gue nggak nyalahin Kak Ken dan gue tahu kalau Kak Ken juga nggak bermaksud kaya gitu, lebih-lebih gue nggak salah paham sama maksud ucapan Kak Ken barusan, gue aja yang sensitif nggak karuan makanya jadi nangis kaya gini, semuanya bukan salah Kak Ken. "Aya nggak salah paham Kak, Aya juga tahu kalau Kakak nggak bermaksud kaya gitu, cuma nggak enak aja denger omongan kaya tadi, bukan salah Kakak cuma Aya yang terlalu baperan, kalau ada yang harus disalahin, ya Aya orangnya, Aya yang bikin masalah untuk diri Aya sendiri." Gue yang terlalu terbawa perasaan jadi kenapa malah harus Kak Kendra yang minta maaf, Kak Ken nggak salah, gue nggak mau Kak Ken minta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahannya, Kak Kendra nggak perlu ngelakuin itu untuk gue. "Kakak nggak akan ngomong kaya gitu lagi, kamu jangan nangis kaya gini, Kakak minta maaf kalau udah ngebuat kamu sedih, kalau gitu sekarang kita bahas hal lain aja, gimana?" Tanya Kak Ken yang langsung gue angguki, lebih baik gue sama Kak Ken ngebahas hal lain sekarang jadi pemikiran gue bisa teralihkan dan perasaan gue bisa jauh lebih membaik, gue nggak akan inget-inget lagi omongan yang tadi, nggak baik kalau gue terlalu baperan juga nanti yang ada Kak Ken malah nggak enak kalau mau ngomong sesuatu sama gue, takut salah lagi dan ngebuat gue nangis lagi. "Nggak papa Kak, lagian yang Kakak omongin tadi juga bener, ada beberapa tuduhan yang nggak bisa kita biarin begitu aja, salah satunya kaya yang Aya dapet sekarang, harusnya Aya bisa lebih tegas bukan malah membiarkan beritanya hilang sendiri padahal nama baik Aya belum baik juga, Aya paham sama maksud ucapan Kakak tadi." Walaupun gue berlinang air mata mendengarkan contoh yang Kak Ken berikan tapi gue tetap paham sama maksud ucapannya barusan, Kak Kendra nggak mau gue mendiamkan keadaan yang nggak menguntungkan gue sama sekali, berita dan omongan orang-orang mungkin akan menghilang dengan sendirinya tapi perasaan gue nggak akan membaik gitu aja juga, pandangan orang-orang terhadap gue nggak akan berubah. "Kakak cuma nggak mau kamu menerima tuduhan yang nggak mendasar Ay, ini bukan cuma sekedar masalah nama baik tapi tuduhan yang mereka layangkan memang udah keterlaluan, kalau Kakak yang baru tahu aja bisa semarah ini, gimana sama Ayah? Gimana kalau sampai Ayah tahu kamu mendiamkan masalah kaya gini cukup lama? Bukannya Ayah juga akan sangat kecewa?" Ayah gue tentu akan sangat kecewa, selama ini Ayah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk gue tapi gue sendiri yang malah membiarkan masalah kaya gini berlarut-larut, ini kesalahan gue sendiri juga. "Heum, Aya tahu, Ayah pasti akan lebih kecewa kalau sampai tahu hal ini dari orang lain? Ayah nggak cuma bakalan kecewa sama Aya tapi Ayah juga pasti bakalan lebih kecewa sama dirinya sendiri karena nggak tahu apapun tentang putrinya." Ayah mungkin kecewa sama gue tapi Ayah akan jauh lebih kecewa dengan dirinya, selama ini Ayah selalu berusaha memberikan yang terbaik, menjaga gue dan nama baik gue juga, sikap gue sekarang sama aja seperti gue membiarkan orang lain menilai buruk gue dan yang pastinya orang tua gue bakalan ikut dibawa-bawa, nama baik mereka akan ikut terpangaruh, begitupun nama baik Kak Ken sekarang, dia suami gue, baru jalan sama gue sepanjang koridor aja tatapan orang-orang udah mengintimidasi kaya gitu, apa itu yang gue anggap baik sekarang? "Ayah ataupun Kakak sekarang, kita berdua cuma khawatir sama kamu, kita berdua mau kamu mendapatkan hal terbaik, bukan malah mendapatkan perlakuan nggak masuk akal kaya gini, kita sayang sama kamu, sama halnya Ayah, Kakak dan Bunda yang sayang sama kamu, bukannya kamu harus lebih dulu sayang dengan diri kamu sendiri?" Gue mengangguk pelan untuk pertanyaan Kak Ken barusan, gue harusnya memang bisa lebih sayang sama diri gue sendiri sekarang, gue harusnya lebih paham situasi gue sekarang bukan malah diam dan nggak ngomong apapun ke Ayah gue sendiri. "Aya yang salah, Aya yang harus minta maaf sama Kakak, gara-gara Aya nggak cerita lebih awal masalahnya jadi berlarut kaya ginikan? Kalau Aya ngomong lebih awal mungkin keadaannya bakalan jauh lebih baik." Dan ini adalah penyesalan gue, awalnya gue masih berharap kalau gue bisa menyelesaikan masalah ini sendiri tapi karena gue yang nggak mampu keadaannya malah seakan makin berlarut, ujung-ujungnya orang yang penting bagi gue malah kena imbasnya, ini juga yang semakin menjadi pertimbangan gue. "Ini juga bukan salah kamu, kamu juga pasti punya alasan sendiri kenapa kamu ngelakuin hal itukan? Kamu punya pertimbangan sendiri." Heum, gue mungkin punya pertimbangan sendiri tapi gue nggak mikirin sama sekali pertimbangan orang-orang terdekat gue, mereka yang beneran peduli sama gue, harusnya gue ngomong terus terang sama Ayah lebih awal, mungkin sekarang gue bisa jauh lebih tenang, nggak panikan kalau ada yang ngomongin gue lagi. "Ay! Jangan kamu pikirin lagi, semuanya udah lewat juga, kita bisa perbaiki semuanya dari sekarang, Kakak akan nyari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, kamu jangan terlalu khawatir." Gue maunya juga nggak akan terlalu khawatir tapi nyatanya gue nggak bisa mengubah pemikiran dan perasaan gue gitu aja. "Aya maunya juga gitu tapi Kakak lihat sekarang, bukannya membaik tapi malah semakin runyam." Gimana gue nggak khawatir dan kepikiran kalau masalahnya udah kaya gini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN