(51) Rasa Nyaman

1045 Kata
"Masalah nggak harus membuat kita hidup di dalam penyesalan Ay, masalah terkadang ada untuk memberikan kita pelajaran, memberikan kita pengalaman jadi kedepannya kita bisa bersikap jauh lebih baik lagi, jauh lebih dewasa lagi, bukannya malah membuat kita terpuruk dan hilang semangat untuk bangkit menjadi pribadi yang lebih baik, masa lalu dijadikan pelajaran sedangkan masa depan kita yang harus berusaha menjadi lebih baik lagi, bukannya itu yang terpenting?" Tanya Kak Ken yang terdengar jelas sedang menghibur gue sekarang, Kak Kendra membuat gue merasa lebih nyaman, apalagi semua yang Kak Kendra omongin memang nggak salah, akan ada banyak masalah yang bakalan gue temui dalam hidup dan setiap masalah bakalan memberikan pembelajarannya masing-masing, gue sendiri nggak seharusnya berlarut dengan penyesalan, gue harusnya bangkit dan berusaha untuk memperbaiki keadaan jadi kesalahan yang sama nggak akan terulang untuk kedua kalinya, bukannya itu yang terbaik? "Heum, Kakak bener, Aya nggak seharusnya berlarut, telat juga lebih baik dari pada nggak sama sekali, Aya bakalan ngomong ke Ayah masalah ini jadi Ayah juga bisa ikut membantu nyari solusi, nggak harus kalang kabut sendiri kaya gini." Ini yang gue pikirkan sekarang, setidaknya ini adalah rencana gue saat ini, gue bakalan cerita sama Ayah, nanti mungkin bakalan kecewa dan marah sama gue karena gue baru cerita sekarang tapi sekali lagi telat lebih baik dari pada nggak sama sekali, dari pada gue berharap dengan hal yang nggak karuan lebih baik gue ngomong sama Ayah, walaupun Ayah marah untuk sesaat tapi gue yakin, Ayah nggak akan tinggal diam lagi setelahnya, ini yang gue yakini. "Nggak cuma Ayah sama Bunda, kamu juga punya Kakak sekarang, masalah kamu, masalah Kakak juga, Kakak bakalan bantu nyari cara, kebetulan Kakak kenal sama beberapa orang di kampus kamu, nanti Kakak coba tanyain." Gue mengangguk pelan, rasanya baru kemarin gue menikah sama Kak Kendra tapi pembahasan kita berdua udah mengenai masalah hidup aja, banyak banget perasaan yang nggak sesuai harapan. "Yaudah sekarang kita makan dulu, setelahnya kita pulang ke rumah." Gue menggeleng pelan untuk ucapan Kak Kendra sekarang, pasalnya ada satu hal lagi yang mau gue bahas sama Kak Ken, ini bukan masalah sebenernya tapi gue mau berbagi pendapat sama Kak Kendra, bagaimanapun, gue tetap mau berhubungan baik sama Kak Ken dan kita berdua jelas masih dalam proses pengenalan, jadi rasanya ini bisa kita bahas sekarang, gue merasa sangat beruntung karena Kak Ken sangat nyaman ketika gue ajak bicara, walaupun masih di liar ekspetasi tapi setidaknya nggak ada sikap dalam diri Kak Kendra yang mengecewakan gue untuk saat ini. "Kenapa? Ada yang mau kamu bahas lagi? Ngomong aja, Kakak dengerin." Kak Ken tersenyum kecil dan nepuk lengan gue pelan, gue ikut menyunggingkan senyuman gue ya karena memang ini bukan suatu masalah, ini adalah hal biasa yang dibahas setelah seseorang menikah. "Ini bukan masalah sih Kak tapi Aya lebih ke mau nanya pendapat Kakak, mengenai tempat tinggal, apa Kakak nggak keberatan kalau kita tinggal bareng keluarga Aya sekarang? Mengenai kamar, kamar Aya ya Kakak udah lihat sendiri gimana keadaannya, bukannya nggak mau renovasi atau menyediakan tempat yang lebih luas untuk keperluan Kakak tapi Aya mau ngomong sama Kakak dulu baru bisa kita renovasi, bisa ikut kemauan Kakak juga, ini yang mau Aya tanyain." Setelah menikah bukannya hal kaya gini cukup penting untuk kita bahas, malah biasanya orang bakalan ngebahas masalah tempat tinggal dan semacamnya jauh hari sebelum pernikahan tapi melihat keadaan gue sama Kak Ken sebelum ini, harusnya dibicarakan setelah menikah juga nggak masalah. "Itu yang mau kamu bicarain dari tadi? Ya ampun Ay, Kakak pikir apa karena kamu kedengarannya udah serius banget." Kak Ken bahkan tertawa kecil sekarang setelah mendengarkan omongan gue barusan, gue yang ditertawakan kaya gitu udah langsung nepuk lengan Kak Ken nggak karuan, Kak Ken yang bener aja, gue memang serius ini. "Kenapa Kakak malah ketawa sekarabg?Lagian ini memang serius Kak, pekara kaya gini nggak mungkin Aya ajak becanda Kakak jugakan? Mengenai tempat tinggal, kamar dan segala macamnya, bukannya ini harus kita bahas berdua? Pendapat Kakak juga penting soalnya." Ulang gue sekali lagi, Kak Ken masih berusaha nahan tawanya sekarang dan gue mau nggak mau juga ikut menyunggingkan senyuman, gue nggak mau mengikuti mau gue sendiri aja makanya gue nanya pendapat Kak Kendra kaya gini, kalau gue mau ngikutin mau sendiri, udah jelas jawabannya, gue mau tetap tinggal bareng orang tua gue dan gue juga mau kamar gue kaya dulu, kamar anak gadis gimana sih? Ini kalau ngikutin apa yang gue mau. "Becanda Ay, langsung marah kayanya, lagian Kakak cuma ngerasa lucu aja, kamu tahu lucunya dimana? Ini semua pasangan yang udah menikah ngelakuin hal yang sama atau memang kita doang yang kaya gini modelannya?" Dan begitu Kak Ken tertawa semakin jelas, gue juga semakin tersenyum jelas sekarang, pertanyaan Kak Ken barusan udah beneran membuat gue makin ngakak, ternyata ini yang dipikirkan Kak Ken makanya Kak Ken langsung ketawa kaya tadi? Dasarnya memang. "Mungkin memang cuma kita berdua yang kaya gini." Gue tersenyum lepas dan narik mafas cukup dalam sekarang, ya memang kedengeran lucu sih kalau di pikir-pikir ulang tapi harusnya juga bukan masalah, mau orang lain kaya gini juga atau cuma kita berdua yang kaya gini itu hal biasa, kita cuma harus membahas hal yang sama dan mengutarakan pendapat kita berdua. "Jadi gimana? Sekarang Aya balik serius ni, Kakak jawabnya juga serius, biar jelas dan Aya bisa ngomong sama Bunda, Bunda udah ngomel duluan soalnya masalah kamar." Bunda gue yang udah ngomel karena gue nggak mau ngerombak kamar sebelum nikah kemarin, kalau setelah menikah juga masih belum gue kasih jawaban, tinggal tunggu kapan Bunda gue ngomel sekali lagi. "Kalau untuk mengenai kamar, Kakak ikut gimana kemauan kamu aja dan mengenai tempat tinggal, untuk sekarang Kakak nggak ada masalah apapun, tinggal di rumah orang tua kamu nggak masalah, kita pindah ke rumah kita sendiri juga nggak masalah, itu semua tergantung nyamannya kamu gimana, bukannya kamu nyaman itu lebih penting? Lagian menurut Kakak kita nggak harus terburu-buru, bisa kita pikirin pelan-pelan, apa kamu udah punya jawaban untuk pertanyaan Bunda sekarang?" Gue langsung mengangguk pelan untuk pertanyaan Kak Ken barusan, kalau memang itu jawaban Kak Ken ya begitu memang lebih baik, gue udah aman kalau memang begini jawabannya. "Oke sip kalau memang ini jawabannya, aman." Gue udah mengacungkan dua jempol untuk Kak Kendra sekarang, setidaknya untuk masalah kamar, gue udah punya jawabannya, Bunda nggak akan ngomel lagi, bisa di sesuaikan sesegera mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN