(24) The Power Of Make Up

1040 Kata
Hari ini adalah hari kedatangan orang tuanya Kak Ken ke rumah dan selama itu juga, gue nggak bisa tidur selamanya, biarpun mata udah gue pejam, selimut udah gue tarik dan lampu udah gue matiin tapi tetap aja pemikiran gue masih melayang kemana-mana, otak gue masih terus bekerja untuk memikirkan alasan kenapa orang tuanya Kak Ken itu dateng, udah gue usahain untuk nggak mikir tapi tetap aja nggak bisa, gue nggak bisa nahan diri untuk nggak mikirin itu semua, gue nggak bisa nahan diri untuk nggak bisa menerka dan menebak alasan kedatangan mereka semua besok itu apa? Gue memang sepenasaran itu. "Ay! Kamu nggak tidur semalam? Kamu ngapain aja Ay? Lihat itu muka kamu, pucet sama mata panda kamu makin keliatan jelas, orang di luar sana kalau tahu calon mertua mau dateng, persiapannya luar biasa, paling nggak penampilanlah harus di jaga, lah ini kamu bukannya di jaga malah keliatan kacau kaya gini." Ucap Bunda yang semakin membuat gue menghembuskan nafas pelan, gue semakin menghembuskan nafas berat dan memandangi pantulan wajah gue di cermin sekarang, bener kata Bunda, muka gue kalau hari biasa bersinar nah kenapa hari ini malah kaya mayat hidup? Kenapa kesannya kaya orang nggak mandi selama satu minggu penuh? Haduh, apes banget perasaan. "Namanya juga nggak bisa tidur Nda, nggak bisa tidur walaupun udah Aya coba, tetap aja nggak bisa Aya ajak kompromi lagi, memang dasarnya kepikiran yaudah sih mau diapain aja juga tetap sama, susah tidur dan inilah hasilnya, muka kusam sama mata panda semakin keliatan jelas, muka suram semakin di depan." Gue bukannya sengaja untuk keliatan kusam kaya gini, segala macam usaha udah gue lakuin untul bisa tidur, yang nggak gue lakuin cuma minum obat aja karena gue tahu itu bahaya, Bunda sama Ayah kalau tahu juga bakalan marah besar, gue antisipasi masalah ini doang sih lebih tepatnya, gue nggak ada maksud apapun lagi. "Nggak bisa tidur? Masih itu juga alasan kamu? Kamu mikirin apa sampai nggak bisa tidur Dek? Mikirin alasan kedatangan orang tuanya Kendra? Masih itu juga? Ya Allah, kan Bunda udah nyaranin untuk kamu tanya langsung sama Kendra sendiri, tanya kan nggak harus ketemu, kamu masih bisa nanya lewat chat dan sebagainya, masalahnya dimana sih Ay? Sekarang kalau udah kaya gini siapa yang rugi? Kamu sendiri jugakan? Kamu yang bakalan lebih susahkan?" Bunda gue ngomel disaat kaya gini ya udah biasa tapi nggak bisa gue larang juga, memang salah gue sendiri sih, terlalu banyak mikir sampai akhirnya nyusahin diri sendiri, gue yang cari pekara jadi kalau Bunda ngomel itu wajar, Bunda nggak marah aja gue harusnya udah bersyukur sekarang. "Nggak usah dibahas lagi Nda, udah terlanjur juga, lagian malu tahu Nda masa nanya kaya gitu sama Kak Ken langsung, keliatan jelas banget kalau Aya sebegitu penasarannya, muka Aya mau Aya bawa kemana? Karena udah terlanjur, Aya sekarang cuma punya satu jalan untuk mengatasi masalah yang ada, apa itu? Dandan, the power of make up, Aya harus ngelakuin itu hari ini." Kalau muka asli gue udah kaya gini, nggak bisa gue nemuin keluarga Kak Ken dengan wajah polos gue kan? Kalau selama ini gue cuma suka ngeliat tutorial cara make up, gue belajar lama dan belum tahu bisa berhasil atau enggak? Sekarang lah saat yang tepat untuk membuktikannya. "Itu bukan malu tapi gengsi yang kamu gedein Ay, yaudah Bunda nggak mau berdebat sama kamu, kamu kamu dandan atau apa itu namanya tadi juga terserah, pokoknya Bunda maunya kamu turun nanti nggak dengan penampilan kacau kamu kaya gini, di depan calon mertua itu harus ada usaha lebihnya sedikit, bukan maksud Bunda mau nyuruh kamu untuk nggak jadi diri sendiri tapi gimanapun, kesan pertama itu penting." Bunda paham juga masalah kesan pertama, ya nggak aneh juga sih, kan kalau soal beginian Bunda gue lebih dulu mengalami, Bunda lebih dulu yang merasakan, Bunda gue lebih dulu yang melewati semua tahapannya jadi memang bisa gue jadikan panutan. "Iya tahu, pokoknya Bunda jangan khawatir, tenang lagi, lagian kesan pertama gimana coba? Inikan bukan pertama kalinya keluarga Kak Ken ketemu Aya, mereka udah pernah ngeliat Aya langsungkan? Jadi samar-samar mereka juga pasti masih inget tampangnya aja gimana, Bunda jangan terlalu khawatir." Kayanya kalau untuk gue nggak bisa di anggap kesan pertama banget deh, soalnya gue sama keluarganya Kak Ken memang udah pernah ketemukan? Jadi ini bukan pertama kalinya, ini adalah kesekian kalianya, Bunda jangan panikan sampai kaya gitu, gue usahain semuanya bakalan aman nanti, tenang aja. "Yang kamu maksud barusan ketemunya kapan Ay? Sepuluh tahun yang lalu? Pas kamu masih di tingkat sekolah dasar? Memang kamu kira penampilan kamu sepuluh tahun yang lalu dan sekarang itu masih sama? Aya Aya, kadang Bunda heran sama kamu, dibawa santai ya santai tapi jangan sampai lupa diri juga, terlalu santai juga nggak baik apa kamu tahu? Haduh." Bunda gue udah menggelengkan kepalanya memperhatikan gue sekarang, Bunda bahkan nggak mau mendengarkan penjelasan gue lagi dan langsung keluar dari kamar gue gitu aja, menutup pintu kamar gue dengan sedikit hentakan, tadi ngomel dan sekarang malah kaya keliatan kesal, lah ini sebenernya yang mau nikah siapa? Gue atau Bunda? Kenapa jadi Bunda gue yang lebih heboh? Eh tapi Bunda gue kan udah nikah sama Ayah gue, masa iya nikah lagi? Nggak bisa dong. "Jangan ngelamun lagi, langsung beberes dan setelahnya kamu turun dulu, sebelum ketemu sama calon mertua kamu, biar Bunda yang lihat lebih dulu hasil dandanan kamu kaya gimana, Bunda yang ngasih penilaian lebih dulu." Ucap Bunda gue yang tiba-tiba membuka balik pintu kamar gue, kaget? Ya pasti, gimana nggak kaget kalau Bunda selalu muncul tiba-tiba setelah pergi dadakan kaya gitu? Bunda Bunda. Gue tersenyum pelan dengan ucapan Bunda gue barusan dan langsung mulai beberes seperti yang Bunda mau, dandan sebisa mungkin dengan belajar dari tutorial, menurut gue hasilnya udah bagus, lumayan, nggak hancur-hancur amat dan yang terpenting mata panda gue udah nggak keliatan dan sebelum gue ketemu sama calon mertua ya gue tetap harus ketemu sama Bunda gue lebih dulu, minta pendapat Bunda jadi Bunda bisa memberikan penilaian, hasil belajar gue lumayan atau gimana? Gue nggak pernah dandan sendiri soalnya, kalaupun memang perlu dandan ya Yuni yang dandanin. "Bunda! Gimana?" Tanya gue ke Bunda begitu gue turun ke bawah. "Masyaallah! Ini hasil belajar kamu? Lebih baik kamu masuk ke kamar kamu lagi dan telfon Yuni untuk dateng ke rumah." Ucap Bunda memperlihatkan raut wajah takjub.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN