(23) Vs Dadakan

1315 Kata
"Jadi gimana?" Tanya Yuni yang masih nungguin gue di kantin lengkap dengan banyak makanan yang nemenin dia di meja sekarang, ni anak beneran pesen banyak makan kayanya, nggak tahu aja gue apa yang di makan sama Yuni, semuanya ada, mulai dari nasi goreng, mie goreng sampai gorengannya juga lengkap, luar biasa banget nafsu makanya. "Lo laper atau memang sengaja pesen banyak karena gue ngomong kalau gue yang bakalan bayarin Yun? Memang muat itu makanan di perut lo semua? Itu perung apa gentong air? Luas banget tempatnya." Tanya gue masih dengan tatapan kaget yang luar biasa, ya lagian perempuan mana yang makannya sebanyak ini? Laki-laki aja belum tentu makanya sebanyak yang Yuni pesan sekarang nah Yuni malah mengada-ngada dengan mesen porsi makan yang cukup untuk warga selorong begini, kalau nggak habis kan sayang? Mubazir makanan itu namanya, orang di luar sana bahkan ada yang susah untuk beli makanan nah Yuni malah kaya orang makan tapi versi pembalasan, pembalas kalau habis buka puasa. "Lo yang gue tanya apaan tapi yang lo respon juga apaan, gue nanya gimana tadi lo nyariin Bang Riza? Orangnya ada nggak? Ketemu nggak? Nah itu tapi bukannya ngasih jawaban untuk pertanyaan gue, lo malah nyerempet ke masalah lain, lagian ini tu gue pesen kan nggak untuk gue makan sendiri, lo juga ada untuk ngebantuin gue ngabisin ini makanankan? Jadi apa masalahnya? Yang bayarin lo juga, terus satu lagi, gue pesen banyak dan itu udah pasti gue abisin, lo nggak usah khawatir berlebihan, aman pokoknya kalau sama gue, yang nggak aman itu respon lo, kaget nggak tentu arah, nyesel lo ngomong kalau mau ngebayarin makanan gue? Kalau iya ngomong, tar biar tagihannya kita bagi dua." Lanjut Yuni mengedipkan matanya ke gue kaya sekarang, lah ni anak juga satu hal, kapan gue ngomong kalau gue nyesel ngomong kaya gitu? Dasar curut. "Gue kirain kalau gue bilang nyesel, tagihannya bakalan lo bayar sendiri tapi ini malah lo bagi dua, dasar maimunah, terus itu untuk pertanyaan lo barusan, kalau memang gue nggak ketemu sama Bang Riza, apa lo pikir gue bakalan balik selama ini? Apa lo pikir lo punya waktu banyak untuk mesen makanan sebanyak ini? Enggakkan? Nah itu artinya apa? Artinya gue ketemu sama orangnya, langsung juga." Jawab gue untuk pertanyaan Yuni yang pertama, gue itu tipe orang yang nggak mau buang-buang waktu, kalau memang orangnya nggak ada di tempat biasa, gue udah balik duluan dan nyeret Yuni untuk nyari Bang Riza di tempat lain sebelum ni anak mesen makanan sebanyak ini, masa hal kaya gini harus gue jelasin juga? Kenapa sifat Yuni yang suka mengarang alur cerita dengan pemikirannya sendiri? Nggak ada kayanya, efek kebanyakan makan ini mah, daya ingatnya semakin mengkhawatirkan. "Kalau memang lo ketemu, terus lo ngomongin apa aja sama Bang Riza? Keadaan Bang Riza gimana? Apa keadaannya udah jauh lebih baik? Respon Bang Riza gimana sama lo? Gimana? Buruan cerita Ay! Mumpung gue masih fokus dengerin ni tar kalau gue udah mulai makan, gue bisa nggak fokus dan kalau gue udah nggak fokus tar gue bisa gagal paham, nah itu lebih bahayakan? Memang lo mau gue gagal paham sekarang?" Tanya Yuni ke gue nggak sabaran, yang nggak sabaran begini memang Yuni orangnya, dia yang nanya nggak pakai rem itu udah biasa, udah lumrah dan gue juga udah nggak heran lagi, udah biasa sama gue, wajar. "Jadi lo penasaran? Gue kirain enggak soalnya lo pesen makan banyak banget perasaan, yaudah kalau memang mau sini dengerin gue cerita, pasang kuping dan buka mata kalau perlu buka hati sekalian jadi lo bisa lebih menghayati cerita gue sekarang, lo bisa lebih mendalami jadi nggak bakalan keteteran sana sini pemahaman lo nanti." Gue nepuk pelan lengan Yuni supaya berbalik arah dan duduk menghadap gue, biar lebih gampang gue cerita dan lebih gampang juga Yuni dengernya, jangan sampai informasi yang akan gue sampaikan salah di terima oleh Yuni nah itu yang bakalan jauh lebih susah lagi, Yuni harus benar-benar paham sama maksud ucapan gue sekarang, jangan malah pura-pura paham, nah gue jitak kepalanya karena rugi aja, ngabisin waktu gue untuk cerita tapi akhirnya nggak ada guna juga, buang-buang tenaga, mending gue pulang terus tidur. "Yaudah apa buruan lo cerita, ini udah gue pasang telinga sama pasang mata, pasang seluruh badan malah jadi nggak bakalan salah paham lagi, aman pokoknya, jadi gimana? Bang Riza udah jauh lebih baikkan?" Gue tersenyum kecil dan mengangguk pelan untuk pertanyaan Yuni barusan, Alhamdulillahnya keadaan Bang Riza memang terlihat jauh lebih baik, walaupun sedikit terasa canggung pas ngeliat gue datang nemuin dia tapi itu adalah hal bagus, karena gue mencoba bersikap sebiasa mungkin jadi Bang Riza juga terbawa kayanya, suasana diantara kita berdua jadi jauh lebih baik, Bang Riza yang sekarang terlihat jauh lebih tenang dan itu adalah hal bagus, gue melihat perubahan yang cukup besar dari sikap Bang Riza tadi dan tentu aja itu juga membuat gue merasa jauh lebih lega. "Bang Riza keliatan kaget begitu tahu kalau gue nyamperin dia, suasana juga sedikit canggung di awal tapi keadaan Bang Riza memang keliatan jauh lebih baik Yun, gue nggak tahu Bang Riza bersikap kaya gitu cuma di depan gue doang atau enggak tapi setidaknya, keadaan Bang Riza memang nggak begitu mengkhawatirkan, Bang Riza malah minta maaf lagi dan ngomong kalau dia nggak mau cuma karena gue nolak perasaannya, hubungan kita berdua jadi berakhir nggak baik, nggak bisa jadi pasangan harusnya bisa tetap jadi keluarga, kurang lebih begitu responnya Bang Riza, menurut lo gimana?" Jelas gue lebih panjang dan lebar, gue juga nanya pendapat Yuni, menurut Yuni itu gimana? Apa gue terlalu berpikiran positif atau memang keadaannya sekarang udah jauh lebih baik? Gue takut kalau ini cuma perasaan gue doang. "Ya gimana apanya Ay? Kalau denger cerita lo barusan ya harusnya keadaan Bang Riza memang jauh lebih baik, mau Bang Riza terlihat baik didepan lo doang atau gimana ya itu urusan lain, setidaknya lo udah berusaha memberikan penjelasan terbaik dan lo juga nggak ngelakuin kesalahan apapun yang bisa memicu masalah baru, gue rasa sejauh ini kemajuannya cukup baik jadi lo juga bisa jauh lebih tenang." Jawaban Yuni yang jujir aja juga membuat gue merasa jauh lebih lega, seperti ucapan gue tadi, respon Bang Riz di depan atau di belakang gue nggak sama itu lain ceritanya tapi setidaknya untuk sekarang, gue udah berusaha melakukan yang terbaik, gue cuma perlu terus berpikiran positif aja, jangan mikirin hal lain lagi. "Iya sih, gue mikirnya juga gitu, dari pada gue mikirin hal aneh yang belum tentu kejadian, gue kayanya harus mulai banyak-banyakin mikir positif deh Yun, kebanyakan mikir negatif juga nggak baik, gue jadi panikah sendiri, kan lebih baik begini, ada masalah atau enggak, semuanya balik lagi ke pandangan gue pribadi, mau punya masalah banyak atau sedikit, asalkan gue mikir tenang, masalahnya juga bakalan ada jalan keluar kok." Yuni malah melongo lama memperhatikan gue, pasalnya dia merhatiin gue berdasarkan apa? Alasan apa yang sekarang di pergunakan Yuni sampai harus menatap gue sampai kaya gitu? Dasar. "Lo kenapa natap gue begitu?" Tanya gue lagi, tatapannya tolong dikondisikan, harap biasa aja. "Gue salut sama lo, otaknya kebanyakan micin atau gimana sampai punya pemikiran yang diluar jangkauan sekarang? Tapi ngak usah lo jawab juga sih? Kenapa? Karena gue tahu, jawaban lo juga nggak akan nyambung, lebih baik sekarang kita makan terus gue turunin lo di pinggir jalan." Hah? Ni anak waraskan ya pas ngomong barusan? Sehatkan ya isi otaknya itu? Sembarangan banget kalau ngomong sekarang, sukanya semena-mena dan nggak ada tujuan hidup yang jelas, katanya tadi mau nganterin tapi sekarang malah berencana nurunin di pinggir jalan, ngajak becanda gue kayanya ni anak. "Lo ngajak becanda gue sekarang? Tadi kata lo mau nganterin gue pulang sampai rumah terus sekarang cuma sampai di pinggir jalan aja? Oke! Nggak papa, kita juga ikut aturan lo tadi, bayar makanannya patungan aja, adil, gimana?" Kalau mau ngajak becanda gue sekarang ya ayo, siapa takut? Gue ladenin. "Ancaman lo dari tadi perasaan itu mulu, nggak ada yang lain apa?" Gue langsung menggeleng cepat, ya memang nggak ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN