"Jadi menurut Bunda alasan Aya nolak Bang Riza apa? Karena Aya udah dijodohin? Karena Aya tunangan orang? Bunda pernah nggak ngeliat muka Aya murung setiap kali ngomongin Kak Kendra? Apa Aya keberatan atau bahkan protes dikit aja sama Ayah atau Bunda waktu ngasih tahu Aya kalau pertunangan Aya udah jadi? Enggakkan? Aya bahagia-bahagia ajakan? Itu artinya apa Nda?" Harusnya dari sikap kecil gue aja Bunda udah bisa menilai, gue beneran suka sama Kak Kendra makanya pertunangan gue sama Kak Ken nggak ada penolakan dari siapapun, Kak Ken nggak nolak nah gue apalagi? Gue seneng-seneng aja toh umur gue nggak terlalu muda untuk di paksa nikah.
"Ya Bunda mana tahu kamu cinta atau enggak tapi kalaupun iya kamu jatuh cinta, kamu jatuh cinta gimana ceritanya? Prosesnya gimana padahal kalian berdua aja bisa dibilang nggak pernah ketemu? Kamu jatuh cinta lewat jalur apa? Jalur antar kilat atau jalur telepati?" Lah? Pertanyaan Bunda gue sekarang kenapa nggak kalah ngaurnya dari pertanyaan yang tadi, sekarang malah di campur dengan unsur lawakan Bunda yang kalau kata gue kaya anak muda banget, Bunda memang paham jalur telepati itu gimana? Bunda udah pernah jatuh cinta jalur antar kilat kaya gitu? Bunda jangan becanda sama gue sekarang, gue lagi serius.
"Nda! Memang jatuh cinta bisa lewat jalur antar kilat atau bahkan jalur telepati seperti yang Bunda maksud barusan, Bunda ada-ada aja, pokoknya Aya nggak bisa mastiin ini cinta atau enggak tapi yang benernya, Aya cuma yakin sama Kak Ken, dan waktu Bang Riz ngomongin perasaannya, Aya nggak yakin sama sekali, apa Bunda pikir pilihan Aya salah?" Gue memang sedang bertanya serius dengan Bunda gue sekarang, ada beberapa hal yang gue sendiri mungkin nggak bisa memastikan contohnya ya perasaan gue ke Kak Ken, yang bisa gue pastikan hanya rasa yakin gue kalau bareng Kak Ken akan jauh lebih baik, bukan bareng Bang Riza.
"Dalam sebuah hubungan, keyakinan itu penting, kalau kamu udah yakin, kamu pasti juga akan percaya dan kepercayaan adalah pondasi kuat untuk membangun rumah tangga, kalau pekara cinta Bunda juga kurang paham, itu masalah anak muda seperti kalian cuma yang bisa Bunda ingatman cuma satu, jangan terlalu mengedepankan perasaan karena terkadang, realistis juga perlu, nggak semua yang kamu inginkan akan berakhir sesuai harapan, kadang bisa aja meleset jauh jadi kamu harus udah siap mental." Jawab Bunda gue yang sekarang juga terlihat sangat serius, gue mengerti maksud ucapan Bunda gue tapi yang nggak gue ngerti adalah, kenapa gue nggak boleh mengedepannya perasaan?
"Aya paham Nda tapi kenapa nggak boleh mengedepankan perasaan? Apa itu juga nggak baik, bukannya bahagia atau engaknya seseorang itu tergantung dengan perasaannya? Kalau perasaan seseorang baik, kemungkinan dia untuk bahagia pasti jauh lebih besar, apa Aya salah?" Tanya gue lagi, bahagia bukannya penting dan bahagia itu juga berawal dari perasaan yang baik, kenapa gue nggak boleh mengedepankan perasaan kalau ternyata perasaan itu memang penting? Gue nanya kaya gini bukan berarti gue menganggap kalau realistis itu nggak penting, semua aspek dalam hidup pasti punya bagiannya masing-masing, semua ada porsinya, yang mau gue tanya itu alasannya apa?
"Disaat kamu terlalu mengedepankan perasaan, logika kamu akan berkurang dan disaat logika berkurang, udah pasti kemampuan seseorang untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk akan berkurang juga, Bunda nggak masalah kalau kamu menikah sama Ken karena memang kamu cinta, itu adalah hal bagus tapi menikah juga bukan pekara sesederhana itu, pernah denger cinta itu buta? Bunda nggak mau kamu buta akan semua keadaan disekitar kamu hanya karena kamu sedang jatuh cinta, cuma itu, intinya menikah juga harus punya persiapan, cinta memang baik tapi bukan itu yang terpenting." Jelas Bunda sekali lagi, gue mengangguk pelan mengiakan.
Jadi menurut Bunda, gue jatuh cinta sama Kak Ken memang hal baik dan itu bukan masalah tapi dalam pernikahan juga bukan cinta yang utama, hari setelah pernikahan yang jauh lebih penting, nggak semua hal yang gue inginkan aja berjalan sesuai harapan, contohnya aja sekarang mungkin gue sangat bahagi bisa menikah dan bersedia melakukan apapun, gue bahkan bisa lebih gampang menentukan pilihan karena gue mengedepankan perasaan gue sekarang tapi dimasa depan, setelah gue menikah, mungkin ada beberapa hal yang nggak sesuai dengan keinginan gue, harapan yang akan terus berubah jadi angan dan ini yang harus gue waspadai, saat kemungkinan kaya gitu terjadi, logika gue yang jauh lebih gue butuhkan, bukan cinta.
"Yaudah kalau memang kamu udah ngerti sana naik ke atas dan masuk ke kamar kamu, bukannya tadi katanya kamu mau beberes, mengenai Riza, biarin Riza tenang dan kasih dia waktu, jangan terlalu mengekang Riza untuk segera melupakan, itu akan sulit dan kamu sendiri juga jangan lupa, orang tua Ken akan datang hujung minggu ini jadi pikirkan yang terbaik untuk masa depan kamu, jangan membuat keputusan karena terlalu mengedepankan perasaan, ingat omongan Bunda." Iya gue ingat, gue mengiakan ucapan Bunda ya karena memang gue nggak mau berdebat lebih lama, kalau memang ini yang mau Bunda sampaikan ya gue bakalan mendengarkan dan memikirkan semua ucapannya baik-baik, masa depan gue, gue sendiri yang menentukan makanya Bunda mau gue lebih berhati-hati, jangan terlalu mikirin perasan sampai logika nggak jalan, iya udah gue ingat sekarang, Bunda juga jangan terlalu khawatir.
"Kalau gitu Aya naik dulu ya Nda, nanti kalau Aya selesai beberes, Aya langsung turun untuk ngebantuin Bunda nyiapin makan." Gue tersenyum lepas dan berjalan menaiki tangga dengan perasaan yang bisa di bilang sedikit campur aduk, gue bahagia dan bisa dikatakan gue nggak sabar menunggu kedatangan orang tua Kak Kendra dateng tapi disaat yang bersamaan pula, ucapan Bunda ngebuat gue was-was, gue harus lebih bijak dalam mutusin sesuatu, gue harus lebih hati-hati dalam menentukan pilihan dan itu jelas nggak gampang makanya sekarang jatuhnya malah kaya maju mundur, mau maju takut, mau mundur juga nggak mau, ah gue akhirnya stak di tempat untuk sesaat sembari mempertimbangkan.
Ada beberapa hal yang harus gue persiapkan dan menentukan pilihan itu bukan pekara gampang, tujuan orang tuanya Kak Ken datang aja gue nggak tahu, apa mungkin untuk ngelamar? Tapi kalau ngelamar nggak mungkin, kan udah di jodohin bahkan udah tunangan jadi udah lamaran secara nggak langsungkan? Atau mungkin ada yang lebih besar, misalkan alasannya mau nentuin tanggal pernikahan, nah kan bisa aja, gue yang nggak punya persiapan apapun jelas harus punya jawaban yang bagus kalau seandainya pertanyaan kaya gini muncul.
"Kalau beneran dateng buat nentuin tangga pernikahan gimana?" Gumam gue menanyakan diri gue sendiri.
"Kalau nentuin tanggal pernikahan bukannya bagus? Katanya tadi jatuh cinta, obat untuk orang yang jatuh cinta cuma satu, menikah, udah sana beberes, katanya mau ngebantuin Bunda nyiapin makan malam, kapan kamu turun kalau sibuk ngelamun terus begitu?" Tanya Bunda yang membuka pintu kamar gue mendadak.