Mendengarkan permintaan maaf Bang Riza yang sangat mendadak jujur aja membuat gue sedikit nggak percaya, gue nggak habis pikir dengan pemikiran Bang Riza yang bisa berubah secara dadakan begitu, ya namanya juga manusia jadi gue berpikiran kalau seseorang mau berubah pasti harus ada alasan yang masuk akal dan nggak dalam waktu sesingkat itu,.
Gue udah ngomong sampai berbusa aja dari kemarin tapi nggak ada respon positif sama sekali dari Bang Riza, dia bahkan langsung ngajak orang tuanya untuk melamar gue nah gimana bisa gue langsung percaya gitu aja setelah itu semua? Permintaan maaf Bang Riza mungkin bisa gue terima tapi sedikit sulit untuk gue percaya, gue masih harus melihat sikapnya juga untuk beberapa hari kedepan nanti.
"Ay! Riza minta maaf sama kamu tapi kenapa kamu malah bengong sendiri? Di jawab itu, Riza udah baik mau minta maaf, harus kamu respon baik juga." Cicit Bunda nyikut lengan gue, seketika gue yang baru aja sadar kalau udah mengabaikan permintaan maaf Bang Riza dari tadi langsung mengangguk pelan sembari tersenyum ramah, seperti ucapan gue barusan, sekarang gue bisa memberikan maaf dan gue akui kalau gue juga salah tapi kalau untuk percaya Bang Riza bisa berubah secepat itu, semuanya butuh waktu, termasuk gue, tulus enggaknya permintaan Bang Riza barusan, bakalan ketahuan seiring berjalannya waktu nanti, gue hanya bisa berharap kalau Bang Riza memang beneran tulus kali ini, walaupun gue nggak bisa nerima perasaan Bang Riza tapi gue juga nggak mau hubungan gue sama Bang Riza memburuk, kita berdua masih tetap aja tetangga dan menjaga silaturrahmi itu harus.
"Aya nggak pernah berpikiran buruk dan Aya harap Abang juga bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Aya nanti, Abang orang baik jadi Aya yakin, Allah akan memberikan Abang jodoh terbaik pula, jangan khawatir." Gue tersenyum seramah mungkin sekarang, gue ingin terlihat seperti biasa walaupun kenyataannya itu sulit, gue ingin tetap bersabar sekarang, gue akan mendoakan yang terbaik untuk Bang Riza juga.
Selama ini Bang Riza yang gue kenal sangat-sangat penyayang dan sabar jadi akan sangat disayangkan kalau Bang Riza berbuat aneh hanya karena gue menolak perasaannya, gue nggak sepenting itu sampai harus mengorbankan masa depan Bang Riza, diluar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari gue, diluar sana masih banyak perempuan yang lebih baik untuk Bang Riza, yang lebih mementingkan Bang Riza dan mencintai Bang Riza dengan segala kemampuannya, hanya saja yang pasti perempuan itu bukan gue, masih ada yang jauh lebih baik.
"Amin, semoga." Bang Riza juga terlihat memaksakan senyumannya menanggapi ucapan gue barusan, gue mengharapkan hal yang tulus untuk masa depan Bang Riza, jangan menyia-nyiakan masa depannya cuma untuk gue, itu nggak adil, Bang Riza bisa mendapatkan yang lebih baik asalkan Bang Riza bersedia membuka hati dan pemikirannya, yang Mamanya Bang Riza omongin juga bener, Bang Riza nggak boleh kaya gini, ada beberapa hal yang walaupun sangat kita inginkan tapi harus berajar kita ikhlaskan, itu adalah sebagian dari proses pendewasaan diri, Bang Riza udah dewasa jadi gue yakin Bang Riza udah bisa memilah, mana yang baik dan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, gue mungkin memang baik tapi di luar sana ada yang lebih baik lagi.
"Yaudah kalau gitu aku pamit ya Mbak, maaf udah mengganggu waktu Mbak sama Aya, sekali lagi aku juga minta maaf untuk kejadian hari ini, untuk Aya juga, Tante minta maaf sekali lagi untuk sikap Riza, walaupun telat tapi Tante mengucapkan selamat juga untuk pertunangan kamu, semoga selalu dilancarkan sayang." Gue sama Bunda sepakat mengamini ucapan Mamanya Bang Riza barusan, kita berdua tetap berusaha untuk tersenyum seramah mungkin sekarang walaupun tatapan berkaca-kacanya Bang Riza masih terlihat jelas tapi itu akan membaik dengan sendirinya, gue yakin itu.
Pamit pulang dari rumah gue, gue menghembuskan nafas berat dan menyandarkan tubuh gue disofa lelah begitu Bang Riza dan Mamanya pulang, gue masih sangat kaget dengan sikap Bang Riza yang meminta orang tuanya melamar gue kaya gitu padahal udah jelas-jelas gue ngasih tahu kalau gue nggak bisa nerima perasaannya, gue nggak bisa memberikan apa yang Bang Riza mau tapi bukannya paham tapi Bang Riza malah dateng dengan membawa orang tuanya sekalian ke rumah gue, apa itu yang ditangkap Bang Riza untuk semua penjelasan yang gue berikan? Makanya Bang Riza jangan menga-ngada, gue pusing dibuatnya kalau begitu.
"Kamu sebenernya ngomong sama Riza gimana sih Ay sampai Riza dateng ke rumah bareng orang tuanya untuk ngelamar kamu segala, Bunda hampir jantungan pas dengernya, itu masih untung Ayah kamu nggak ada di rumah, kalau ada Ayah kamu bekalan bereaksi kaya apa? Papanya Riza aja bisa semarah itu mah Ayah kamu apalagi." Ucap Bunda yang melayangkan pertanyaannya ke gue sekarang, gue hanya semakin menghembuskan nafas dalam menanggapi pertanyaan Bunda gue barusan, apa yang mau gue jelasin coba? Otak gue udah cukup lelah, mulut gue udah berbusa untuk memberikan penjelasan ke Bang Riza dengan harapan kalau Bang Riza bakalan ngerti tapi apa yang gue dapat? Yang gue dapat malah lamaran tak terduga yang serasa kejutan dadakan begini.
"Memang Aya bakalan ngomong apa sama Bang Riza? Bunda denger sendirikan gimana Aya ngasih tahu Mamanya Bang Riza barusan, jelas-jelas Aya udah ngasih tahu Bang Riza kalau Aya nggak bisa nerima perasaannya, Aya milih laki-laki lain dan walaupun menikah karena perjodohan tapi Aya beneran suka sama tunangan Aya sekarang, mungkin Aya malah cinta jadi Bang Riza gagal pahamnya dibagian mana?" Tanya gue balik ke Bunda sembari menjelaskan, gue beneran udah memberikan penjelasan terbaik untuk Bang Riza sesuai kemampuan gue tapi kalau kemampuan Bang Riza mengartikan penjelasan yang gue berikan gimana, ya gue mana tahu?
"Kamu serius sama ucapan kamu barusan Ay? Bunda nggak salah dengerkan?" Tanya Bunda gue sekali lagi, gue yang tadinya menyandarkan tubuh gue disofa sembari menatap langit-langit ruang tamu gue langsung bangkit dan menatap Bunda gue dengan tatapan nggak percaya, Bunda gue mikir apaan lagi sekarang?
"Serius Bunda! Lagian sekarang Aya tanya deh sama Bunda, Bunda lebih percaya sama anak Bunda sendiri apa orang lain? Bunda ni nggak percayaan, Aya beneran serius Bunda, seribu rius malah." Gue menekankan kata serius gue ke Bunda sekarang, gue mana pernah becanda kalau udah menyangkut masa depan gue? Nggak pernah kayanya, perjodohan atau pertunangan sekalipun itu semua menyangkut masa depan gue jadi nggak mungkin gue bikin becandaan.
"Jadi kamu jodoh sama Kendra bukan cuma karena dijodohkan? Tapi kamu beneran jatuh cinta sama Kendra? Apa seperti itu?" Tanya Bunda gue menatap gue kaget, apa harus Bunda menatap gue kaget sampai kaya gitu? Memang apalagi alasan gue sampai mau bertunangan dengan suka rela kalau bukan karena gue beneran suka? Bukan cuma suka rela tapi gue bahkan bahagia luar biasa, apa itu bukan cinta namanya? Haduh.