(19) Permintaan Maaf

1118 Kata
Gue sangat-sangat ingin menegaskan, hanya karena gue nggak bisa menerima perasaan Bang Riza atau bahkan lamaran Bang Riza sekalipun, bukan berarti Bang Riza enggak baik, bukan berarti Bang Riza nggak pantas untuk gue, gue sangat ingin menegaskan hal ini, nggak ada alasan yang jauh lebih tepat selain perasaan dan pilihan, perasaan gue yang udah terlanjur memilih orang lain, cuma itu, sangat sederhana tapi sayangnya sangat sulit untuk bisa membuat Bang Riza mengerti. "Aya minta maaf kalau jawaban Aya mengecewakan Om atau Tante, Bang Riza juga, Aya minta maaf tapi Aya juga nggak bisa membiarkan Om sama Tante salah paham, Aya menolak perasaan dan lamaran Bang Riza bukan karena Bang Riza tidak baik tapi itu semua karena Aya sudah menerima lamaran orang lain lebih dulu, hanya itu." Ucap gue mencoba selembut mungkin, nggak harus ada ribut-ribut lagi, orang tua Bang Riza juga nggak punya salah apapun sama gue, seperti ucapan mereka tadi, mereka datang hanya untuk menuruti keinginan Bang Riza yang ingin melemar gue, mereka hanya menuruti keinginan putra mereka untuk meminang perempuan yang sudah mereka anggap baik, gue berterimakasih untuk pendapat mereka itu tapi hanya saja, memang begini kenyataannya, gue sudah bertunangan dengan laki-laki dan gue harap orang tua Bang Riza akan mengerti, gue juga berharap kalau orang tua Bang Riza akan bisa membuat putra mereka mengerti keadaan gue sekarang itu seperti apa. "Aya sama sekali nggak berniat untuk mengecewakan siapapun, baik Om sama Tante ataupun Bang Riza sendiri tapi ini juga pilihan Aya, Aya harap Om sama Tante bisa paham dan nggak menyalahkan siapapun disini." Lanjut gue sangat berharap kalau keadaannya memang akan tetap membaik, nggak perlu ada yang dikhawatirkan, nggak perlu ada yang membuat orang tua Bang Riza merasa berkecil hati, alasan gue menolak jelas bukan karena gue merasa lebih baik tapi hanya gue sama Bang Riza yang belum berjodoh. "Ini maksudnya apa Za? Apa kamu tahu kalau Aya sudah bertunangan dengan laki-laki lain tapi kamu tetap meminta Papa sama Mama untuk datang melamar Aya seperti ini? Apa ini semua Za?" Tanya Papanya Bang Riza yang terlihat cukup emosi, raut wajah Papanya Bang Riza bukan hanya sekedar marah tapi lebih ke merasa malu, mereka terlihat sama sekali tidak tahu kalau gue sudah bertunangan dengan laki-laki lain makanya bisa sekaget ini sekarang, berbeda halnya dengan Bang Riza, dia tahu tapi dia masih meminta orang tuanya datang melamar gue, apa itu masuk akal? Sama sekali tidak. "Tapi Aya bertunangan karena perjodohan Pa! Bukannya Riza masih punya kesempatan kalau memang itu alasan Aya harus bersama dengan tunangannya yang sekarang? Aya nggak cinta sama laki-laki tersebut jadi Riza rasa nggak ada salahnya kalau Riza mencoba memperjuangkan perasaan Riza sekarang, cuma itu, apa yang salah dari sikap Riza Pa?" Tanya Bang Riza sangat lirih, gue yang ikut mendengarkan ucapan Bang Riz juga nggak habis pikir, gue nggak punya kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan dan perasaan gue sekarang, gue marah, gue kesal tapi disaat yang bersamaan gue juga nggak tega, Bang Riza terlihat sangat terpukul dan sulit menerima kenyataan yang ada sekarang. "Itu salah Bang! Kamu salah karena ingin melamar perempuan yang sudah dipinang oleh laki-laki lain, Mama sama Papa nggak peduli Aya menikah karena perjodohan atau bukan karena intinya tetap sama, Aya akan menjadi milik laki-laki dan Mama nggak mau anak lelaki Mama menjadi laki-laki yang jahat karena ingin merebut milik orang lain, Mama nggak mau Abang ngelakuin itu." Jawab Mamanya Bang Riza sembari mengusap pelan bahu putranya, berbeda jauh dengan tatapan Papanya yang penuh amarah seperti sekarang, Mamanya Bang Riza malah jauh lebih khawatir dengan perasaan putranya, Mamanya jauh lebih peduli dengan keadaan putranya sekarang. "Tapi Ma! Riza nggak bisa membiarakan Aya menikah dengan laki-laki lain, Riza nggak rela kalau Aya menjadi milik laki-laki lain, kenapa bukan Riza? Kenapa bukan Riza orangnya Ma? Riza yakin kalau Riza bisa membuat Aya bahagia, Riza yakin kalau Riza bisa mencintai Aya lebih baik dari siapapun, kenapa bukan Riza?" Mata Bang Riza sangat berkaca-kaca sekarang, melihat putranya yang sangat rapuh, tanpa sadar Mamanya Bang Riza juga mulai meneteskan air mata, tangannya yang nggak berhenti mengusap bahu Bang Riza untuk menenangkan, gue semakin nggak tega, Bunda gue juga terlihat sama nggak teganya sekarang. "Kalian belum berjodoh Nak! Bunda yakin kamu juga akan menemukan seseorang yang sangat mencintai kamu nantinya, kamu hanya perlu ikhlas sekarang, jangan menilai diri kamu buruk hanya karena Aya, setiap orang itu berharga, kamu juga seperti putra Bunda sendiri jadi jangan berkecil hati, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu." Kali ini Bunda gue yang angkat bicara, mendengarkan kalimat Bunda barusan, Bang Riza meneteskan air matanya, tatapannya sangat sayu sekarang, gue pikir selama ini Bang Riza adalah laki-laki kuat tapi sekarang, gue harus mengubah pemikiran gue, mau sekuat apapun laki-laki, mereka akan tetap runtuh disaat harus kehilangan perempuan yang dicintainya. "Mbak! Aku minta maaf sebelumnya, aku sama Papanya Riza sama sekali nggak tahu kalau Aya sudah punya tunangan, kalau seandainya kita berdua tahu, kita nggak akan datang dan berbicara tentang niat melamar seperti tadi, kita minta maaf." Mamanya Bang Riza mengusap air matanya cepat dan melayangkan permintaan maaf masih dengan mata yang sangat berkaca-kaca, gue sendiri yang memperhatikan juga ikut berkaca-kaca, sampai kapanpun, Ibu memang akan selalu mengerti, Ibu yang akan lebih paham dengan perasaan putra-putrinya, gue yakin Mamanya Bang Riza juga nggak enak sama Bunda gue sekarang, Papanya Bang Riza bahkan udah nggak bisa berkata-kata, tatapannya beneran kacau dengan rasa malu yang lebih mendominasi, gue bisa melihat itu semua. "Nggak papa! Mbak juga salah karena nggak bicara lebih awal mengenai pertunangan Aya, Riza laki-laki baik hanya saja mungkin Aya sama Riza belum berjodoh, Mbak paham jadi kamu sama Papanya Riza juga jangan terlalu keras dan merasa bersalah, Mbak nggak papa." Jawab Bunda gue menanggapi permintaan maaf Mamanya Bang Riza barusan, mendapat anggukan dari Bunda gue, Papanya Bang Riza langsung pamit pulanh dan menyisakan kita berempat sekarang, Bang Riza masih berkutat dengan tangisnya, Mamanya juga masih setia mencoba menenangkan. "Tante juga minta maaf sama kamu Ay! Maafin Riza juga, Riza cuma belum paham, Riza nggak pernah berniat jahat sama kamu." Gue langsung mengiakan permintaan maaf Mamanya Bang Riza sekarang, tanpa harus dijelasin sekalipun, gue juga tahu kalau Bang Riza itu laki-laki baik dan Bang Riza nggak akan pernah berniat jahat sama gue, gue juga paham hal itu jadi Tante nggak perlu khawatir. "Aya juga salah Tan, Aya harusnya ngomong sama Bang Riza lebih awal jadi semuanya nggak akan serba kaget kaya gini, Tante nggak harus merasa bersalah lagi." Gue sama Bang Riza sama salahnya, kita berdua terlalu keras kepala dan menganggap remeh keadaan makanya malah jadi kaya gini, serba merasa bersalah tanpa ada yang mau mencoba untuk saling memahami, cuma itu. “Abang minta maaf Ay! Maaf karena udah nggak bisa mengerti keadaan kamu sekarang, Abang menyesal." Lirih Bang Riza tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN