(18) Lamaran Kedua

1069 Kata
Nggak mau membuang waktu lebih lama, gue bergegas keluar dari kamar dan menemui orang tua Bang Riza di bawah, gue nggak mau berburuk sangka lebih dulu, gue belum tahu maksud dan tujuan kedatangan orang tua Bang Riza itu apa jadi mari kita dengarkan lebih dulu, setelahnya baru memberikan pendapat lain, setidaknya ini yang gue pikirkan untuk menenangkan perasaan gue sendiri sekarang, gue harus tetap tenang kalau nggak mau keadaannya jadi semakin rumit, kalau gue ikutan emosi tanpa mau mendengarkan apapun lebih dulu, gue takutnya malah Bunda gue yang bakalan kesusahan, bagaimanapun keluarga gue sama Bang Riza itu tetangga jadi nggak enak aja kalau harus ada ribut-ribut. "Itu Ayanya turun, sini duduk dulu, ada Om sama Tante yang udah nungguin, katanya mau ketemu kamu." Ucap Bunda gue nepuk pelan sofa kosong disebelahnya, gue menyunggingkan senyuman sekedarnya dan duduk di tempat yang Bunda gue maksud, gue masih belum berniat mengeluarkan sepatah katapun sekarang. "Jadi ada apa ni Za, tumben dateng bareng sama Papa Mamanya sekalian? Ada acara apa ni?" Lanjut Bunda gue nanya ke Bang Riza untuk memecah keheningan, gue sama sekali nggak menatap Bang Riza sekarang, gue pikir Bang Riza akan mengerti setelah mendengarkan ucapan gue tapi ternyata enggak, Bang Riza masih belum paham makanya dia dateng dengan orang tuanya langsung kaya sekarang, ini yang sangat gue sesalkan. "Riza nggak akan ngasih alasan apapun sama Tante tapi tujuan Riza datang kemari karena memang Riza ingin melamar Aya menjadi istrinya Riza, Mama sama Papa datang dengan tujuan itu." Jawab Bang Riza terlihat sangat yakin, gue yang mendengarkan ucapan Bang Riza barusan serasa hilang akal, coba kalian pikir, apa yang kurang jelas dari semua penjelasan yang udah gue kasih? Gue dengan sangat tegas ngomong ke Bang Riza kalau gue udah punya tunangan sekarang, gue calon istri orang jadi gimana cerita Bang Riza malah datang dengan tujuan ingin melamar gue? Nggak waras kayanya. "Kamu serius dengan ucapan kamu barusan Za? Bukannya Aya sudah menjelaskan semuanya, Tante nggak paham sama sekali dengan maksud ucapan kamu sekarang nak." Bunda gue jelas-jelas kaget dengan omongan Bang Riza tapi berusaha tetap tenang dan mencoba bersikap sebiasa mungkin karena mengingat kehadiran orang tuanya Mas Riza ditengah-tengah kita sekarang, anehnya adalah, Bunda gue aja bisa mikirin perasaan orang tuanya Bang Riza tapi gimana bisa Bang Riza nggak mikirin perasaan orang tuanya sendiri? Bang Riza tetap ngajak orang tuanya ke rumah gue dengan tujuan melamar padahal Bang Riza tahu gue udah punya tunangan, itu nekat namanya, keras kepala. "Begini Mbak, sebenernya aku sama Papanya dateng kemari karena keinginan Riza, Riza mau melamar Aya sesegera mungkin, Riza takut keduluan sama laki-laki lain, aku sama Papanya juga udah mikirin ini semua, kalau Aya orangnya, kita berdua nggak keberatan sama sekali, kami berdua sangat setuju makanya walaupun terburu-buru, kami berdua menyanggupi keinginan Riza untuk melamar Aya sekarang." Ucap Mamanya Bang Riza jauh lebih lembut ke Bunda, gue yang mendengarkan semakin merasa nggak enak, gue nggak tega sama orang tuanya Bang Riza tapi gue malah semakin kesal dengan Bang Riza sekarang, otaknya dikemanain coba? Ini tu udah nggak lucu. "Duh gimana ya Mbak sendiri juga bingung mau ngejelasinnya gimana, sebenernya niat Riza memang baik tapi sekarang rasanya itu nggak mungkin." Tolak Bunda gue halus, Bunda sendiri kelihatan bingung mau menyampaikan masalah ini gimana ke orang tua Bang Riza, ya seperti kata orang tuanya Bang Riza barusan, melamar itu memang niat yang baik asalkan untuk dan dengan orang yang tepat, sayangnya orang yang tepat untuk Bang Riza itu bukan gue, sikap Bang Riza yang nggak mau paham situasi kaya sekarang cuma akan membebani orang tuanya, ini cuma akan membuat orang tuanya Bang Riza malu. "Maksudnya gimana Mbak? Mbak menolak lamaran aku untuk Aya? Kenapa? Apa Mbak merasa kalau Riza tidak cukup baik?" Tanya Mamanya Bang Riza cukup kebingungan, mendengarkan pertanyaan yang dilayangkan Mamanya Bang Riza, Bunda gue juga mulai sedikit gelagapan, mau jujur tapi takut menyinggung perasaannya, nggak jujur juga nggak mungkin, gue nggak mungkin nerima lamaran dari laki-laki lain disaat status gue sekarang adalah tunangan orangkan? Yang bener aja? Bang Riza beneran nyari masalah tahu nggak? Sikapnya sekarang sama aja kaya mempermalukan orang tuanya sendiri tapi bodohnya Bang Riza malah nggak sadar dengan hal itu. "Bukan begitu maksudnya, sama halnya kalian yang menilai Aya sangat baik, Riza juga sangat baik dimata Mbak, hanya saja sekarang Mbak tidak bisa menerima lamaran kalian untuk Aya, cuma itu masalahnya." Bunda gue seakan berusaha keras merangkai kata supaya tidak menyakiti orang tua Bang Riza sekarang, gue juga sama, gue sama Bunda sibuk mencari cara untuk tidak menyakiti tapi putra mereka sendiri malah mendorong mereka masuk ke dalam situasi yang jauh lebih rumit, itu yang nggak habis gue pikir, sejak kapan Bang Riza jadi laki-laki yang setega ini bahkan sama orang tuanya sendiri? "Iya tapi alasannya apa Mbak? Kalau memang Mbak menganggap Riza baik, kenapa lamaran Riza untuk Aya tidak bisa Mbak terima?" Tanya Mamanya Bang Riza ulang, Bunda gue menghembuskan nafas pasrah sembari menatap Bang Riza sama gue bergantian, raut wajah kecewa Bunda juga terlihat jelas sekarang, gue yakin Bunda juga sama sekali nggak nyangka kalau Bang Riza bisa melakukan hal kekanak-kanakan kaya sekarang, keras kepala dan seakan nggak paham situasi, beneran kaya bukan Bang Riza yang gue kenal selama ini tahu nggak? Gue malah ngerasa kalau Bang Riza itu orang lain sekarang. "Mbak rasa Riza sendiri sudah tahu alasannya apa, Aya sudah sangat sering menjelaskan masalah ini, mungkin Riza belum paham." Dan cuma ini jawaban yang Bunda gue berikan, Bunda gue sudah sangat kecewa dan nggak ada yang bisa gue perbuat, gue juga sama kecewanya melihat sikap Bang Riza sekarang, ini adalah salah satu hal terbodoh yang pernah Bang Riza lakuin ke gue, ini bakalan sulit gue lupain. "Maksudnya gimana? Za! Jelasin sama Papa maksudnya apa sekarang? Kamu udah tahu kalau lamaran kamu nggak akan di terima tapi tetap memaksa Papa sama Mama datang kemari? Maksudnya apa?" Kali ini Papanya Bang Riza yang buka suara, seketika suasana ruang tamu di rumah gue berubah menegang, Papanya Bang Riza terlihat sangat marah sekarang padahal Bang Riza belum memberikan jawaban apapun. "Ay! Kalau memang Riza nggak bisa memberikan penjelasan, kamu bisa jujur ngomong sama Tante, apa alasannya kamu nggak bisa nerima lamaran Riza? Apa Riza kurang baik?" Tanya Mamanya Bang Riza beralih ke gue, gue langsung menggeleng cepat, jelas bukan itu alasannya. "Bang Riza baik Tan, hanya saja sekarang Aya nggak bisa nerima lamaran Bang Riza karena Aya udah punya tunangan, Aya calon istri orang lain sekarang." Jawab gue jujur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN