(17) Tamu Dadakan

1240 Kata
Gue mutusin untuk nggak ngebahas apapun lagi sama Bang Riza dan langsung minta dianterin pulang, kali ini gue sangat serius kalau gue memang udah nggak mau membahas apapun, belum juga sampai ke tempat rencana kita berdua untuk ngomong tapi Bang Riza udah ngomongin semuanya, nggak ada yang tertinggal lagi, mau seberapa banyak kalipun gue coba untuk mengerti keadaan dan perasaan Bang Riza, kalau Bang Riza juga nggak nyoba untuk mengerti perasaan gue itu sama aja bohong, nggak akan ada gunanya, jalan tengahnya nggak akan ketemu karena cuma gue seorang yang berusaha untuk memperbaiki keadaan tapi Bang Riza malah terus ngomong sesuka hatinya, gue nggak bisa terima dengan hal itu, kesabaran gue itu juga ada batasnya jadi kalau disini aja kesabaran gue udah mulai sangat-sangat menipis, apa yang mau gue lanjutin lagi? Ngomong berdua sama Bang Riza jelas lebih gak mungkin. "Abang kaya gini karena Abang mau yang terbaik untuk kamu Ay! Abang nggak kamu salah pilih dan berakhir dengan kekecewaan." Ucap Bang Riza begitu kita berdua udah sampai di depan rumah gue, gue mengangguk pelan untuk ucapan Bang Riza barusan, gue sangat-sangat paham dengan alasan Bang Riza melakukan ini semua tapi sayang Bang Riza yang nggak mau ngerti alasan gue melakukan semua ini apa sebenernya. "Aya tahu Abang khawatir, Aya juga mencoba paham maksud Abang mengatakan itu semua apa tapi sayangnya Abang nggak paham dengan pemikiran Aya jadi mau Aya jelasin segimanapun, nggak akan ada titik temunya diantara kita berdua Bang! Jadi yang bisa Aya omongin cuma terimakasih karena Abang udah khawatir tapi ini pilihan Aya, ini masa depan yang Aya tentuin sendiri apapun hasilnya nanti, Abang jangan khawatir dan semoga Abang bisa ngerti." Gue menyelesaikan ucapan gue dan turun dari mobil Bang Riza langsung berjalan masuk ke rumah, kalau biasanya gue akan ngajak Bang Riza mampir tapi enggak untuk kali ini, keadaannya lagi nggak memungkinkan. "Assalamualaikum." Ucap gue begitu membuka pintu rumah. "Waalaikumsalam, loh Ay! Katanya mau keluar sama Riza untuk bicara, kenapa sekarang malah udah di rumah? Cepet banget kalian bicaranya?" Jawab Bunda begitu mendapati gue yang mengucapkan salam barusan, gue berjalan lurus dan nyalim sama Bunda dengan tatapan datar, pemikiran gue beneran udah kosong, tenaga gue udah habis untuk berdebat sama Bang Riza, gue capek karena terus berusaha untuk membuat Bang Riza ngerti tapi ternyata orangnya sendiri nggak mau ngerti-ngerti, gue berasa ngomong sendiri dan itu beneran buang-buang waktu, lebih baik gue pulang dan istirahat. "Aya udah ngomong sama Bang Riza dan hasilnya masih sama, Aya juga nggak harus ngejelasin apa aja yang Bang Riza omonginkan Nda untuk bisa membuat Bunda paham juga, Bunda liat ekspresi Aya sekarang, menurut Bunda apa hasilnya baik? Enggak sama sekali, nggak harus dilanjutin lagi, dari pada adu mulut lebih lama ya mendingan Aya pulang, istirahat sama tidur siang sekalian." Jelas gue ke Bunda sekaligus, gue ngomong dengan sekali jalan, nggak harus cerita panjang kali lebar lagi karena dari ekspresi dan keadaan gue aja harusnya Bunda udah bisa nebak sendiri, hasil pembicaraan gue sama Bang Riza lagi-lagi nggak berjalan baik, semuanya udah nggak berjalan sesuai rencana gue jadi nggak ada yang harus di terusin, gue pulang. "Nggak papa yang penting kamu udah berusaha menjelaskan dan nggak terlihat mengabaikan perasaan Riza, mau reaksi Riza gimanapun, kita sabar dulu, kasih Riza waktu untuk mikir, kalau Riza udah jauh lebih tenang, mungkin dia akan bisa nerima semuanya, jangan terlalu kamu pikirin juga, semua masalah ada solusinya, jangan terlalu khawatir." Gue mengiakan ucapan Bunda gue sekarang, dari awal gue memang nggak terlalu kepikiran tapi Bunda sama Yuni yang minta supaya gue jangan terlihat sampai nggak peduli bangetkan? Sekarang gue lagi berusaha melakukan itu tapi hasilnya masih nggak sesuai harapan ya gue juga bisa apa? Nggak ada yang bisa gue lakuin itu, itu semua tergantung masing-masing pribadi, yang jelas gue udah berusaha untuk ngertiin Bang Riza tapi gue nggak bisa maksa Bang Riza untuk bersedia ngertiin gue, itu nggak mungkin. "Aya memang nggak akan berdebat karena masalah ini Nda, Aya udah jelasin jadi mari kita tunggu sikap baik Bang Riza juga, semua butuh waktukan? Kalau memang yang Bang Riza butuh sekarang adalah waktu, Bang Riza bisa memiliki itu semua, yaudah Aya masuk ke kamar dulu ya Nda, mau beberes, shalat sama tidur siang sebentar." Mendapat anggukan Bunda, gue pamit naik ke atas dan masuk ke kamar gue dalam keadaan yang bisa di bilang sedikit kewalahan, gue pikir kalau gue bicara sama Bang Riza perasaan gue bisa lebih membaik tapi kayanya masih sama, gue masih harus bersabar menunggu Bang Riza mengerti dengan pilihan hati gue. Gue meletakkan tas kuliah gue di atas meja dan duduk disalah satu sisi ranjang gue sekarang, ngambil handphone dan ngecek handphone sebentar sebelum beberes, gue melirik beberapa pesan chat yang ada masuk sekarang, mulai dari Riri yang minta maaf soal semalam, Yuni yang nanya hasil pembicaraan gue sama Bang Riza sampai ke Kak Kendra yang mengirimkan gue pesan chat untuk pertama kalinya, gue lumayan kaget melihat layar handphone gue sekarang, ini beneran Kak Kendra apa mata gue yang mulai salah lihat sekarang? Dengan perasaan yang masih sulit gue jelaskan, gue membuka pesan chat Kak Kendra dan isinya adalah, Kak Ken nanya apa salamnya udah gue sampaikan ke Ayah sama Bunda? Dengan cepat gue membalas kaya iya, cuma satu kata doang dan nggak lebih, menutup pesan Kak Ken, gue beralih ke pesan Riri yang minta maaf, gue juga menerima permintaan maaf Riri, mungkin Riri beneran nggak tahu kalau gue juga sama penakutnya, gue bisa mengerti itu dan terakhir gue membalas pesan chat Yuni yang nanya hasil wawancara gue sama Bang Riza, dengan sangat menyesal gue harus menyampaikan berita buruk, hasilnya sangat tidak sesuai dengan harapan. Selesai membalas semua pesan chat yang gue anggap penting, gue bangkit dari ranjang dan mulai beberes, gue udah cukup gerah sekarang tapi baru juga gue narik handuk gue sembarangan, ada yang membuka pintu kamar gue mendadak, sontak gue nggak bisa menutupi keterkejutan gue, untung aja gue belum ganti baju, kalau udah gimana? Bisa berabe lagi. "Bunda masuk kenapa nggak ketuk pintu dulu? Ada apa Nda?" Tanya gue karena memang Bunda yang membuka pintu kamar gue barusan, gue masih mengusap d**a bahkan sekarang. "Salah kamu sendiri udah tahu beberes tapi nggak kunci pintu." Gue malah mengerutkan kening mendengarkan pertanyaan Bunda gue, memang kalau beberes di kamar sendiri harus kunci pintu juga? Itu aturan zaman siapa? "Yaudah ada apa ni jadi Bunda masuk mendadak kaya gini?" Tanya gue ulang, ada masalah apa sampai Bunda gue tiba-tiba nyusulin gue sampai ke atas? "Kita punya tamu dadakan, kamu beberes buruan setelahnya turun ke bawah, ada Riza sama orang tuanya sekarang di rumah." Bunda gue sendiri ngomong tapi ekspresinya nggak kebaca sama sekali, Hah? Bang Riza sama orang tuanya ada dirumah gue sekarang? Mereka mau ngapain coba? Kenapa kesannya masalah gue sama Bang Riza nggak kelar-kelar? Gue udah coba untung ngasih penjelasan dan pengertian sebaik mungkin tapi sekarang Bang Riza malah dateng sama orang tuanya? "Orang tuanya Bang Riza mau ngapain sih Nda?" Tanya gue nggak habis pikir, otak gue udah stak ditempat mikirin Bang Riza. "Mana Bunda tahu, pokoknya kamu beberes dulu terus turun ke bawah, jangan bikin orang tua Riza lama nunggu, nggak baik." Saran Bunda ke gue, mengusap wajah gue kasar, gue narik nafas dalam dan menggepalkan jemari gue kuat, apalagi sekarang coba? "Yaudah Aya turun sekarang deh, tar aja beberesnya." Kalau nunggu gue selesai beberes yang ada kelamaan, orang tua Bang Riza bakalan nunggu lama, ayo turun dan mari dengarkan apa yang orang tua Bang Riza mau omongin sama gue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN