"Abang cuma nggak mau kamu kecewa Rin, Abang cuma mau yang terbaik untuk kamu, kamu sendiri tahukan? Berapa banyak orang diluar sana yang menikah karena perjodohan dan mereka semua nggak bahagia, mereka menikah secara paksa cuma karena harta, bukannya ini udah jadi hal umum? Perjodohan itu nggak akan mudah Ay! Itu nggak akan berhujung baik untuk masa depan kamu." Lanjut Bang Riza seolah belum sadar dengan kesalahannya barusan, Bang Riza masih aja menjelekkan Kak Kendra di depan gue kaya sekarang, gue bahkan udah menggenggam jemari gue kuat sekarang memperhatikan Bang Riza yang semakin keterlaluan menurut gue, Bang Riza udah berlebihan.
"Bang! Abang nggak bisa memberikan penilaian sesuka hati Abang kaya gitu? Lagian apa yang Abang lihat selama itu adalah hidup orang lain, bukan hidup Aya jadi jangan samain, Abang terlalu banyak nonton drama makanya bisa mikir jelek kaya gitu, nggak semua perjodohan berujung buruk Bang, Abang nggak bisa menjadikan hidup orang lain sebagai patokan untuk menilai hidup dan masa depan Aya." Masa depan setiap orang itu berbeda jadi kenapa Bang Riza malah berbicara sesuka hati kaya gini sama gue? Menyamakan hidup orang lain dengan hidup gue sekarang itu sangat tidak adil, Mas Zinan nggak seharusnya ngelakuin itu, gue udah cukup capek memperhatikan kebiasaan Bang Riza yang satu ini.
"Abang bukannya menjadikan itu patokan untuk hidup kamu tapi Abang mau kamu bisa menilai dengan lebih jelas Ay! Perjodohan itu nggak seindah apa yang kamu bayangin selama ini, banyak hal yang harus kamu perjuangkan nanti, apa kamu nggak mikirin semua itu? Kamu bakalan hidup dengan laki-laki yang nggak kamu kenal sama sekali, pernikahan itu bukan bahan untuk uji coba apalagi sampai uji nyali, kamu nggak bisa mempertaruhkan masa depan kamu semudah itu." Gue semakin mengusap kasar wajah gue mendengarkan semua ucapan yang keluar dari mulut Bang Riza, semua yang Bang Riza omongin beneran mengusik pemikiran gue, gue nggak pernah setuju dengan pendapatnya barusan.
"Aya bukannya lagi uji coba apalagi uji nyali seperti yang Abang omongin barusan, Aya akan menikah Bang dan Aya nggak akan menikahi sembarangan orang juga, Aya percaya siapa yang dipilihkan keluarga Aya itu adalah yang terbaik, Abang percaya jodohkan? Mau seberapa besarpun usaha Aya untuk menikah kalau memang nggak jodoh ya nggak jadi Bang, begitu juga sebaliknya jadi Abang salah kalau mikir Aya nggak peduli dengan masa depan Aya kaya gitu." Jelas gue mencoba melembut, gue harus ingat omongan Yuni, gue ikut Bang Riza untuk bicara baik-baik bukannya mau berdebat satu sama lain, itu nggak bener, gue harus bisa lebih bersabar.
"Jodoh? Apa orang tua kamu udah yakin kalau laki-laki itu yang terbaik? Kasih Abang kesempatan juga Ay! Kalau kamu ngasih Abang kesempatan, Abang yakin kalau Abang juga bisa menyakinkan orang tua kamu, Abang yakin kalau Abang bisa menjadi yang terbaik, kamu cuma harus membuka hati untuk Abang, ada Abang yang selalu nunggu kamu, bahkan itu dari dulu." Bang Riza tetap kekeh dengan ucapannya, gue menghela nafas dalam dan mengalihkan perhatian gue ke arah luar jalan, kayanya beneran udah nggak guna deh, nggak ada yang harus gue jelasin lagi kalau memang kenyataannya Bang Riza sendiri nggak mau percaya apapun penjelasan gue.
"Bang! Kayanya kita nggak harus nyari tempat lain untuk bicara deh, sekarang aja kita udah ngomongin banyak hal dan Aya udah nggak yakin kalau kesabaran Aya masih cukup banyak untuk bisa terus berdebat dengan Abang nanti, lebih baik Aya pulang sekarang." Pinta gue sekaligus memberikan saran, obrolan gue sama Bang Riza memang nggak harus diperpanjang lebih lama lagi, nggak akan ada bedanya juga mau gue ngomong baik-baik atau marah-marah sekalipun, Bang Riza tetap dengan pemikirannya sendiri, Bang Riz mau gue memberikan dia kesempatan padahal gue sendiri nggak paham pasti maksud kesempatan yang Bang Riza mau sebenernya apa.
"Apa kamu akan menghindar dari Abang lagi sekarang? Bukannya kita udah sepajat untuk bicara? Kalau kamu menghindar terus, masalah kita nggak akan pernah selesai Ay! Nggak akan ada jawaban yang ingin Mas dengarkan keluar dari mulut kamu nantinya, kamu nggak bisa pergi gitu aja." Gue semakin nggak habis pikir dengan jalan pikiran Bang Riza sekarang, apa milih ikut Bang Riza sekarang adalah pilihan yang salah? Apa seharusnya gue memang nggak ikut sama sekali? Akan lebih baik kalau gue pulang dianterin sama Yuni tadi ketimbang terjebak dengan sifat keras kepalanya Bang Riza sekarang.
"Abang mau Aya ngomong apa? Ngasih Abang kesempatan? Abang mau Aya ngebatalin pertunangan bahkan perjodohannya dan nerima perasaan Abang? Kalau memang itu yang mau Abang omongin, Abang udah tahu pasti jawabannya Aya apakan? Aya nggak bisa ngelakuin itu dan Aya nggak bisa mengabulkan apa yang Abang mau dengar dari mulut Aya sekarang, Aya rasa jawaban Aya udah sangat jelas." Jawaban gue udah sangat-sangat lengkap rasanya, gue nggak bisa nerima perasaan Bang Riza dan gue juga nggak mau ninggalin Kak Kendra, gue nggak mau membatalkan pertunangannya apalagi sampai membatalkan perjodohan, gue nggak akan pernah mau ngelakuin itu.
"Kamu jangan keras kepala Ay! Abang kaya gini karena Abang sangat-sangat mencintai kamu, kamu kenal Abang dari dulukan? Abang nggak akan nyakitin kamu Ay! Abang akan membahagiakan kamu kapanpun dan dimanapun, apa kamu nggak akan percaya dengan omongan Abang sekarang?" Gue diam nggak berkutik dengan pertanyaan Bang Riza sekarang, gue bukannya nggak kenal sama Bang Riza dan bukannya gue nggak percaya dengan semua omongannya barusan, gue akan sangat percaya, gue tahu kalau Bang Riza nggak akan pernah menyakiti gue, gue tahu kalau Bang Riza akan melakukan apapun untuk membahagiakan gue nantinya, gue percaya dengan semua itu cuma sekarang masalahnya, hati gue udah terlajur milih orang lain dan orang itu bukan Bang Riza.
"Aya percaya semua ucapan Abang barusan, Aya juga yakin kalau Abang akan menjaga dan membahagiakan Aya kapanpun dan dimanapun cuma yang harus Abang tahu, persaan Aya sama perasaan Abang itu beda, perasaan kita berdua nggak sama Bang! Aya juga mau Abang bahagia tapi cuma sebatas keluarga, nggak bisa lebih dari itu." Gue juga akan menjadi salah satu orang yang sangat menginginkan Bang Riza bahagia dalam kehidupannya, gue sangat-sangat menginginkan itu tapi bahagia Bang Riza bukan di gue, gue nggak akan bisa membalas perasaan Bang Riza sama sekali.
"Kalau Kendra bisa kenapa Abang enggak Ay? Kamu bahkan lebih sering ketemu Abang, kamu menghabiskan lebih banyak waktu dengan apa lantas apa kelebihannya Kendra? Dia bahkan nggak pernah memperhatikan kamu, apa kelebihannya Kendra dibandingkan Abang? Apa Abang seburuk itu?" Gue langsung menggeleng cepat, gue meminta Bang Riza menghentikan mobilnya sekarang karena sadar dengan emosi Bang Riza yang semakin nggak stabil.
"Abang terlalu banyak mikir, ini semua bukan tentang siapa yang lebih dan siapa yang kurang Bang!" Bukan itu yang tue pertimbangkan, Bang Riza atau Kak Kendra mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, nggak ada manusia yang sempurna.
"Terus apa? Apa masalahnya sampai sangat sulit kamu nerima perasaan Abang sekarang Ay?" Lirih Bang Riza sangat.
"Masalahnya cuma diperasaan, perasaan Aya yang udah terlanjur milih orang lain sebagai pemiliknya." Jawab gue jujur.