Mendengar nama Bang Riza, gue menghembuskan nafas dalam dan melirik Yuni yang memang ikut menatap gue kaget juga, gue pikir Bang Riza masih butuh waktu untuk sendiri dan mikirin semuanya baik-baik sebelum di omongin sama gue lagi tapi ternyata Bang Riza nggak nunggu lama, belum berselang sehari aja gue udah dicariin, Bang Riza datang pasti mau ngebahas masalah semalam lagi, nggak mungkin hal lain untuk sekarang.
"Lo janjian lagi sama Bang Riza hari ini?" Tanya Yuni yang hampir aja gue hadiahi tatapan menusuk gue sekarang, lagian kalau nanya suka nggak kira-kira, perhitungan sedikit paling nggak kalau nanya, baru aja gue cerita segimana pusingnya gue ngadepin Bang Riza tapi masa iya sekarang malah gue ajak janjian untuk ngomong lagi? Yang benet aja, sakit ni orang yang nanya barusan.
"Lo nggak usah mancing-mancing emosi gue lagi, suasana udah cukup panas tadi, gue kirian hari ini pulang kuliah gue bisa tidur siang dengan jauh lebih tenang lah ternyata malah disamperin untuk wawancara lanjutan lagi, gagal sudah rencana gue Yun." Gue memperlihatkan ekspresi bener-bener pasrah gue sekarang, gue mau kabur aja rasanya tapi ingat omongan Bunda sama Yuni juga, jangan menghindar dan bicarain baik-baik, lebih-lebih gue udah menganggap Bang Riza layaknya keluarga, gue nggak mungkin mau menghindari Bang Riza seumur hidup gue kan?
"Memang lo ikan bisa gue pancing, udah sana temuin orangnya, makin cepat lo bahas, makin cepat selesai masalah lo berdua, pemikiran lo bisa lebih baik dan istirahat lo juga bisa lebih tenang, ingat pesan gue, harus banyak sabar, yang sekarang hatinya sedang dikecewakan itu Bang Riza jadi lo yang harus lebih pengertian, menjelaskan dan menenangkan tapi bukan memberikan harapan." Ucap Yuni nepuk pelan lengan gue lagi, haduh, Yuni mah ngomongnya gampang banget, menjelaskan dan menenangkan tapi jangan sampai malah ngasih harapan itu begimana caranya? Susah untuk gue cerna maksudnya.
"Lo pulangnya hati-hati, doain aku yak." Gue bangkit dari duduk gue sekarang dan narik nafas dalam cukup panjang, gue menghentakkan kaki gue sekali dan menggepalkan jemari gue kuat, gue bisa ngadepin Bang Riza sekarang dengan jauh lebih tenang, gue bisa dan memang harus bisa, gue nggak mau masalahnya malah semakin berlarut-larut karena nggak mau gue bicarakan.
"Doa Ibu selalu menyertai." Ucap Yuni membalas ucapan gue, gue tersenyum kecil menatap sahabat gue sekarang dan keluar dari kelas gitu aja dan ternyata bener, udah ada Bang Riza yang nungguin di depan kelas gue, rawut wajahnya sekarang beneran nggak kebaca, Bang Riza hanya menatap gue dengan tatapan datarnya dan mempersilahkan gue untuk jalan lebih dulu, dulu menuruti, kemana tujuan kita berdua? Entahlah, yang pasti belum ada yang mau buka suara sekarang.
Gue mengikuti langkah Bang Riza dalam diam, gue juga sempat mengeluarkan handphone gue untuk ngasih tahu Bunda kalau gue ketemu dan mau bicara sama Bang Riza sebentar, gue nggak mau Bunda salah paham kalau tahu dari orang lain gue keluar sama Bang Riza hari ini, memang seidkit risih mengingat keadaan gue sekarang tapi gue juga harus memaksakan diri, memang harus di bicarakan baik-baik, gue sama Bang Riza cuma perlu nyari tempat yang tenang untuk bicara, tenang bukan berarti jauh dari kerumunan orang.
"Kamu mau ke tempat biasa atau kita cari tempat lain untuk ngomong?" Tanya Bang Riza akhirnya, gue menyetujui ajakan Bang Riza untuk bicara di tempat biasa dari pada harus nyari tempat lain yang mungkin akan memakan banyak waktu juga, tempat biasa yang Bang Riza maksud barusan adalah tempat biasa kita semua ngerjain tugas, gue, Bang Riza sama Yuni juga, nggak jarang kalau Riri mau ikut, minta di bantuin ngerjain tugas sekolahnya.
Selama perjalanan suasananya sangatlah hening, gue memilih diam sembari memperhatikan kearah luar jalan sedangkan Bang Riza hanya fokus dengan kemudinya, Bang Riza nggak banyak ngomong dan lebih cenderung diam, gue yang ngerasa suasananya memang udah canggung dari awal ya milih ikutan diam, nggak ada yang harus gue bicarain lebih dulu, gue nggak mau baradu pendapat sama Bang Riza sekarang, kita berdua bisa cari tempat yang jauh lebih terbuka dan orang-orang nggak akan salah paham, Bang Riza juga bisa lebih bersabar nanti.
"Calon suami kamu, Kendra atau siapapun itu, umurnya berapa?" Tanya Bang Riza mendadak, gue mengalihkan pendangan gue sekilas mendengarkan pertanyaan yang dilayangkan Bang Riza barusan, awalnya gue masih sangat berharap kalau Bang Riza nggak akan membahas apapun sekarang tapi begitu Bang Riza udah melayangkan pertanyaannya, nggak mungkin nggak gue jawab juga.
"Kalau nggak salah hitung umurnya Kak Kendra itu 26 tahun Bang." Jawab gue kurang yakin, ya memang gue kurang yakin karena nggak pasti sama umurnya, lupa ngitung, mendengarkan jawaban gue, Bang Riza malah tersenyum sinis dengan tatapan yang masih fokus memperhatikan jalan, kenapa lagi sekarang? Ada yang salahkah? Atau memang gue yang salah ngasih jawaban barusan? Kenapa malah senyum sinis banget begitu.
"Umur calon suami kamu aja kamu sendiri nggak yakin jadi apa mungkin kamu bisa sangat yakin kalau dia bisa menjadi suami yang baik untuk kamu nanti Ay?" Tanya Bang Riza yang kali ini malah gue balas dengan senyuman miris gue, maksud Bang Riza sekarang apa? Bukannya kita lagi nyari tempat untuk bicara dengan tenang? Kenapa malah di bahas sekarang dan Bang Riza malah melemparkan pertanyaan yang menyudutkan begitu, sabar Ay, ingat kaya Bunda sama Yuni, yang hatinya sedang dikecewakan sama gue sekarang itu Bang Riza, harus sabar.
"Apa umur bisa menentukan sikap seseorang? Yakin atau enggaknya Aya sama Kak Kendra itu bukan berdasarkan berapa umurnya sekarang, Abang sendiri juga nggak kenal Kak Ken itu orangnya seperti apa tapi kenapa Abang malah memberikan penilaian yang sangat merendahkan begitu? Itu nggak adil Bang." Pertanyaan Bang Riza barusan itu sangat mengganggu, nggak seharusnya Bang Riza malah menanyakan umur dan disangkut pautkan dengan keyakinan gue untuk memilih Kak Ken sebagai suami, itu nggak ada hubungannya sama sekali.
"Abang cuma mau memastikan kalau kamu bahagia, Abang mau memastikan kalau laki-laki pilihan orang tua kamu itu adalah laki-laki baik, bukan laki-laki yang cuma mau menyusahkan kamu kedepannya." Ucapan Bang Riza yang semakin membuat gue kebingungan, hah? Ini maksudnya apalagi? Menyusahkan gue kedepannya itu maksudnya gimana coba? Gue sama sekali nggak ngerti.
"Maksud Abang apalagi dengan ngomong kaya sekarang sebenernya? Jangan bikin Aya bingung Bang?" Tanya gue yang memang nggak ngerti, apa maksudnya Kak Ken akan menyusahkan gue?
"Apa pekerjaan calon suami kamu? Dia punya berapa saudara? Apa ekonominya baik? Abang cuma nggak mau ada laki-laki yang mendekati kamu karena harta dan menyusahkan kamu pa_"
"Jadi maksud Abang, Kak Ken hanya mengincar harta keluarga Aya? Ck! Gimana bisa Abang berpikiran sepicik itu?" Potong gue nggak habis pikir dengan jalan pikiran Bang Riza sekarang, itu sama sekali nggak masuk akal menurut gue.