"Ya memang yang namanya perasaan nggak bisa di paksain Ay tapi lo nggak mungkin mengabaikan perasaan Bang Riza seperti yang lo omongin barusankan? Lo nggak bisa ngelakuin itu, bukan berarti Bang Riza udah ngungkapin dan lo udah ngungkapin perasaan lo dan siapa yang lo pilih pekaranya selesai, kesannya kaya nggak menghargai itu namanya." Gue mengerutkan kening gue menatap Yuni sekarang, nggak Bunda, nggak Yuni, kenapa mereka semua mikir kalau sikap gue itu yang nggak baik? Kenapa gue nggak bisa berhenti untuk mikirin perasaan Bang Riza kalau memang gue nggak bisa milih dia? Gimana ya gue jelasinnya? Gue bukannya mengabaikan tapi gue nggak mau nambah beban hidup gue aja.
"Yun! Nggak ada sedikitpun niat gue untuk mengabaikan perasaan Bang Riza, nggak ada sama sekali yang kaya gitu, gue sangat-sangat menghargai lebih-lebih kalau Bang Riza orangnya yang udah gue anggap kaya keluarga gue sendiri, cuma masalahnya sekarang adalah kalau gue udah berusaha menjelaskan dan mencoba membuat Bang Riza ngerti itupun nggak berhasil? Gue harus gimana? Apa gue harus mengikuti keinginan Bang Riza dan mengabaikan perasaan gue sendiri? Itu nggak mungkinkan? Lo sama Bunda pada kenapa coba?" Tanya gue berulang kali, pertanyaan gue selama sama, dimana letak kesalahan dari jawaban gue tadi?
Ini yang nggak habis pikir gue, salahnya gue dimana? Memang salah kalau gue mau mementingkan diri gue sendiri lebih dulu sebelum orang lain? Bukannya Yuni sama Bunda juga yang ngajarin gue untuk membahagiakan diri gue sendiri lebih dulu baru mikirin kebahagian orang lain? Nah salahnya gue dimana lagi coba?
"Gue nggak ngomong lo salah Ay dan gue yakin Bunda juga nggak nyalahin lo cuma_"
"Cuma apa? Cuma yang gue lakuin itu nggak bener makanya lo sama Bunda terus aja ngomong kalau gue nggak bisa ngelakuin itu?" Potong gue cepat yang memang udah terlanjur kesal sama Yuni sekarang, niat awal mau cerita lah ujungnya malah di omelin lagi sama ni anak, padahal semalam gue udah kenyang banget di omelin sama Bunda, nggak bisa gue tambahin lagi.
"Nahkan belum juga gue ngomong lo udah ngegas duluan, lo dengerin dulu penjelasan gue baru lo narik kesimpulan sesuka hati, lo bukannya salah tapi lo belum paham aja sama apa yang di rasain Bang Riza sekarang makanya lo terkesan nggak terlalu peduli, Bang Riza itu sekarang lagi kecewa, galau, sedih udah pasti, harapannya nggak terwujud, itu yang Bang Riza rasain dan udah jelas juga kalau itu nggak gampang." Ya gue juga tahu kalau itu yang Bang Riza rasain terus pertanyaannya sekarang gue memangnya bisa ngelakuin apa? Menghibur? Apapun yang gue omongin Bang Riza juga nggak akan denger untuk saat ini.
"Terus lo tadi ngomong sama gue kalau lo udah menganggap Bang Riza layaknya keluarga, sekarang gue tanya, memang lo bisa nggak mikirin keluarga lo kalau mereka lagi kesusahan?" Sambung Yuni nanya kaya gitu ke gue? Gue menggeleng pelan untuk pertanyaan Yuni barusan, udah jelas jawabannya gue nggak akan bisa, gue nggak mau keluarga gue dalam kesulitan atau kesusahan sekalipun, gue nggak mua semua keluarga gue ngerasain itu.
"Terus gue harus gimana Yun? Bang Riza mau gue jelasin apapun sekarang juga nggak bakalan mau denger, gue udah terlanjur buruk, menghibur keluarga gue memang penting tapi kalau Bang Riza nggak mau terima gimana? Gue yang bakalan pusing sendiri." Dan Yuni langsung nepuk lengan gue begitu gue mengeluh tentang hal yang kaya gini.
"Makanya gue bilang kalau belajar itu jangan setengah-setengah, lo inget gue pernah bilangkan kalau pentingin dulu kebahagiaan lo sendiri baru orang lain? Nah itu bener tapi bukan berarti demi mementingkan kebahagiaan lo sendiri, bahagia orang lain lo kesampingkan, Bang Riza keluarga lo jadi udah pasti lo mau Bang Riza bahagia jugakan? Lo sama Bang Riza bisa bahagia bareng-bareng." Jelas Yuni ya memang nggak ada yang salah, gue juga mengiakan hal ini dalam hati, gue maunya Bang Riza juga ikut bahagia sama seperti apa yang gue rasain sekarang tapi masalahnya, Bang Riza nggak akan terima dengan keputusan gue dan malah ngomong sesuka hatinya kaya semalam.
"Yaudah gue dengerin omongan lo jadi sekarang kasih tahu gue gimana caranya gue sama Bang Riza bisa bahagia bareng-bareng kalau jalan kita berdua aja nggak sama Yun? Bang Riza malah mau gue ngebatalin pertunangannya, lo kan denger gue ngomong apaan tadi, gue sama Bang Riza nggak sejalan, kita berdua berlawanan arah sekarang." Ucap gue jadinya malah makin bingung sendiri, Yuni kalau memang mau ngomelin, ngasih nasehat itu harus sepaket sama solusinya juga, gue nggak terima kalau setengah-setengah.
"Caranya? Caranya itu walaupun lo sama Bang Riza nggak sejalan tapi jangan pernah mengabaikan perasaan Bang Riza, lo tetap harus berusaha memberikan Bang Riza penjelasan, walaupun Bang Riza nggak terima tapi lo tetap harus nunjukin ke Bang Riza kalau lo peduli, gue yakin saat Bang Riza melihat ketulusan lo, saat Bang Riza udah bisa mengatur perasaannya, perlahan tapi pasti perasaan Bang Riza akan membaik, gue cuma nggak mau dalam proses Bang Riza belajar menerima kenyataan, nggaka da sedikitpun usaha lo disana, lo itu keluarganya." Gue menyandarkan tubuh gue dikursi gue sekarang mendengarkan kalimat terkahir Yuni barusan, beneran bikin pemikiran gue bisa lebih terbuka, bisa bikin gue melihat masalah dari sudut yang jauh lebih berbeda.
"Apa lo udah ngerti sekarang? Yang Bunda sama gue maksud itu bukan untuk menyalahkan lo tapi supaya lo lebih peka dengan perasaan orang-orang disekeliling lo, lo orang baik dan Bang Riza juga orang baik, nggak ada salah satu diantara kalian berdua yang berhak terluka, lo harus banyak bersabar sama Bang Riza, dengerin omongannya dan terus usaha memberikan penjelasan, penjelasan terbaik ya memang milik lo sendiri dan yang terpenting penjelasan yang lo omongin dengan hati, akan sampai ke hati juga." Gue tersenyum kecil menatap Yuni sekarang, kadang sikap Yuni memang terlalu blak-blakan, Yuni selalu melakukan apapun yang dia mau, omongannya nggak ada yang di tahan tapi begitu masalah kaya gini muncul gue baru sadar kalau punya teman, sahabat yang bisa mengerti diri lo dengan baik itu penting, kadang lo sendiri nggak paham lo itu seperti apa.
"Intinya nggak harus jatuh dulu baru lo bisa ngerasain sakit karena ngeliat orang-orang yang udah jatuh duluan, lo sendiri harus udah bisa membayangkan rasa sakitnya seperti apa, catat itu kata-kata dari gue." Yuni nepuk pelan lengan gue cukup keras sekarang, nepuk mah nepuk tapi kekuatannya juga harus di batasi Yuni, sakit lengan gue.
"Nimpuk lengan gue terus lo, apa lengan lo juga harus gue timpuk dulu supaya lo tahu perihnya kaya apa?" Tanya gue balik, Yuni langsung tertawa lepas mendengarkan pertanyaan gue, tangan ni anak langsung berubah mengusap lengan gue yang di timpuknya dari tadi, lagian, kalau udah ngomelin bukannya pakai mulut aja tapi tangan juga main melayang semena-mena ke lengan orang, kan minta di siram air es.
"Lo mah sensian banget, kan gue baik, ngingetin lo banyak hal, nggak cuma dalam kebaikan tapi dalam keburukan juga, jangan lihat sisi jeleknya aja tapi lihat dari sisi bagusnya juga, gue ini paket lengkap." Ya, gue hanya bisa ikut tertawa kecil mendengarkan celotehan Yuni sekarang, bener sih memang, masih gue tertawa sembari sesekali mengusap mukanya Yuni, tiba-tiba ada suara lain yang manggilin nama gue dari arah pintu kelas sekarang.
"Ay! Ada Kak Riza yang nyariin lo di luar tuh." Celutuk salah satu teman sekelas gue.